Pada waktu Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk, raja sering mengadakan perjalanan kenegaraan meninjau daerah-daerah wilayah Majapahit, disertai para pembesar kerajaan. Kakawin Nāgarakŗtāgama mencatat perjalanan raja Hayam Wuruk ke Pajang pada tahun 1351 M, ke daerah Lasêm pada tahun 1354 M, dan ke daerah pantai selatan (Lodaya) pada tahun 1357 M. Kemudian ia mengadakan perjalanan menuju daerah Lamajang pada tahun 1359 M, dan daerah Tirib dan Sêmpur pada tahun berikutnya. Daerah Balitar dikunjunginya pada tahun 1361 M, dan pada tahun 1363 M Hayam Wuruk mengunjungi Simping sambil meresmikan sebuah candi yang baru selesai dipindahkan.
Judul asli dari Nāgarakŗtāgama adalah Deśawarnana yang artinya Sejarah Desa‐Desa karya Prapañca. Sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, naskah ini kemudian dinamakan Nāgarakŗtāgama yang artinya Kisah Pembangunan Negara. Deśawarnana atau Nāgarakŗtāgama berisi uraian tentang hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, adat istiadat, candi makam para leluhur, desa-desa perdikan, keadaan ibu kota, dan keadaan desa-desa sepanjang jalan keliling Sang Prabu. Berikut adalah perjalanan Hayam Wuruk ketika mengunjungi beberapa tempat di daerah Malang sekarang pada tahun 1359 M berdasarkan Kakawin Nāgarakŗtāgama.

Pupuh 35

1. Sampai di Pasuruhan membelok ke selatan menuju Kepañjangan. Kemudian mengikuti jalan raya, rombongan bersama-sama tiba di Andoh Wawang serta Kêdhung Pêluk dan Hambal, desa terakhir yang dicatat. Raja langsung menuju tempat tinggalnya di istana Singhasāri.

2. Tetapi Prapañca menghiburkan diri di sebelah barat Pasuruhan, berkunjung ke biara Dharbaru, yang terletak di tanah milik Desa Hujung. Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah biara.

4. Sebabnya terburu‐buru berangkat setelah dijamu bapa asrama. Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singhasāri. Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kêdhung Biru, Kaśurāngganān dan Burêng.

Tidak diketahui berapa lama Hayam Wuruk tinggal di Singhasari, Prapañca hanya menyebutkan bahwa sehabis melakukan puja bhakti di sebuah dharma, raja bersantai-santai selama beberapa waktu sambil menikmati keindahan alam di Kêdhung Biru dan Burêng. Pigeaud berpendapat bahwa dharma yang dimaksud adalah candi milik buyut Hayam Wuruk, Sri Kretanagara, yang wafat pada 1292. Kiranya tidak perlu diragukan lagi bahwa pusat kerajaan Singhasāri dahulu terletak di Singosari sekarang, 10 km di sebelah utara Kota Malang. Sedangkan Kêdhung Biru dapat disamakan dengan Dusun Biru di Desa Gunungrejo, 1,5 km di sebelah baratlaut Candi Singosari. Ternyata letak Dusun Biru tepat di tepi jurang atau kedung, yang memiliki sejumlah sumber air jernih. Salah satunya adalah Sumber Biru yang masih memperlihatkan peninggalan purbakala berupa susunan bata merah yang kini terpendam di bawah struktur bangunan baru. Kern mengaitkan Hujung dengan Dusun Ngujung di Kecamatan Singosari, sedangkan Hadi Sidomulyo berpendapat Hujung terletak di Dusun Ngujung, Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Pasuruan.

Robson beranggapan bahwa Kaśurāngganān terletak di Kêdhung Biru. Tetapi Bernet Kempers menghubungkan Kaśurāngganān dengan monumen bernama Candi Sumberawan, 4 km di sebelah baratlaut Candi Singosari. Burêng dapat diidentifikasikan dengan pemandian alam Wendit di Desa Mangliawan, 5 km di sebelah timur laut pusat Kota Malang, termasuk wilayah Kecamatan Pakis. Saat ini di tengah pemandian masih terdapat bekas reruntuhan candi, sejumlah batu peninggalan masih tersimpan di sebuah bangunan tidak jauh dari lokasi pemandian.

Pupuh 36

1. Pada subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagênêngan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.

2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa‐Budha dan para bangsawan berderet-deret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahap Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Letak asli dharma Kagênêngan belum diketahui dengan pasti, tetapi kiranya lokasinya dahulu tidak jauh di sebelah selatan Kota Malang sekarang. Salah satu nama tempat yang menarik perhatian adalah Desa Genengan di Kecamatan Pakisaji, 8 km dari pusat kota di jalan raya menuju Kepanjen. Di desa tersebut pernah ditemukan peninggalan purbakala berupa lingga dari batu andesit. Ada juga sebuah dusun bernama Kagenengan di Desa Parangargo, termasuk Kecamatan Wagir. Di bagian selatan dusun tersebut tampak sebidang tanah tinggi yang diapiti dua sungai disebut Sokan oleh penduduk setempat. Di situ ditemukan pecahan batu bata berukuran besar atau pun fragmen batu termasuk sebuah lingga kecil. Tak jauh dari situ terdapat Gunung Katu yang banyak ditemukan benda arkeologis juga.

Pupuh 37

1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.

2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah‐tengah, terlalu indah. Seperti Gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.

3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.

4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Di luar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.

5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.

6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.

7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Kidhal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajaghu. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singhasāri, belum lelah telah sampai Burêng.

Dharma di Kidhal dapat diidentifikasikan dengan monumen peninggalan bernama Candi Kidal, yang terletak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, 11 km di sebelah tenggara Kota Malang. Menurut Prapañca, dharma di Kidhal didirikan untuk Anusanatha yang menggantikan Ranggah Rajasa sebagai raja di Tumapel dan wafat pada 1170 S (1248 M). Dalam perjalanannya menuju Kidhal, diperkirakan Hayam Wuruk menyeberangi Sungai Brantas di sekitar Desa Kendalpayak dan mengikuti rute yang menyisir bagian selatan Gunung Buring melalui Kecamatan Pakisaji dan Tajinan sekarang. Kemudian, setelah berhenti sebentar di dharma milik Anusanatha, ia langsung melanjutkan perjalanan dan tiba di Desa Tumpang yang terletak 6 km di sebelah timur Kidal. Di desa tersebut terdapat bangunan kuno disebut Candi Jago, yang tentunya tidak lain daripada dharma Jajaghu yang digambarkan oleh Prapañca.

Pupuh 38

1. Keindahan Burêng: telaga bergumpal air jernih. Kebiru‐biruan, di tengah: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.

2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.

3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa‐gesa. Menuju Singhasāri, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Budha, sarjana pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.

Setelah bermalam di Jajaghu, pada pagi harinya Hayam Wuruk kembali ke Singhasāri melalui Burêng. Untuk menuju ke Singhasāri dari Burêng kemungkinan menjurus langsung ke utara dengan menyisir bagian timur Kota Malang sekarang, melalui Desa Mangliawan, Tirtomoyo, Banjararum, dan Watugede. Di sepanjang desa-desa tersebut sejumlah peninggalan purbakala masih dapat ditemukan kembali.

Pupuh 50

1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu. Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta. Dengan bala ke hutan Nandaka, rimba belantara. Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.

Pada waktu kembali ke Singhasāri, Prapañca berkunjung ke seorang pendeta Buddhis (sthāpaka) bernama Dhang Ācārya Ratnāngśa yang usianya lebih dari 1000 bulan. Tokoh ini menjabat pemimpin biara di Mungguh, dan telah diberikan tugas terhormat sebagai pengawas dharma di Singhasāri. Adapun maksud kunjungan Prapañca adalah memohon penjelasan tentang sejarah para leluhur raja Hayam Wuruk, termasuk asal mula wangsa Rājasa di sebelah timur Gunung Kawi. Keterangan yang diberikan kemudian oleh pendeta Ratnāngśa kini menjadi salah satu pegangan utama bagi para ahli sejarah Singhasāri dan Majapahit. Kisah sejarah wangsa Rājasa merupakan sebuah selingan dalam karya Prapañca, yang dilanjutkan dengan gambaran tentang ekspedisi perburuan binatang buas di hutan bernama Nandaka. Lokasi hutan tersebut tidak diketahui, kemungkinan di sekitar daerah Singosari sekarang.

Pupuh 55

2. Tersebutlah beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura. Tatkala subakala berangkat menuju Bañu Hangêt, Banir dan Talijungan. Bermalam di Wêdhwa-wêdan, siangnya menuju Kûwarāha, Cêlong dan Dadamar. Garantang, Pagêr Talaga, Pahañjangan, sampai di situ perjalanan beliau.

3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut Wayuha terus ke Balanak. Menuju Pandhakan, Bhanarāgi, tiba di Padāmayan beliau lalu bermalam. Kembali ke baratdaya menuju Jajawa di kaki Gunung Kumukus. Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi makam.

Sehabis ekspedisi perburuan sang raja memutuskan untuk pulang. Jalan yang ditempuh pada hari pertama menuju ke arah utara melalui Bañu Hangêt, Banir dan Talijungan, sampai di Wêdhwa-wêdan, tempat rombongan bermalam. Di antara nama-nama tempat yang dilewati sepanjang jalan tersebut, hanya Wêdhwa-wêdan yang dapat diidentifikasikan pada masa sekarang. Kiranya posisinya berada di Bukit Wedon, yang tampak di sebelah barat jalan raya di Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, 9 km di sebelah utara Singosari. Pada Deśawarnana 73: 3 nama Wêdhwa-wêdan tercatat di antara 27 sudharma haji yang didirikan untuk para raja dari wangsa Rājasa serta leluhurnya. Tidak jelas tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, tetapi dapat diduga bahwa dharma di Wêdhwa-wêdan mewakili salah seorang penguasa di Tumapêl.

Ada kemungkinan Bañu Hangêt yang menunjukkan sebuah sumber air panas, dapat diidentifikasikan dengan pemandian kuno di Dusun Polaman yang masuk Desa Bedali. Kini sumber di Polaman hanya mengeluarkan air dingin. Di Polaman masih dapat ditemukan peninggalan purbakala berupa batu-batu candi, baik di sekitar pemandian maupun di sebuah gua yang terletak pada jarak 350 m di sebelah baratlaut. Seandainya Bañu Hangêt terletak di Dusun Polaman sekarang, kedua desa Banir dan Talijungan perlu dicari di sekitar pusat kecamatan Lawang. Kemungkinan lain Hayam Wuruk melewati situs yang kini dikenal dengan Candi Sumberawan, termasuk Desa Toyomarto, karena dulunya terdapat sumber air panas yang dapat disamakan dengan Bañu Hangêt

Nama Dadamar ditemukan kembali di Dusun Damar, termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Posisinya adalah 5,5 km di sebelah utara Bukit Wedon (Turirejo). Karena itu, kiranya Kûwarāha dan Cêlong terletak di jalan antara Desa Turirejo di Kecamatan Lawang dan Desa Sekarmojo di Kecamatan Purwosari.

 

Sumber:
Napak Tilas Perjalanan Pu Prapañca – Hadi Sidomulyo
Tafsir Sejarah Nagarakretagama – Prof. Dr. Slametmuljana
Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno

 

Baca juga kisah memilukan tentang napak tilas ke salah satu petilasan yang pernah disinggahi hayam Wuruk oleh bapak Teguh Hariawan di tautan ini.

 

Diunggah dari: ngalam.id

Ditulis oleh: nGalamediaLABS

Judul asli: Kunjungan Hayam Wuruk di daerah Malang

Ilustrasi sampul: Gambar dari buku Oud Soerabaia oleh von Faber yang melukiskan rombongan Hayam Wuruk blusukan keliling negeri