Agama Hindu ternyata belum dikenal pada masa kerajaan Majapahit, yang ada adalah keyakinan Siwa-Buddha. Jadi agama yang berkembang pada masa itu adalah agama Siwa dan sebagian besar candi-candi Hindu
pada masa itu adalah merupakan candi Siwa.

 

Judul artikel ini sangat provokatif alias ‘ngajak gelut’, 1000% SARA, dan tidak disarankan dibaca oleh yang bersumbu pendek yang gampang meledak, tapi menggembirakan pengelola blog ini karena berpotensi SEO friendly (hahaha…ini cuma bercanda). Isi artikel justru menggambarkan sebaliknya; sangat mencerahkan dan menambah wawasan terutama bagi kalangan non Hindu.

 

Harapan saya adalah dengan saling memahami perbedaan satu sama lain lebih dalam, maka akan mempererat kesatuan kita sebagai bangsa besar yang memang berdiri di atas semua perbedaan itu.

Berikut artikel lengkapnya:

 

SEKILAS TENTANG HINDU….AGAMA SESAT DAN TIDAK JELAS (?!)

 

Banyak orang alergi, marah guling-guling atau bahkan langsung terkapar pingsan dikala mendengar atau membaca kata sesat, terlebih kalau bersinggungan dengan agama. Kenapa ? Semua agama pada dasarnya adalah sesat kalau dilihat dari sudut arah yang berbeda.

jawakuno.com

 

“Hindu agama sesat”, entah sudah berapa ratusan kali kata tersebut nongol di daftar kata kunci (kata yang paling banyak dipakai untuk masuk) ke blog abal-abal. Saya sih senyum-senyum saja membacanya. Sayang, artikel yang dicarinya tidak ada disini. Namun selang beberapa hari, kata kunci tersebut muncul kembali. Nah, daripada pembaca kecewa atau membaca dari sumber yang tidak jelas, dari penulis yang tidak paham tentang Hindu, mengapa tidak saya sendiri yang menuliskannya?

 

Tentu saja, tulisan ini akan membuat sekelompok orang pingsan atau marah guling-guling. Ya biarin saja. Emang kenapa kalau disebut sesat? Artikel ini target pembacanya adalah untuk mereka yang mau berpikir, bukan untuk orang fanatik. Artikel ini ditujukan untuk mereka yang memiliki pandangan luas, tidak terpaku pada judul atau dogma agama. Baik, agar tidak panjang, kita langsung ke pembahasannya.

 

Apa itu Hindu? Tidak jelas

 

Apa itu Hindu? Sepertinya banyak orang yang tidak tahu bahkan mungkin juga oleh orang Hindu sendiri. Apakah ritual di Bali adalah Hindu? Apakah pura adalah tempat ibadah orang Hindu? Apakah Om Swastiastu dan Om Santi 3x adalah salam Hindu? Atau pertanyaan yang lebih gampang, apakah Nyepi adalah hari raya agama Hindu? Secara umum jawabannya adalah tidak. Semua itu lebih tepat disebut Hindu ala Bali alias hanya ada di Bali saja. Jadi apakah Hindu yang benar atau asli adalah Hindu di India? Ndak juga ……

 

Hindu sebetulnya adalah agama yang tidak pernah ada. Kata Hindu awalnya dipakai bukan dalam kontek agama tapi sebutan untuk penduduk yang menempati wilayah sekitar sungai Indus. Pada masa penjajahan Islam di India. kata Hindu dipakai untuk membedakan dengan penduduk Muslim. Pemeluk Buddha, Shikh dan Jains juga awalnya digolongkan sebagai Hindu. Kemudian baru pada masa penjajahan Inggris, kata Hindu dipakai secara resmi dalam konteks religius yaitu untuk menyebut ribuan agama yang ada di India. Adapun agama-agama tersebut adalah agama Shiwa (Shivaisme) agama Wisnu (Vaishnawa) agama Brahma (Brahmaisme), Shaktiisem dll.

 

Di Indonesia, kata Hindu juga belum dikenal pada masa kerajaan Majapahit yang ada adalah kata Siwa-Buddha. Jadi agama yang berkembang pada masa itu adalah agama Siwa dan sebagian besar candi-candi Hindu pada masa itu adalah merupakan candi Siwa.

 

Jadi apa itu agama Hindu? Ya tidak ada. Jadi tudingan “Hindu sesat”, seharusnya ditanggapi dengan santai karena istilah agama Hindu dari awal sudah sesat alias tidak ada. Bagi sebagain orang Hindu yang lebih terpelajar, sepertinya lebih suka menggunakan kata Sanatha Dharma. Bingung? Ya, semoga semakin bingung….

 

Apa nama Tuhan dalam agama Hindu? Tidak jelas !

 

Hindu tidak mengenal sebutan baku untuk nama Tuhan. Sebagian orang menyebut nama Paremeswara, Paramatman, Siwa, Vishnu, Brahma, Brahman, Krishna, Narayana dan jutaan nama lainnya. Di Bali yang merupakan barometer atau acuan Hindu di Indonesia menggunakan kata Sang Hyang Widhi untuk nama Tuhan. Nama lainnya yang juga umum dipakai adalah Sang Hyang Tunggal, Kata ini diambil dari bahasa lokal jadi tidak akan ditemukan pada Hindu di negeri lain. Jadi apa nama Tuhan dalam agama Hindu ya tidak jelas

 

Monotheisme, Polytheimse atau Atheisme? Tidak jelas !

 

Hinduisme selama ini dikenal sebagai agama polytheisme, menyembah banyak Tuhan.Tapi ada juga yang menyebut agama monotheisme. Apapun jawabannya adalah benar ataupun keduanya salah. Nah, pasti bingung bukan?

 

Seperti sudah ditulis di atas bahwa Hinduimse adalah kumpulan beragam agama dan kepercayaan yang ada di lembah sungai Indus, jadi wajar kalau konsep Tuhan pada Hinduisme sangat banyak, beragamnya, unik atau aneh. Ada sekte yang mamuat ajaran dengan konsep ketuhanan yang monotheisme absulut alias hanya memperpacayai satu Tuhan ala Yahudi. Ada sekte yang mengajarkan tuhan dengan konsep Avatar, yaitu tuhan yang turun kedunia mengambil wujud manusia, jadi mirip ajaran Kristen. Ada sekte yang mengajarkan banyak Tuhan atau dewa.

 

Hindu memiliki konsep Tuhan yang beragam, monotheism, polytheism, panentheism,pantheism, pandeism, monism, dan bahkan juga atheism.-pun ada. [sumber] Jadi konsep Tuhan ala Hindu adalah komplek tergantung tiap orang, tradisi atau filosfi yang diikuti. Jadi Hindu adalah agama yang paling ramai dan memiliki konsep ketuhanan yang “paling lengkap”. Jadi tinggal pilih, konsep mana yang para umatnya anggap bagus dan disukai. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatan, tiap orang bahkan bebas menciptakan Tuhannya sendiri.

 

Sekilas mungkin membingungkan bagi orang yang terbiasa dengan konsep serba tunggal. Namun menurut saya, yang paling menarik adalah masing-masing sekte bisa hidup dengan (relatif) rukun tanpa saling “mengkafirkan”. Mengapa? Jawabannya sepertinya terletak pada salah satu ayat sebagai pemersatu :

 

Hanya ada satu Tuhan tetapi para orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. (Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti) Rg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46)

 

Memuja batu mungkin ajaran yang aneh dan dilarang bagi agama tertentu. Tapi di agama Hindu, tidak ada ajaran yang tegas untuk melarang ataupun sebaliknya, dengan tegas menganjurkan atau mengharuskan. Semuanya sah-sah saja. Memuja batu ataupun mencium batu hanyalah sarana ritual saja. Zaman sekarang, mana ada orang sinting yang menganggap batu sebagai Tuhan?

 

Bagaimana cara sembahyang agama Hindu? Tidak jelas

 

Hinduisme sama sekali tidak memiliki aturan baku dalam cara sembahyang. Mengapa? Jawabannya ada di ayat berikut yang dijadikan pedoman bagi penganut Hindu. Ayat-ayal lain yang sejenis sangat banyak.

 

Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Semuanya Aku terima. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan. (Bhagawadgita, 4:11)

 

Menurut ajaran Hindu, sembahyang tidaklah mutlak harus dilakukan, apalagi dengan tata cara segala. Untuk mendekatkan diri atau mencari Tuhan bisa dilakukan dengan banyak jalan atau dikenal dengan ajaran Catur Marga yaitu dengan jalan sembahyang / bhakti (Bhakti Marga), dengan jalan bekerja (Karma Marga), dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan (Jnana Marga) dan dengan jalan meditasi (Yoga Marga). Jadi bagaimana tata cara sembahyang pada agama Hindu? Ya tidak jelas.

 

Apa kitab suci agama Hindu? Tidak jelas

 

Kebanyakan orang tentu akan menyebut Weda atau Veda. Tidak salah tentu saja. Tapi kenyataan yang ada di masyarakat pemeluk Hindu, kitab ini malah “tidak populer”. Kebanyak orang malah lebih akrab dengan Bhagavad Gita, Bhagavatam atau kitab Sarasamuscaya yang berbahasa Jawa. Sah sah saja karena semua kitab ini dianggap sebagai intisari dari kitab Weda.

 

Setahu saya, kebanyakan orang Hindu tidak memiliki kitab apapun di rumahnya. Boro-boro baca Weda, melihat ujud kitabnya saja mungkin tidak pernah. Mereka mungkin lebih akrab dan menimati cerita wayang seperti Mahabrata dan Ramayana. Nah, ini juga merupakan “bagian lain” dari Weda.

 

Makan daging sapi atau tidak? Tidak jelas

 

Secara umum penganut Hindu memuliakan sapi. Bahasa lain yang lebih kasar adalah menyembahnya. Sapi telah memberikan susu pada anak-anak jadi statusnya setara dengan seorang ibu.. Sapi juga adalah partner bagi petani, jadi membunuh dan memakan hewan yang telah memberikan jasa adalah perbuatan tidak baik. Jadi apakah apakah orang Hindu tidak makan daging sapi? Hmmmm…….

 

Di Bali sendiri daging sapi dijual bebas bahkan dalam upacara tertentu, sapi dikorbankan sebagai persembahan.

 

Himsa atau Ahimsa, Vegetarian atau Carnivora? Tidak jelas

 

Hindu mengajarakan tentang AHIMSA artinya tidak menyakiti mahluk lain. Bagi sekte tertentu ahimsa dijadikan salah satu dasar untuk pola hidup vegetarian. Mereka berpantang makan daging atau bahkan telor sekalipun. Jadi orang Hindu tidak boleh makan daging? Tidak juga. Tidak ada aturan atau larangan yang tegas melarang apalagi menganjurkan.

 

Hindu di Bali memiliki upacara pengorbanan binatang. Jadi binatang dipotong sebagai persembahan, tidak terkecuali juga sapi. Ritual ini tentu saja aneh dan juga membingungkan karena kalau dilihat dari sejarahnya, umat Hindu di Bali adalah aliran Siwa Sidanta atau penganut Siwa dengan sapi sebagai kendaraanya. Aneh bukan?

 

Hindu di Nepal juga memiliki upacara pengorbanan binatang bahkan jauh lebih “sadis”. Puluhan ribu sapi dibunuh sebagai persembahan. Walaupun dagingnya kemudian disantap atau dibagikan tapi tetap saja aneh, karena untuk sekte Hindu lainnya, terlebih untuk sekte Vaishnava, membunuh hewan adalah dilarang.

 

Apa nama nabi pada agama Hindu? Tidak jelas

 

Hindu tidak mengenal nabi yang bersifat absulut, tunggal dan mendominasi ayat kitab suci. Katanya, wahyu diturunkan secara bergelombang pada banyak orang dan diturunkan dalam kurun waktu yang berbeda.

 

Sistem Kasta? Tidak jelas

 

Menurut teori ala kitab Veda, kasta hanyalah penamaan saja, bukan gelar, tidak menunjukkan derajat dan juga tidak diwariskan. Namun kenyataan di lapangan sangat berbeda. Kasta adalah gelar dan diwariskan turun temurun. Pendeta adalah jabatan ekslusif untuk Kasta Brahmana dan keturunannya. Seseorang yang baru memeluk agama Hindu hanya berhak mendapat jatah Sudra dan berlaku sampai kiamat. Aturan ini nyaris sudah baku, berlaku umum dan tidak bisa diganggu gugat. Perkecualian hanya berlaku untuk beberapa sekte Hindu tertentu saja. Mereka tidak menerapkan kasta pada komunitasnya dan jabatan pendeta ditentukan oleh kualitas bukan keturunan. ….. dst….dst ….

 

Contoh “tidak jelas” lainnya masih banyak namun untuk menghindari agar tulisan tidak semakin panjang atau pembaca fanatik semakin terbakar maka tulisan dilanjutkan ke bagian berikutnya dibawah

 

BAGIAN SESAT

 

Marah tanpa ilmu adalah sesat

 

Banyak orang yang cendrung alergi mendengar kata sesat, agamanya disebut sesat. Kalau menurut saya pribadi, ya biasa-biasa saja karean pada dasarnya semua agama adalah sesat.

 

Hindu sesat bagi orang Kristen yang fanatik. Jadi apakah ini artinya agama Kristen adalah agama waras? Tentu saja tidak karena sesungguhnya agama Kristen adalah sesat dimata orang Yahudi fanatik. Jadi Yahudi adalah agama yang waras? Tentu tidak karena bagi penganut agama yang lain, baik Yahudi, Kristen, Hindu atau agama apapun, diluar agamanya sendiri adalah sesat. Sedangkan yang terakhir, bagi seorang atheis sejati, semua agama adalah sama saja, sama sesatnya. Jadi siapa yang sesat?

 

Beragama tidak akan pernah lepas dari tuduh-menuduh sesat. Walaupun semua orang memeluk satu agama yang sama sekalipun tuduhan sesat akan tetap muncul karena masih ada sekte atau aliran lain yang bisa dijadikan obyek tuduhan.

 

Agama atau tokoh agama yang tidak mampu mengajak umatnya untuk melakukan perbaikan prilaku, tidak mampu mampu menyelaraskan agama dengan perkembangan zaman namun hanya berkutat pada dogma dan ritual maka dipastikan akan tersesat.

 

Agama besar yang tidak mampu melindungi agama kecil adalah sesat

 

Banyak agama lokal yang sulit berkembang karena tidak mendapat pengakuan hukum dari pemerintah. Nah, dengan pendekatan yang baik dan manajemen yang lebih cerdas maka hendaknya kesulitan warga tersebut bisa difasilitasi dengan memberikan tempat bernaung yang lebih bebas dan mudah yaitu agama Hindu. Ini adalah salah satu dharma atau perbuatan baik. Selama mereka berjuang mengusung humanisme, welas asih dan memiliki kepercayaan terhada Tuhan YME maka sudah selayaknya disebut sebagai saudara sedharma. Jadi Hindu bukan melulu harus ritual dan hafal kitab tapi yang terpenting adalah prilaku, budi pekerti dan sifat welas asih kepada aam semesta beserta segala isinya

 

PENUTUP

 

Saya sengaja menggunakan judul yang bombastis karena tulisan ini selain dibaca oleh orang Hindu juga dibaca oleh rekan beragama lain, jadi saya harus menuliskannya dengan pendekatan yang berbeda. Coba kalau saya menulis dengan judul “Hindu agama waras, damai dan nomor 1” dijamin rekan yang beragama non Hindu akan muntah membacanya. Sedangkan orang yang malah bangga bangga, terlena dan kegirangan dengan puja-puji hanyalan sekumpulan anak kecil saja.. Itu namanya sudah tersesat.

 

Semoga segala pikiran baik datang kepada kita dari segala arah dan terpancar dari dalam diri kita ke segala penjuru arah..

 

Semoga damai di tiga dunia dan semesta

 

Semoga semua mahkluk hidup berbahagia
OM SANTIH SANTIH SANTIH…OM

 

Sumber: dongengbudaya.wordpress.com

Diunggah dari facebook.com/idabagus.andiloka

Ditulis oleh Ida Bagus Andi Loka