Sebagai sebuah istilah, kata ‘alun-alun’ telah dikenal semenjak masa perkembangan bahasa Jawa Kuna, setidaknya sejak abad ke-11 Masehi. Kata yang secara harafiah berarti lapangan persegi di depan istana (Zoetmulder, 1995: 27) ini telah kedapatan dalam sejumlah susastra arkhais, antara lain dalam kakawin Ramayana Jawa Kuna (26.24), Arjunawiwaha (20.5), Hariwangsa (2.10), Bharatayuddha dan Nagarakretagama (9.2), Ramaparasuwijaya (15.9) serta kidung Ranggalawe (3.2) dan Wangbang Wideya. Selanjutnya, istilah Jawa Kuna ‘alun-ulun’ diserap dalam bahasa Indonesia, dengan arti yang kurang lebih sama, yaitu tanah lapang yang luas di muka keraton atau di muka tempat kediaman resmi bupati (KBBI, 2002: 33). Berdasarkan telaah etimologis tersebut. jelaslah bahwa istilah ‘alun-alun’ adalah orisinal Jawa.

Dalam sejumlah sumber data susastra, alun-alun dinyatakan sebagai salah satu bagian atau sarana di luar istana (rajya, kadatwan, nagara, atau pura). Alun-alun banyak dibicarakan dalam kaitan dengan komponen lain, yaitu watangan (Sedyawati, 1994:265-278, 306). Salah sebuah sumber data tekstual yang menyebut tentang alun-alun itu adalah Nagarakretagama (9.2). Menurut susastra karya rakawi Prapanca yang selesai disurat pada tahun 1365 M, alun-alun adalah komponen integral di Wilwatikta, yakni ibukota Majapahit semasa pemerintahan raja Hayam Wuruk.

Pada susastra ini, alun-alun disebut dalam konteks tataletak (0) dan fungsi birokratis dari bangunan-bangunan utama di bagian dalam (jeroan) istana Wilwatikta, dengan terjemahan kutipan teks sebagai berikut ‘demikianlah yang terbaik diantara mereka, menempati watangan di alun-alun, mereka tanpa putus-putus tekun menjalankan tugasnya (nihan tadinya munggwing watanganalun-alun tan pegat lot manganti)’. Bagian lain kakawin Nagarakretagama (9.3) mendeskripsikan watangan sebagai berada di muka manguntur: balai agung manguntur dengan balai witana berada di tengah menghadap ke padang watangan …… (halwa gimbarikang wangunturanatur disi watanganika-/-witana ri tengah….) .

Perihal watangan dalam kutipan teks di atas, Riana (2009:76) menggambarkannya sebagai halaman yang amat luas berbangun segi empat. Sementara Slametmulyana (2006: 342) melukiskannya sebagai padang yang meluas ke empat arah. Watangan adalah bagian tertentu dari suatu keraton (istana), padamana raja menerima tamu-tamunya (Zoetmulder, 1995:1401-1402). Lokasinya di dekat atau tepatnya di depan pura (jro, kadatwan). Begitu keluar dari pura, maka sampailah orang di watagan, yakni halaman di dalam istana yang ada pasirnya, diperlengkapi dengan pintu gerbang ,yang di bagian tengahnya terdapat mandapa, padamana kegiatan gulat diselenggarakan.

Hal lain yang perlu untuk dicermati adalah kata ‘alun-alun’ disebut dengan didahului oleh kata ‘watangan’. Slamet Mulyana (2006:343) menterjemah perkataan ‘watanganalun-alun’ dengan: lapang watangan, sedangkan I Ktut Riana (2009:81) menterjemahkan dengan: pelataran alun-alun. Lingga (kata dasar) ‘watang’ dari kata jadian ‘watangan’ menunjuk pada galah, atau tepatnya sejenis tombak atau lembing, yang barangkali terbuat dari bahan kayu atau bambu dengan ujung besi. Dinamai ‘watangan’, lantaran pada hari tertentu dalam setiap minggu, di tanah lapang itu (alun-alun) lazim diadakan kegiatan olah kanuragan atau gladi keprajuritan, dimana para prajurit dipersenjatai dengan watang (tombak, lembing).

Terkait itu Epos Melayu Hikayat Hang Tuah (105) mengabarkan bahwa di istana Majapahit lazim diselenggarakan hiburan berupa pertandingan tombak di atas kuda oleh para pemberani muda di alun-alun kerajaan pada sekitar pukul setengah empat sore. Perihal ini untuk kali pertama dilaporkan oleh pencatat bekebangsaan Belanda di Tuban pada tahun 1599 dan kemudian di banyak istana lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Reid, 1992:216). Pada masa kasultanan Mataram, perlombaan mingguan oleh para prajurit bersenjata tombak (watangan) ini rutin diselenggarakan di hari Sabtu atau Senin, sehingga acap dinamai acara ‘Senenan’.

Sebagai tempat yang difungsikan untuk olah kanuragan dan sekaligus hiburan, pada istana-istana Jawa abad ke-18 lazim diadakan acara ‘rampogan’, padamana seekor harimau dilepas dari dalam beberapa kandang kecil ke tengah arena pada lapangan luas (alun-alun) yang dikelilingi oleh ratuasan lelaki bertombak, dan binatang itu dikejutkan agar lari menuju tombak-tombak mereka (Reid, 1992:216; Raffles,2008:241). Dalam perkembangannya, acara rampok macan tidak hanya digelar di alun-alun kerajaan, namun juga di alun-alun kabupaten.

Serupa itu, tradisi lisan Jawa mengkisahkan tentang pertandingan antara manusia melawan binatang dalam bentuk yang sedikit berbeda, yaitu antara Joko Tingkir (Maskarebet) dengan ‘kerbau gila’ di alun-alun kasultanan Demak. Acara serupa – namun bukan manusia melawan binatang tertentu, melainkan antar binatang – juga lazim dipentaskan di sejumlah alun-alun. Adu banteng misalnya, merupakan hal umum yang diadakan di Pulau Madura dan di bagian timur Pulau Jawa (Raffles, 2008:242).

Semoga tulisan ringkas bersahaja ini membuahkan makna.
Salam budaya bhumiputra ‘Nusantarajayati’.
Nuwun.

 

Diunggah dari: akun FB Dwi Cahyono

Ditulis oleh: pak Dwi Cahyono

Judul asli: Gambaran Alon-alon pada Masa Hindu-Buddha dan Awal Perkembangan Islam dalam Sumber Data Tekstual

Gambar Sampul: Alun-alun jaman Mataram