Kalau direkonstruksi jalur-jalur pelayaran pada sekitar abad ke-7-9 Masehi berdasarkan berita-berita asing dan artefak asing seperti keramik dan kaca, agaknya Jawa masih kurang ramai jika dibandingkan dengan Sumatera bagian timur. Namun kalau ditelusuri dari penyebaran gaya seni arca Śailendra (abad ke-8-9 Masehi) yang ditemukan di Jawa, Sumatera, dan Semenanjung Tanah Melayu, hubungan pelayaran di tempat-tempat tersebut cukup ramai dan intensif. Apalagi kalau ditelusuri dari perdagangan cengkeh dan pala yang hanya dihasilkan di kawasan timur Nusāntara (Maluku), tentunya pantai utara Jawa merupakan tempat yang strategis untuk pelabuhan singgah dan pemasaran. Posisi Jawa Timur terletak di tengah jalur pelayaran antara Sumatera dan Maluku.

Di Jawa Timur pada waktu itu, termasuk daerah inti kerajaan adalah beberapa kota pelabuhan, misalnya pelabuhan Kambaŋputih (Tuban), Pajarakan, Gresik, Surabaya, dan Caŋgu agak masuk ke Sungai Brantas. Jauh sebelum Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Airlangga (abad ke-11 Masehi), di wilayah Jawa Timur telah dikenal pembagian fungsi pelabuhan sesuai dengan asal kedatangan kapal. Pelabuhan Hujuŋgaluh yang merupakan pelabuhan sungai (Sungai Brantas) terletak di sekitar Kota Surabaya (di Sungai Mas) dan diatur untuk pelabuhan inter insuler, sedangkan pelabuhan Kambaŋputih yang letaknya di pesisir Tuban diatur untuk pelabuhan antarpulau (de Casparis 1958).

perahu penyeberangan jawakuno
Pada zaman pemerintahan Raja Airlangga (abad ke-11 Masehi) ada jalan yang menghubungkan Jombang, Babat, Ngimbang, Ploso, dan akhirnya ke pelabuhan Kambang Putih. Di Bengawan Solo terdapat berberapa tempat penyeberangan yang menggunakan perahu tambangan. Tempat-tempat penyeberangan ini disebutkan di dalam beberapa prasasti zaman Majapahit (dok. Ahmad Pajali Binzah).

 

Kalau ditelusuri dari data prasasti baik dari jaman Airlangga (Kadiri) maupun dari jaman Majapahit, agaknya Sungai Brantas dan anak-anak sungainya memegang jalur pelayaran penting. Jalur pelayaran ini menghubungkan daerah hilir dan daerah pedalaman. Di beberapa tempat di tepiannya banyak terdapat tempat berlabuh, antara lain pelabuhan Caŋgu.

Pelabuhan Tuban
Tuban dengan Kambaŋputih sebagai pelabuhannya, juga merupakan tempat penting untuk disinggahi para saudagar. Tempat ini juga baik sebagai tempat untuk memperbaiki kapal-kapal niaga yang rusak karena dekat hutan jati sebagai bahan pembuat dinding lambung. Pada awalnya Tuban merupakan pelabuhan yang ideal. Di pelabuhan ini banyak tinggal orang Tionghoa yang berasal dari Kanton (Guangdong) dan Chang-chou (Groeneveldt 1960, 47). Namun pada akhir Majapahit, Tuban dikenal sebagai pelabuhan yang tidak aman. Sumber-sumber Tionghoa abad ke-15 menyebut pelabuhan Tuban sebagai tempat yang tidak aman, sehingga kapal-kapal saudagar Tionghoa menjauhinya. Mereka lebih suka ke Gresik dan Surabaya. Kapal-kapal Tuban memaksa dengan kekerasan kapal-kapal Tionghoa dan kapal-kapal asing agar singgah di Tuban. Selanjutnya disebutkan bahwa Tuban sebagai sarang lanun (Groeneveldt 1960, 54).

Latihan Senenan yang diadakan sekali dalam seminggu di alun-alun Tuban. Latihan Senenan adalah semacam latihan perang-perangan bagi para prajurit

 

Dulunya Tuban bernama Kambaŋputih. Sudah sejak abad ke-11 sampai 15 dalam berita-berita para penulis Tionghoa (pada masa dinasti Song Selatan 1127-1279 dan dinasti Yuan 1271-1368 sampai jaman dinasti Ming 1368-1644), Tuban disebut sebagai salah satu kota pelabuhan utama di pantai utara Jawa yang kaya dan banyak penduduk Tionghoa. Orang Tionghoa menyebut Tuban dengan nama Tu-pan atau nama lainnya adalah Ta-pan. Tentara Tatar (Mongol) pada 1292 datang menyerang Jawa mendarat di pantai Tuban. Dari sana pulalah sisa-sisa tentaranya kemudian meninggalkan Jawa untuk kembali ke Tiongkok (Graaf 1985, 164). Tapi sejak abad ke-15 dan 16 kapal-kapal dagang yang berukuran sedang saja sudah terpaksa membuang sauh di laut yang cukup jauh dari garis pantai. Sesudah abad ke-16 itu memang pantai Tuban menjadi dangkal oleh endapan lumpur. Keadaan geografis seperti ini membuat kota Tuban dalam perjalanan sejarah selanjutnya sudah tidak menjadi kota pelabuhan yang penting lagi (Graaf 1985, 163).

Seperti halnya dengan kota-kota lain di Jawa, pada umumnya sumber sejarah kota Tuban sangat sulit didapat. Bahan tulisan yang ada penuh dengan campuran antara sejarah dan legenda. Babad Tuban yang ditulis oleh Tan Khoen Swie (1936), yang diteliti oleh De Graaf, disebut sebagai salah satu sumber sejarah Tuban. Tapi buku tersebut lebih memuat tentang masalah pemerintahan serta pergantian penguasa di Tuban, sedang bentuk fisik kotanya hampir tidak disinggung sama sekali. Catatan tentang bentuk fisik kota Tuban secara samar-samar didapat dari berita kapal Belanda bernama Tweede Schipvaert yang mendarat di Tuban dipimpin oleh Laksamana van Warwijck pada bulan Januari 1599. Dalam berita itu disebutkan bahwa orang Belanda terkesan sekali oleh kemegahan Keraton Tuban (Graaf 1985, 170). Selain itu juga terdapat gambar dari alun-alun Tuban pada abad ke-16, waktu diadakan latihan Senenan. Perlombaan setiap minggu (Senenan), yang diamati oleh Belanda di alun-alun Tuban, pada 1599. Pusat kejayaan kota Tuban seperti keraton beserta alun-alunnya ini dihancurkan oleh balatentara Mataram yang memasuki Tuban pada 1619. Alun-alun lama tersebut masih ada di desa Prungguhan Kulon Kecamatan Semanding sebelah selatan kota Tuban yang sekarang.

Kota Tuban mengalami kemunduran secara dratis akibat dari beberapa kali penyerangan yang dilakukan oleh bala tentara Mataram. Baru pada 1619, Tuban ditundukkan secara tuntas oleh Sultan Agung yang terus memperluas daerahnya (Graaf 1985, 170). Pada abad ke-17 dan sesudahnya, yang memerintah di Tuban adalah bupati-bupati yang diangkat oleh raja-raja dinasti Mataram. Struktur kota Tuban selama peperangan penaklukkan tersebut kemudian dihancurkan oleh bala tentara Mataram. Alun-alun dan pusat kota yang lama terletak di sebelah selatan pusat kota yang kemudian ditinggalkan (terletak di Desa Prungguhan Kulon, Kecamatan Semanding), sekitar 5 km sebelah selatan pusat kota Tuban yang sekarang. Baru setelah abad ke-18 secara perlahan kota Tuban kemudian bangkit kembali. Alun-alun kota yang merupakan pusat kota yang baru, dipakai sebagai titik awal pembangunan kembali kota. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda kedudukan kota Tuban tidak lebih sebagai kota kecamatan belaka. Meskipun pada awal abad ke-20 kota ini dilewati jalan kereta api dengan sebuah stasiun, tapi alat transportasi tersebut tidak menolong banyak terhadap perkembangan ekonomi kotanya. Bahkan stasiun kereta api yang terletak di sebelah selatan kota tersebut sekarang sudah ditutup.
Kota Tuban lama letaknya ada disebelah selatan (sekitar 5 km) dari kota Tuban yang sekarang. Tepatnya sekarang di desa Prungguhan Kulon, Kecamatan Semanding. Tidak ada data kapan tepatnya kota ini pindah ke daerah yang ada sekarang. Pada abad ke-18, Tuban sudah tidak termasuk dalam jaringan perdagangan kota-kota pantai utara Jawa. Meskipun secara geografis kota ini sangat strategis untuk perdagangan laut, pelabuhannya telah mengalami pendangkalan sehingga kapal-kapal yang berukuran sedang saja sulit merapat ke daratan. Akibatnya Tuban ditinggalkan dalam perdagangan laut tersebut pada abad ke-18. Pada jaman kolonial, terutama awal abad ke-20, pemerintah kolonial lah yang menentukan hierarki kota-kota pelabuhan di Jawa. Pelabuhan mana yang akan direncanakan sebagai pelabuhan utama, mana yang akan berperan sebagai tempat mengumpulkan bahan produksi atau mana yang sebagai pelabuhan penunjang saja (feeder point). Mundurnya peran pelabuhan Tuban, akibat dari sejarah masa lampaunya, serta makin mendangkalnya pelabuhan, mengakibatkan kota ini hampir tidak berperan sama sekali sebagai pelabuhan penting pada masa kolonial. Tuban hanya berperan sebagai kota pelabuhan rakyat yang kecil saja. Sehingga baik secara produktifitas maupun administratif kota ini mengalami stagnasi selama jaman kolonial.

Pelabuhan Gresik
Dari beberapa pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jawa Timur, agaknya pelabuhan Gresik yang paling berperan. Peranan Gresik sebagai kota pelabuhan tidak dapat dipisahkan dari rangkaiannya dengan kota-kota pelabuhan lainnya di daerah pantai utara Jawa Timur, seperti Tuban (Ta-pan atau Tu-pan), Sidhayu, Hujuŋgaluh (Jung-ya-lu atau Chung-kia-lu), dan Surabaya. Lebih-lebih lagi jika kita lihat dari perspektif perkotaan dan perniagaan dari kurun waktu antara abad ke-11 sampai sekitar awal abad ke-16, Gresik dapat berkembang karena dukungan pelabuhan-pelabuhan lain serta keletakkan geografisnya yang lebih menguntungkan.

Sejalan dengan perkembangan perdagangan antara kawasan timur dan barat Nusāntara, di Jawa Timur pada masa Majapahit lahir pula beberapa kota pelabuhan. Kota-kota pelabuhan yang sudah ada berkembang lebih besar lagi. Kota-kota pelabuhan yang lahir pada masa Majapahit antara lain Canggu yang disebutkan dalam prasasti Selamandi II tahun 1318 Śaka (1396 Masehi) (Boechari 1985/1986, 86-87). dan prasasti Canggu (Trawulan I) tahun 1280 Śaka (1358 Masehi).

Pelabuhan Gresik tahun 1930

 

Berdasarkan hasil penelitian arkeologi di Situs Manyar (Gresik), permukiman di Gresik telah muncul pada sekitar abad ke-13 Masehi. Meskipun telah lama dihuni, nama Gresik baru muncul pada masa Majapahit. Dalam prasasti Karangbogem (Trawulan V) yang dikeluarkan oleh Bhre Lasĕm pada tahun 1387 Masehi, disebutkan adanya orang-orang dari Gresik (“hana ta kawulaningong saking gresik”) yang diperkerjakan di perusahan tambak (perikanan) di Karangbogem. Menurut Ying-yai Shĕng-lan yang ditulis oleh Ma Huan (1433 Masehi), Gresik merupakan sebuah ‘Desa Baru’ yang dalam bahasa Mandarin disebut Ko-erh-hsi. Desa baru ini terletak di sebelah timur Tuban pada jarak sekitar setengah hari perjalanan.

Pada awalnya Gresik merupakan daerah pantai berpasir. Oleh orang-orang Tionghoa yang datang dari Tiongkok Tengah, antara tahun 1350 dan 1400 Masehi dibangun menjadi sebuah desa pemukiman yang baru. Gresik berkembang pesat setelah tahun 1400 Masehi, dan ketika Ma Huan datang Gresik telah menjadi sebuah kota pelabuhan terbaik dan terpenting. Nama Gresik (Ko-erh-shi) disebut dalam Ying-yai Shĕng-lan bersama-sama dengan nama Tuban (Tu-pan), Surabaya (Su-lu-ma-i atau Su-erh-pa-ya), Caŋgu (Chang-ku), dan Majapahit (Man-che-po-i) (Mills 1970, 89-91). Penghuninya telah berkembang menjadi lebih dari seribu keluarga. Orang asing dari berbagai tempat banyak berdatangan ke tempat ini untuk berniaga. Berbagai jenis barang dagangan diperjual-belikan dalam jumlah yang banyak. Karena perdagangan ini penduduk kota Gresik menjadi sangat makmur (Mills 1970, 89-90).

Ma Huan menyebutkan barang-barang dagangan yang diperjual-belikan di pelabuhan Gresik diantaranya berupa emas dan batu-permata, dan berbagai jenis barang dagangan dari luar negeri. Dari kawasan timur Nusāntara diperjual-belikan pula rempah-rempah dari Maluku dan kayu cendana (sandalwood) dari Timor yang ditukar dengan beras, tekstil, dan keramik (Schrieke 1957, 296; 1960, 25; Meilink-Roelofsz 1962, 109-110).
Sejarah pelabuhan Gresik, yaitu di mulai sekitar abad ke-16 di mana pada waktu itu pelabuhan Gresik dapat menggeser peran dari pada pelabuhan Tuban, hal ini di buktikan dengan ketertarikan kapal-kapal asing untuk mendarat di pelabuhan Gresik daripada pelabuhan Tuban. Hal itu disebabkan karena pelabuhan Tuban terjadi pendangkalan, kurangnya fasilitas, cukai yang terlalu tinggi, dan pemaksaan dari penguasa untuk berlabuh di Tuban.

Menurut Tomé Pires dalam Suma Oriental, kota pelabuhan Gresik (Agracij, Agacij, atau Agraci) pada sekitar tahun 1512 merupakan sebuah bandar yang besar dan terbaik di seluruh Jawa, sehingga dijuluki “Permata dari Jawa” (Armando Cortesão 1944, 192-194. Para saudagar asing dari Gujarat, Calicut, Benggala, Siam, Tiongkok, dan Liu-Kiu (Lequeos) sudah sejak lama berdatangan untuk berniaga di pelabuhan ini.

Gresik mempunyai dua bagian kota yang dipisahkan oleh sebuah sungai kecil. Kota pelabuhan Gresik dihubungkan di bagian utara dengan kota pelabuhan Sidhayu (Cedayo), dan di bagian selatan, dihubungkan dengan pelabuhan Surubhaya (Curubaia). Tomé Pires mengemukakan pula bahwa kota pelabuhan Gresik diperintah oleh dua penguasa yang saling bersaing. Penguasa ini yang satu bernama Adipati Jusuf (Pate Cucuf) menguasai sebagian besar wilayah, dan yang lainnya bernama Adipati Zainal (Pate Zeynall) menguasai bagian wilayah lainnya. Para penguasa Gresik ini juga merupakan saudagar-saudagar yang melakukan kegiatan perniagaan dengan Maluku dan Banda. Kota pelabuhan Gresik pada waktu itu berpenduduk sekitar 6.000 sampai 7.000 orang.

Pada awal abad ke-17 pelabuhan Gresik tetap berperan sebagai pelabuhan besar dan utama di antara pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran pelabuhan Gresik tidak seperti sebelumnya, karena pada masa itu politik ekspansi Sultan Agung sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya.

Pada tahun 1625 menurut sumber-sumber Belanda disebutkan bahwa dua pelabuhan di Gresik dikelola oleh dua orang Syahbandar yang diangkat oleh penguasa Surabaya. Syahbandar utama berkedudukan di Gresik, sedangkan di Jaratan ditempatkan seorang syahbandar muda. Syahbandar muda di Jaratan dikenal dengan julukan Ence Muda, seorang keturunan Tionghoa, istrinya seorang putri Beng-Kong, pemimpin penduduk Batavia saat itu.

Walaupun ada sedikit kemunduran, namun sampai awal abad ke-17 di pelabuhan Gresik masih nampak adanya aktifitas produksi kapal bermuatan 10 sampai 100 ton, digunakan untuk berlayar ke Maluku dan sekitarnya. Selain itu juga disediakan fasilitas untuk kapal dari luar yang membutuhkan perbaikan. Pelayaran menuju pulau rempah-rempah (Maluku) masih menjadi prioritas utama.

Para saudagar Gresik dan Banda mengadakan hubungan pelayaran dan perdagangan dengan baik. Dalam hubungannya dengan Maluku, pelabuhan Gresik sangat berperan penting, karena disinilah orang-orang Ternate dan Tidore berlabuh, selain untuk berdagang juga pergi ke pesantren Giri untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Terdapat berita tentang kemunduran aktifitas pelabuhan Gresik. Berita ini dikemukakan oleh J.P. Coen yang pernah singgah di Gresik pada tahun 1613. Dalam berita itu disebutkan bahwa kemunduran ini disebabkan oleh VOC yang berhasil mendirikan kantor dagangnya sebagai pusat eksploitasi di Gresik pada tahun 1603, juga Mataram dengan politik ekspansinya dibawah komando Sultan Agung. Diceritakan pula bahwa pada saat itu kota Gresik telah terbakar dan mengalami kerusakan berat, penduduk banyak menyingkir ke pedalaman. Menurut warga setempat bahwa empat belas hari sebelum J.P. Coen datang Giri-Gresik diserang oleh Mataram.

Pelabuhan Surabaya
Nama Hujuŋgaluh yang disebutkan dalam Prasasti Kamalagyan (959 Śaka, 1037 Masehi) sebagai sebuah kota pelabuhan dan perniagaan yang terpenting pada masa Kerajaan Kadiri di Jawa Timur (Brandes 1913, 134-136). Kapal-kapal niaga dan para saudagar dari pulau-pulau lain berdatangan ke Hujuŋgaluh untuk berniaga (“…….. maparahu samanghulu mangalap bhanda ri Hujuŋgaluh tka rikang para puhawang para banyaga sangka ring dwipantara, samanunten ri Hujuŋgaluh ……..”). Pelabuhan ini terletak di daerah delta Brantas, kira-kira dekat kota Surabaya sekarang. Menurut Heru Sukadri, lokasi pelabuhan ini kira-kira di daerah penyaringan air bersih di Wonokromo (1975, 25-37).
Berita mengenai pelabuhan Hujuŋgaluh yang merupakan pendahulu dari pelabuhan Surabaya seolah-olah hilang begitu saja. Kemudian ketika pemerintahan Hindia-Belanda di Indonesia, aktivitas pelayaran dan perdagangan di Surabaya kemudian muncul kembali. Namun hingga abad ke-19, aktivitas bongkar muat barang dalam ukuran kecil dilakukan di pusat kota Surabaya di tepi Kalimas dekat Jembatan Merah sekarang. Pelabuhan ini dikenal juga dengan nama Pelabuhan Utama atau Pelabuhan Pasar Krempyeng. Khusus untuk bongkar muat barang dari dan ke kapal besar dilakukan di tengah Selat Madura.

Kepustakaan:
Damais, L.C. 1957. “Etudes javanaises: I. Les Tombes musulmanes datees de Tralaya”, dalam BEFEO XLVIII (2), 1957: 353-415 (catatan 30).

———-. 1995. Epigrafi dan Sejarah Nusantara: Pilihan Karangan Louis-Charles Damais, Jakarta: EFEO/Puslit Arkenas, hlm. 223-332 (catatan 30, hlm. 294-295).

Armando Cortesão 1944, The Suma Oriental of Tomé Pires. An Account of the East, from Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515. Translated from Portuguese MS in the Bibliothèque de la Cambre des Députés, Paris, and edited by Armando Cortesão. London: Hakluyt Society, 2 vols, hlm. 192-194.

Berg, C.C., 1927, “Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen”, dalam BKI LXXXVIII: 1-16.

———–, 1930, “Rangga Lawe, Middeljavaansche historische roman”, dalam Bibliotheca Javanica, 1. Weltevreden.

Boechari, 1985/1986, Prasasti Koleksi Museum Nasional, I. Jakarta: Museum Nasional, hlm. 86-87.
Brandes, J.L.A., 1913, “Oud-Javaansche Oorkonden”, dalam VBG LX: 134-136 (OJO LXI).
De Casparis, J.G., 1958, “Airlangga”, Pidato Diucapkan pada Peresmian Penerimaan Djabatan Guru Besar dalam Mata Peladjaran Sedjarah Indonesia Lama dan Bahasa Sansekerta pada Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Universitas Airlangga di Malang jang Diadakan di Malang pada Hari Saptu Tgl. 26 April 1958. Surabaja: Penerbitan Universitas
Groeneveld, W.P.,1960, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Djakarta: Bharatara
Meilink-Roelofsz, M.A.P.,1962, Asian Trade an European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630.’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, hlm. 109-110
Mills, J.V.G., 1970, Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan. The Overall Survey of the Oceans’s Shore, (1433). London: Hakluyth Society
Pigeaud, Th. G. Th., 1960, Java in the 14th Century: A Study in Cultural History. The Nāgara-kĕrtāgama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D. Vol. I. the Hague: Martinus Nijhoff,
Schreke, B.J.O., 1957, Indonesian Sociological Studies, Part Two: Ruler and Realm in Early Java. The Hague/Bandung: W. van. Hoeve,
Sukadri, Heru. 1975. “Hujunggaluh pendahulu Surabaya”, dalam Bulletin Yaperna no. 6 Th. II, April 1975, hlm. 25-37

 

Diunggah dari: akun FB atas nama Bambang Budi Utomo

Ditulis oleh: Bambang Budi Utomo

Gambar sampul: Litografi Perahu Penyeberangan Tempo Dulu