Waranugraha Ken Angrok, Pernyataan Balas Budi buat Bapa Bango Samparan

A. Gambaran Paleo-ekologis

Pada abad VIII dan beberapa abad sesudahnya, boleh jadi masih terdapat “telaga purba” di wilayah yang kini bernama “Telogomas”. Toponimi “Telogomas”, yang artinya: telaga emas, menyiratkan gambaran peleo-ekologinya sebagai areal yang memiliki genanganan air cukup besar, menyerupai telaga. Telaga purba ini adalah sisa dari Danau Purba Malang, yang menggenangi suatu bentang geografis dengan topografi bergelombang. Selain itu, daerah ini dilintasi oleh sejumlah sungai, seperti Kali Metro, Brahala, Brantas beserta anak-anak sungainya. Untuk keperluan agraris dan kebutuhan rumah tangga, air dari kali dan telaga ini amat dibutuhkan. Permukiman kuno di pusat watak Kanyuruhan oleh karenanya cenderung berada di sekeliling telaga purba Tlogomas, sehingga kehidupan masyarakat di pusat watak Kanyuruhan ini cukup alasan untuk disebut “hydrolic society”.

Kata “mas” dalam Telogomas bisa menunjuk: (1) kata benda, yang berarti emas, atau bisa juga merupakan (2) kata kiasan dalam arti indah. Jika menunjuk pada logam mulia, yaitu emas, maka bisa dibayangkan bahwa tanah di daerah ini mengandung emas. Kandungan emas darinya tak musti diartikan bahwa lingkungan alamnya mengandung mineral emas. Bisa jadi butiran lembut emas itu berasal dari perhiasan atau artefak kuno berbahan emas di dalam tanah, yang mengalami keausan lantas terurai menjadi butiran-butiran emas.

Berita tentang penemuan emas budo oleh warga setempat sering menyeruak. Yang tidak kalah menariknya adalah hingga 1960an masih terdapat kegiatan mendulang emas pada persawahan berair di utara jalan poros antara Pasar Dinoyo s.d. Perumahan Tata Surya. Lebih belakangan, yakni hingga tahun 1980an, ketika hujan tiba warga setempat acapkali menempatkan magnit di galengan sawah atau di selokan berjeram kecil. Jika beruntung didapatkan butiran-butiran emas lembut yang menempel magnit. Kemungkinan adanya butiran emas terurai di Tlogomas dan sekitarnya, yang muasalnya dari perhiasan kuno yang telah aus bisa difahami, mengingat bahwa dalam kurun waktu panjang (abad X-XV M) daerah ini menjadi pusat pemerintahan Watak Kanyuruhan. Berarti merupakan permukiman ramai di suatu perkotaan kuno. Diantaranya tinggallah orang-orang berada, yang berkemampuan mengoleksi logam mulia sebagai perhiasan.

Bangunan berpanggung adalah jenis arsitektur yang relevan dengan areal yang rentan tergenang air, yakni debit pasang di musim penghujan dan sebaliknya surut di musim kemarau. Tinggalan arkeologi berupa pelandas tiang (umpak) dari batu andesit menyerupai waditra gong di Cungkup Watu Gong adalah jejak tertinggal yang berkenaan dengan rumah berpanggung jaman Prasejarah. Kiranya konstruksi rumah panggung terus digunakan hingga Masa Hindu-Buddha. Umpak umpak di Punden Candri semula juga berfungsi sebagai pelandas tiang untuk bangunan berpanggung Masa Hindu-Buddha, yang letaknya tidak jauh dari lokasi telaga purba Tlogomas.

Desa Tlogomas diapit oleh dua buah sungai, yaitu Brantas pada sisi utara dan Metro di sisi selatan dan barat. Selain kedua sungai besar ini, terdapat sejumlah kali kecil, yang konon berfungsi untuk irigasi ataupun drainase. Tempat yang diapit oleh dua sungai sejak dulu dipandang sebagai daerah penting. Daerah Doab misalnya, diapit oleh Sungai Jumna dan Jamuna, yakni dua cabang Silu Gangga. Tempat yang demikian juga terdapat di Bali, contohnya adalah Badahulu (Bedulu), padamana terdapat banyak tinggalan arkeologi lintas masa. Serupa itu terdapat di apitan Kali Opak dan Elo, dimana Candi Borobudur, Mendut dan Pawon berada. Daerah yang demikian bukan hanya diyakini sebagai daerah suci, namun sekaligus strategis untuk beragam keperluan. Pada masa selanjutnya, posisi strategis Tlogomas, Dinoyo dan Katawang Gede dikuatkan oleh adanya jalur poros yang menghubungkan pusat pemerintahan kerajaan Singhasari di timur dan Kadiri (Panjalu) di barat.

Berkenaan dengan instalasi drainase, di sub-area barat didapati jejak lama yang berupa saluran air di permukaan tanah (weluruan) dan di bawah permukaan tanah (arung) . Ujung terowongan air (arung) didapati di lereng Kali Brantas dan Metro. Fungsinya untuk memutuskan air yang mengantong di cekungan tanah pada musim penghujan untuk dialirkan ke sungai. Beberapa arung hingga kini masih berfungsi, seperti pada utara situs Karuman dan di utara DITAS (Dinoyo Tanah Agung Squere). Arung yang disebut terakhir berasal dari Kampung Urung-urung menuju aliran Brantas (± 500 m). Kata kuno “arung” menjadi “urung” atau “urung-urung” dalam sebutan sekarang. Jejak arung acap ditemukan, misalnya ketika penggalian fondasi Pasar Dinoyo tahun 1980an dijumpai dua buah arung yang mengarah ke Brantas. Pada awal tahun 2012 di dekat perumahan Politeknik di Mertojoyo, secara tidak sengaja juga ditemukan arung yang mengarah ke Kali Metro. Ke depan, sangat boleh jadi tinggalan arkeologis yang berupa arung, satu per satu bakal muncul di daerah Tlogomas, Dinoyo, Ketawang Gede dan sekitarmya.

 

B. Deskripsi Tinggalan Arkeologis

01

Selain Situs Watu Gong, di Tlogomas terdapat situs Masa Hindu-Buddha penting lainnya, yaitu Situs Karuman, pada Kampung Aruman, tepatnya di Gang VIII dekat SD Tlogomas 1. Nama ”aruman” mengingatkan pada tempat bernama ”Karuman” dalam susastra gancaran Pararaton, yang dikisahkan sebagai tempat tinggal dari penjudi bernama Bango Samparan, yakni ayah angkat ke-2 dari Ken Angrok setelah pencuri bernama Lembong. Keserupaan toponimis itu, ditambah lagi dengan adanya data artefaktual dan ekofaktual, menjadi pembukti bahwa dalam sejumlah hal informasi dari susastra Pararaton benar adanya. Setidak-tidaknya, desa-desa dan tempat yang diberitakan di dalammya adalah desa dan tempat bersejarah yang ada di sebelah timur Gunung Kawi, temasuk di dalamnya wilayah Kota Malang sekarang.

02

Tinggalan purbakala berada di dua tempat: (1) di sekitar areal cungkup makam Mbah Aruman, (2) reruntuhan candi, yang oleh warga sekitarnya dinamai ”Punden Karuman”. Selain itu terdapat mulut arung, pada jarak ± 100 m di utara reruntuhan candi, pada lembah sisi selatan Brantas . Tiga artefak di areal makam Mbah Aruman kiranya dipindahkan dari reruntuhan candi tersebut. Makam Mbah Aruman, yang berupa makam Islam, lengkap dengan nisan dan jiratnya.

03.

Menurut legenda setempat, Joko Aruman – sebutan dirinya tatkala usia muda – adalah seseorang pemuda dari Mataram. Ia berhasil menentramkan daerah ini, dan akhirnya menetap di sini. Oleh sebab itu daerah ini dinamai ”ka-aruman”, artinya tempat tinggal dari Aruman. Mbah Aruman bukanlah tokoh ”sing mbabat atau mbedah krawang (pembuka)” Kampung Karuman, sebab desa ini telah ada semenjak masa Hindu-Buddha, setidaknya pada abad XIII M. Lebih tepat untuk dinyatakan bahwa Mbah Aruman adalah seorang pemuka masyarakat Karumam pada masa Mataram (abad XVII) , yang memilki jasa tertentu. Nama ”Aruman” bukan nama dirinya, melainkan sebutan baginya, yaitu jejaka atau sesepuh yang tinggal di Karuman.

Tinggalan arkeologis Masa Hindu-Buddha di areal makam Mbah Aruman berada di sudut utara-barat (belakang), sejumlah tiga buah, yaitu:

(1) fragmen arca Durga,

(2) fragman arca Siwa, dan

(3) batu sima.

04

Arca Durga Mahisasuramardhini (T: 70 cm, L bawah: 50 cm, tebal tertebal: 30 cm) kini dalam keadaan pecah, sehingga mulai bagian pusar hingga kepalanya telah tidak diketemukan. Kendati demikian, terang bahwa fragemen arca ini adalah Dewi Durga, yang diindikatori oleh adanya pahatan berbentuk mahisa dan asura. Dewi Durga digambarkan berhasil membunuh asura, yang antara lain menjelma menjadi mahisa (kerbau). Pada percandi Hindu sekete Siwa, arca Durga lazim ditempatkan di relung/bilik candi sisi utara. Adapun candinya, sangat boleh jadi adalah reruntuhan candi yang berada ±
100 m di sebelah utaranya. Bersama dengan dua buah artefak yang dipaparkan berikut, arca ini direlokasikan dari reruntuhan candi itu.

05

Ada pula fragmen arca dalam posisi duduk pamasana, yang juga pecah bagian kepalanya (T: 70 cm, L bawah: 55 cm, tebal tertebal: 38 cm). Bertangan empat (caturbhyuja), sikap tangan bagian depan dhyanamudra. Singgasananya berbentuk bunga teratai merah merekah (padmasana). Kemungkinan arca ini adalah Siwa Mahadewa, yang pada candi Hindu sekte Siwa ditempatkan di bilik utama (garbhagreha). Detail pahatannya memperlihatkan pengaruh kesenian Phala, aliran seni asal India yang berkembang pada masa Sailendravamsa di Kerajaan Maram dan Singhasari. Menilik gaya seninya, bisa jadi dibuat pada masa Singhasari.

06

Peninggalan lainnya adalah batu sima, berbangun silindris (T: 36 cm, D atas: 13 cm, D bawah: 15 cm), yang menjadi tanda bahwa Karuman adalah desa sima. Setelah menjadi raja, Ken Angrok tak lupakan jasa ayah angkatnya, yakni Bango Samparan asal Karuman. Bukan hanya menetapkan desanya sebagai sima, namun juga membangunkan candi buatnya.

Pada situs reruntuhan candi didapati sejumlah tinggalan arkeologis, antara lain:

(1) sebuah Yoni tanpa Lingga dengan cerat pecah, ukuran sisi: 88 cm dan T: 55 cm;

(2) arca Nandi dengan kepala patah, ukuran P: 70 cm T: 48 cm dan L: 37 cm,;

(3) empat buah Lingga berbeda ukuran, yaitu: (a) T: 37 cm, D atas: 12 cm sisi persegi: 13 cm, (b) idem, (c) patah, yang masih terlihat D: 12 cm, (d) T: 48 cm D: 16 cm sisi persegi: 17 cm;

(4) ambang pintu candi (dorpel) P: 73 cm, L: 34 cm, tebal: 25 cm, D lobang engsel: 8 cm;

(5) balok-balok batu dan bata.

M2081S-1029

M2081S-1029

M2081S-1029

 

Detail yang bisa dicermati hanyalah Arca Nandi – dalam mitologi Hindu adalah wahana Dewa Siwa, yang memperlihatkan pengaruh gaya kesenian Phalla, sehingga dapat dimasukkan ke dalam masa Singhasari. Hal lain yang perlu dicermati adalah ambang pintu (dorpel), yang merupakan bagian dari pintu menuju bilik utama candi (garbhagreha). Dengan demikian, pada situs ini semula terdapat candi yang berlatar agama Hindu sekte Siwa, yang sangat mungkin berasal dari masa Singhasari.

Selain itu, di situs ini juga pernah terdapat beberapa buah pancuran cair (jaladwara) dari batu andesit, yang kesemuanya telah hilang. Ada kemungkinan jaladwara ini semula ditempat di sekitar arung, yang konon difungsikan sebagai pancuran air di sebuah patirthan. Pada halaman rumah warga pernah ditemukan sebuah Yoni berukuran kecil. Selain itu, menurut informasi, ketika warga sekitar situs menggali tanah acap mendapatkan bata-bata kuno. Hal ini memberi petunjuk bahwa areal Candi Karuman cukup luas. Boleh jadi pula bata-bata itu merupakan bagian dari rumah tinggal dari pemukim kuno di Karuman, yang sengaja memilih lokasi tinggal di dekat aliran Kali Brantas, tak jauh dari lokasi arung.

 

C. Rekonstruksi Historis

Pada Masa Hindu-Buddha lokasi Desa Karuman terbilang strategis, sebab terletak dekat atau berada di sekitar pusat pemerintahan Watak Kanyuruhan. Sebagaimana halnya sekarang, daerah pinggiran kota, acap merupakan daerah yang diwarnai oleh patologi sosial, antara lain perjudian. Pada masa itu, perjudian merupakan kegiatan negatif dari sebagian warga kota. Bango Samparan adalah salah seorang penjudinya. Anak angkatnya, yakni Ken Angrok, yang kala itu masih berusia remaja kecil juga sering dibawa ke arena perjudian. Bahkan, Bango Samparan meyakini Angrok sebagai pembawa berkah bagi kemengan perjudiannya. Kitab Pararaton mengkisahkan :

”Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berziarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa. disuruh pulang ke Karuman lagi: Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu, ia bernama Ken angrok….. Dia itu (Bango Samparan) lalu ke tempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan, dilawan berjudi (dan) kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan. Memang betul petunjuk Hyang itu,…….” (Padmapuspita,1966:49).

Beberapa kali Pararaton menyebut nama “Karuman”. Antara lain, kutipan teks tentang seorang penjudi asal Karuman sebagai berikut :

“Ada seorang penjudi permainan saji (babotoh saji) berasal dari Karuman bernama Bango Samparan. Kalah bertaruh (atotohan) dengan bandar judi (malandang) di Karuman… Bango Samparan itu pergi dari Karuman, …”.

Bagian lain yang mengkisahkan perjumpaan Bango Samparan dengan Ken Angrok :

“……,…. sungguh itu Ken Angrok, dibawa pulang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan”.

Teks lain mengkisahkan Ken Angrok tidak sehati dengan anak-anak Bango Samparan, sehingga tinggalkan Karuman :

“….. Lama ia berada di Karuman, tak dapat sehati dengan dengan semua para Panji itu, Ken angrok berkehendak pergi dari Karuman”.

Beberapa kutipan teks di atas memberi kita gambaran mengenai hubungan antara Angrok dan Bango Samparan sebagai anak dan ayah angkat. Pararaton mengkisahkan, setelah dibuang oleh ibunya, yakni Ni Ndok, di areal pemakaman bayi (pabajangan) pada tengah malam, lantas bayi Ken Angrok yang memancarkan sinar terang (prabha) itu diketemukan dan kemudian dijadikan anak angkat oleh seorang pencuri bernama Lembong hingga usia remaja kecil. Selepas dari pengasuhan Lembong, Angrok jatuh pada pengasuhan penjudi asal Karuman bernama Bango Samparan. Tidak seberapa lama Angrok tinggal bersama keluarga Bango Samparan, antara lain karena ada ketidakcocokkan antara dirinya dengan anak-anak kandung Bango Samparan, dan selanjutnya Angrok pergi ke arah Sagenggeng (kini wilayah Pakisaji) dan bertemu dengan putra buyut Sagenggeng bernama Tu[h]an Tita.

 

Baca kisah Ken Arok yang lain di daerah Wandanpuro

 

Kendati telah meninggalkan rumah Bango Samparan hingga waktu lama, nampaknya hubungan antara Angrok dan Bango Samparan tidak terputus total. Angrok masih memposisikan sebagai ayah angkat. Hal itu terbukti, ketika Angrok telah dewasa dan menjadi punggawa Akuwu Tunggul Ametung, ia sempat bertandang kembali ke kediaman Bango Samparan. Terkait itu, Pararaton menyatakan bahwa Ken Angrok menemui ayah angkatnya untuk menanyakan makna prabharahsya dari Ken Dedes dan meminta tolong untuk dicarikan pandai keris yang handal untuk membunuh Sang Akuwu, agar dapat menjadikan istrinya sebagai strijarahan (istri rampasan) :

 “……… Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba, bernama Bango Samparan, ………… Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya di Karuman, bertemu dengan Bango Samparan” (Padmapuspita, 1966:13, 18, 49-5059).

Atas petunjuk Bango Samparan, Angrok pergi menemui Pu Gandring, yang adalah sahabat ayah angkatnya.

Hubungan diantaranya tidak sirna meski nantinya Angrok berhasil naik tahta di Tumpel, dengan nama gelar (abhisekanama) Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Angrok tidak melupakan jasa-jasa Bango Samparan, baik sebagai ayah angkat ataupun petunjuknya akan Pu Gandring. Atas jasanya itu, ia menganugerahkan tanah sima (perdikan) di Karuman beserta bangunan suci berlatar agama Hindu sekte Siwa. Tinggalan arkeologis yang berupa watu sima dan sejumlah arca maupun reruntuhan candi di Situs Karuman memperi petunjuk tentang itu. Demikianlah, pada masa awal Singhasari, Desa Karuman telah menyandang status sebagai desa perdikan, sebagai anugerah (waranugraha) Angrok terhadap ayah angkat-nya (Bango Samparan). Statusnya sebagai sima berlaku hingga lintas generasi.

Eksistensi Desa Karuman bukan hanya pada masa Hindu-Buddha, namun berlanjut hingga Masa Perkembangan Islam. Tradisi lisan setempat menyebut adanya seseorang bernama Joko Aruman, yang dipercayai sebagai “sing mbabad desa Aruman”. Terminologi “sing mbabad” bukan menunjuk bahwa dia lah yang pertamakali membuka (mbabad) desa ini, yang menjadikan kondisi masyarakat Karuman menjadi lebih baik (arum). Yang pasti, pada akhir abad ke XII desa ini telah ada. Bahkan, bisa jadi telah cukup maju pada jamannya. Terminologi itu hendaknya diartikan sebagai orang yang pertama kali berjasa meng-islamkan warga Karuman. Indikator dari itu adalah: (1) Joko Aruman dinyatakan sebagai berasal dari Mataram, (2) makamnya dilengkapi dengan nisan, sebagimana lazimnya makam Islam.

 

D. P e n u t u p

Kini kisah kesejarahan Karuman sebagai desa sima tempat asal dari Bango Samparan, yakni ayah angkat Ken Angrok, telah banyak dilupakan orang. Tidak terkecuali oleh warga Karuman sendiri. Alih-alih, tradisi lisan yang lebih familier dengan warga Dusun Karuman adalah bahwa toponimi ”Karuman” dipertalikan dengan Joko Aruman, yang dikisahkan berasal dari masa Kasultanan Mataram (abad XVII M). Warga Karuman sendiri barang kali juga tidak memahami bahwa konon tempatnya bermukim berstatus desa, bukan berstatus dusun atau kampung seperti sekarang. Bahkan, yang lebih membanggakan adalah desanya pernah menyandang status istimewa sebagai desa perdikan (sima). Kini Karuman turun status, dari desa menjadi kampung, yakni salah satu kampung di wilayah Kelurahan Tlogomas.

 

Di mana Ken Arok didharmakan setelah meninggal?

Baca di artikel Napak Tilas Pendharmaan Ken Arok.

 

Bukan hanya kisah tentang Bango Samparan yang dilupakannya, namun jejak budaya masa lalu yang terkait dengannya, yakni candi beserta perangkat upacara ikonogrfisnya dan saluran air bawah tanah (arung) beserta patirthan (kolam suci) di dekat mulut arung kini dalam kondisi terbengkelai. Jika kondisi demikian dibiarkan, maka Karuman bakal ”terputus mata rantai sejarahnya”, khususnya sejarah desanya pada Masa Hindu Buddha. Semoga tulisan ini membuahkan makna.

Sengkaling, 23 Juli 2016

Dwi Cahyono

 

Diunggah dari: patembayancitraleka.wordpress.com

Ditulis oleh: Dwi Cahyono

Judul asli: DESA SIMA KARUMAN – Waranugraha Ken Angrok, Pernyataan Balas Budi buat Bapa Bango Samparan

Gambar sampul: Arca Nandi situs Karuman Dinoyo Malang