Setelah bertempur selama hampir setahun, sebagian besar pemimpin perlawanan berhasil ditangkap dan beberapa di antaranya terbunuh. Pada 16 Juli 1768, Prabujaka menyerah di Dapat, pertahanan terakhirnya, terletak di tenggara Dapat, di Kabupaten Malang. Raden Mas dan Tirtanagara, yang bersembunyi di tempat sama, berhasil melarikan diri, namun keduanya terluka serius. Dalam penyerbuan ini, 25 orang Prabujaka terbunuh dan beberapa wanita dan anak-anak tertangkap, di antaranya terdapat istri dan anak Prabujaka, salah satunya mencoba membunuh Letnan Meijer. Laporan pertama tentang penangkapan Singasari dikirim oleh Letnan Meijer:

“Pada hari ke-16 bulan ini kami mendapatkan keberuntungan; kami menyerbu posisi Pangeran Prabujaka dan Raden Mas serta Tirtanagara di Dapat, yang terletak di tenggara Lodalem, di pegunungan (sebelah selatan Malang). Pangeran (Prabujaka) dengan para istrinya, tiga anak, dan lima wanita lainnya berhasil ditawan dan saya membawa mereka dari sini. Raden Mas dan Tirtanagara tidak berhasil ditangkap. Mereka berhasil melarikan diri (namun) dengan banyak luka. Raden Mas terkena beberapa tembakan, namun dia belum mati […]. Di pihak musuh, 25 orang terbunuh dan banyak yang terluka, namun syukurlah di pihak kami tidak ada seorang pun yang terbunuh atau terluka […]. Kini, Raden Mas dan Tirtanagara tidak lagi mengetahui jalan untuk melarikan diri, mata-mata saya sendiri berharap mereka dapat segera ditangkap. Sementara itu, saya tidak mempercayai satu orang pun di sini dan saya harus menjaga hidup saya sendiri, pagi ini anak perempuan Pangeran (Prabujaka) mencoba membunuh saya dengan sebilah keris”.

Prabujaka ditangkap bersama dengan istrinya, dua anak perempuan dan anak laki-laki yang masih kecil. Kekuatan koalisi Belanda juga menahan saudara Malayakusuma, Raden Sastranagara, anak laki-lakinya dan juga beberapa wanita dan anak-anak dari keluarga Malang dan Lumajang. Mereka segera dikirim ke Semarang dan tiba di sana pada tanggal 5 Agustus 1768. Tanpa membuang-buang waktu Gubernur membentuk sebuah komisi khusus, yang juga terdiri dari Bupati Semarang, untuk memutuskan hubungan yang layak bagi para pemberontak yang berhasil ditangkap. Di hadapan komisi tersebut Prabujaka mendeklarasikan bahwa ia akan menyerah pada Susuhunan Mataram, meski Susuhunan sendiri telah mengirim pesan pada Gubernur bahwa Kompeni tidak boleh menunjukkan belas kasihan padanya, dan pembuangan harus menjadi pilihan pertama. Sebuah permintaan khusus juga dikirim oleh Sultan, yang sangat ingin melihat saudara tirinya itu dikirim ke Jogjakarta di mana ia sendiri akan melaksanakan hukuman tersebut, atau sebaliknya Kompeni memberikan hukuman setimpal padanya.

Pada Agustus 1768, tiga puluh hari setelah ayahnya tertangkap, Raden Mas menyerahkan diri pada prajurit Sultan bersama dengan tiga orang saudaranya dan dua orang wanita. Beberapa hari sebelumnya, ia dikepung oleh prajurit Kompeni di Rawa (kini Tulungagung), namun masih bisa lolos. Dalam pelarian terakhirnya ini, di sekitar Rawa, prajurit Sultan mendekatinya dengan sembunyi-sembunyi dan membujuknya untuk menyerah pada Sultan, dengan menjanjikan untuk membiarkan tetap hidup. Raden Mas, yang terluka serius, akhirnya menyerah dan pergi bersama mereka ke Jogjakarta. Di tengah jalan menuju Jogjakarta, saudara Raden Mas yang berusia tiga tahun meninggal, dan Sultan memberi perintah untuk menguburkannya di Pasar Gede. Sultan mengabarkan pada Gubernur Semarang tentang penangkapan Raden Mas dan saudaranya ini, dan meminta sang Gubernur untuk mengampuni Raden Mas dan keluarganya. Sultan juga menyampaikan keinginannya untuk merawat Raden Mas, atau setidaknya saudaranya yang termuda yang saat itu masih remaja, di Jogjakarta. Permintaan ini ditolak Gubernur, dengan penuh kesopanan dan kebijakan, dan menyatakan bahwa Raden Mas jauh lebih berbahaya daripada ayahnya, Prabujaka, sehingga pantas menerima hukuman dari Kompeni. Ia mengirim Raden Mas dan saudaranya ke Semarang di bawah pengawalan Pangeran Jayakusuma, Tumenggung Kartinagara, dan Letnan Reigers. Penyerahan Raden Mas dan saudaranya dilakukan di atas kapal ‘t huis ten Donk, di mana ibunya dan saudara-saudaranya yang lain serta beberapa pengikut ayahnya juga ditahan. Sementara itu, Prabujaka sendiri bersama dengan dua orang anak perempuannya dan seorang putra remajanya dikirim ke Batavia dengan menggunakan kapal De Efprins.

Anggota keluarga Singasari (Pangeran Prabujaka) yang ditahan tahun 1768 adalah: Pangeran Prabujaka, Raden Mas, Raden Ayu Rumia (istri ketiga Raden Mas dengan satu anak laki-laki dan satu punakawan), Suradiraja (patih Pangeran Prabujaka), Nyai Suradiraja (istri Suradiraja), Wongsanagara (patih Raden Mas), Mawaka (istri Wongsanagara), Koplang (putri Wongsanagara), Janapura (putri Wongsanagara), Nata dan Gombang (punakawan Pangeran Prabujaka).

Letnan Gondelag bersama dengan enam prajurit Belanda dan beberapa prajurit pribumi terus bekerja mencari Malayakusuma di sepanjang pesisir selatan Jawa. Informasi terakhir menyebutkan bahwa Malayakusuma dan keluarganya menyembunyikan diri di Blandit, terletak di barat daya Malang. Setelah seminggu berjalan kaki, Gondelag tiba di Blandit di mana tidak ada seorang pun yang ditemukan kecuali seorang tua bernama Trunala, salah seorang pengikut Malayakusuma. Dari orang ini mereka mendengar bahwa Malayakusuma telah meninggalkan tempat persembunyian terakhirnya tiga pekan sebelumnya. Mereka meneruskan pencarian mereka ke barat, dan akhirnya menemukan Malayakusuma bersama keluarganya, sebagian besar dari mereka wanita dan anak-anak, di Sabak dekat Lodalem. Tanpa perlawanan berarti, Malayakusuma menyerah dan meletakkan senjata. Pada 7 November 1768, di tengah perjalanan ke Malang, pasukan tersebut memutuskan untuk beristirahat di pantai, dan di tempat ini Malayakusuma menemukan kesempatan untuk mengekspresikan perubahannya. Ia merebut sebatang tombak dan membunuh Kopral Smit van Stam. Komandan prajurit dari Surabaya mencoba campur tangan dan merebut kembali tombak yang jatuh, namun tiba-tiba salah satu punakawan melompat ke arah Malayakusuma dengan membawa keris di tangannya dan membunuhnya. Tubuh Malayakusuma dilemparkan ke laut, sementara tubuh Smit dikuburkan di tempat itu. Pada tanggal 12 November mereka tiba di Wanapala, di mana dua orang anak Malayakusuma yang masih muda dibunuh, sementara yang lainnya, enam wanita, satu anak dan seorang budak dikirim ke Surabaya.

Sementara itu, Tirtanagara ditawan oleh pasukan Kompeni di bawah pimpinan Vaandrig Mirop di Antang. Di Blambangan, para anggota keluarga Kartayuda lainnya, Bupati Lumajang, Raden Tirtakusuma, dan Raden Nurdin (anak), dan Selakandaga (saudara tiri) Ekalaya (menantu), dan Natapura, ditangkap. Dua orang yang terakhir merupakan ketrurunan Surapati. Di sisi lain Malang, Mas Brahim (saudara Kartanagara, anak Surapati), Jayanagara, dan Suranagara (saudara Malayakusuma) dan keluarga mereka juga ditawan.

Sumber:
Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan (Java’s Last Frontier: The Struggle for the Hegemony of Blambangan 1763-1813)

 

Diunggah dari: ngalam.id

Ditulis oleh: NgalamediaLabs

Judul asli: Berakhirnya perlawanan Malayakusuma di malang

Gambar sampul: Ilustrasi yang menggambarkan Tropponegro dan Gondelag membaca surat sementara seorang Tumenggung dan Rangga duduk bersila.