1. Etimologi (Toponimi) Nama Talun

Talun secara toponomi berasal dari bahasa Jawa Kuno. Zoetmulder (2011:1188) mengartikan kata Talun sebagai ‘kebun luar (ditepi hutan yang belum lama dibuka)’.
Senada dengan Zoetmulder, Maharsi (2009:621) juga berpendapat bahwa ‘Talun’ adalah ‘kebun luar ‘kebun atau tanah hutan’, yang pendapatnya juga hampir sama dengan pendapat Wojowasito (1977:259) bahwa kata ‘Talun’ juga berarti ‘kebun atau perkebunan’. Pendapat keempat para ahli tersebut juga diperkuat oleh pendapat Suparlan (1991:279) bahwa Talun juga berarti ‘ladang atau desa’.

Kata ‘Talun’ ternyata juga tetap digunakan dalam bahasa Jawa Baru yang berarti ‘ladang atau huma’ (Prawiroadmojo, 1980:230). C.F. Winter dan R.Ng. Ranggawarsita (2007:264) mengartikan ‘Talun’ dalam bahasa Jawa halus yang berarti ‘tegil atau dhusun’. Maka dari berbagai pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa arti kata ‘Talun’ yaitu ‘tanah hutan (tegal) yang digunakan sebagai perkebunan dan belum lama dibuka’.

2. Kondisi Geografis

Talun terletak di sebelah barat alun-alun kota, kondisi geografis tanahnya lumayan rata walaupundibeberapa tempat agak tinggi berbukit. Wilayah Talun dibelah oleh sungai kecil yang kemungkinan sungai ini merupakan saluran drainase primer, yang pernah direvitalisasi pada masa kolonial. Alirannya mulai dari ujung timur Oro-oro Dowo hingga bermuara di Kali Kasin. Saluran drainase ini memiliki aliran lurus dengan arah utara-selatan (Cahyono,2013:184).
Berdasarkan peta buatan Belanda yang berjudul “Malang Java Town Plans” tahun 1946 dapat diketahui bahwa saat itu Talun masih berbentuk desa. Disebelah utara dan barat, talun berbatasan dengan wilayah Bareng Tengah dan Tanjung, disebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kasin, dan disebelah timur berbatasan dengan wilayah Kauman. Saat ini secara administratif wilayah Talun termasuk dalam wilayah Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen.

3. Talun Pada Masa Hindu-Buddha

Bukti penting Talun saat masa Hindu-Buddha adalah prasasti ‘Wurandungan B’ (943 M) dan prasasti ‘Pamotoh’ (1198 M). Pada prasasti ‘Wurandungan B’ yang dicatat oleh Brandes dalam bukunya yang berjudul ‘Oud Javansch Oorkonden’, terdapat kata ‘Tahun’, sangat mungkin jika Brandes salah atau kurang teliti dalam mentranskrip kata tersebut. Dan bisa jadi kata ‘Tahun’ tersebut adalah ‘Talun’, karena ‘Talun’ sendiri disebut dalam prasasti Pamotoh pada beberapa abad berikutnya. Berikut ini adalah transkrip prasasti dari Brandes (1913:106):

4b. Janing kanuruhan irika ta ng kawaligêran makaryya ri kala ni kapujan i sang hyang rahyangta mwang i sang hyang kaswaban ya ta matang yan wineh tumuta sakapagêh sakawnang ning watêk kanuruhan atêhêr dinûman sima lmah umah gaga sima sawah ri tahun (talun?: catatan penulis) …

Dan berikut ini adalah terjemahannya:

4b. Pamujan di (wilayah) Kanuruhan, yang pada waktu itu diberikan guna kebutuhan pemujaan kepada Sang Hyang Rahyangta dan kepada Sang Hyang Kaswaban, yaitu diberikan menurut ketetapannya yang diperoleh di wilayah Kanuruhan. Selanjutnya diberikan oleh Kanuruhan tanah Sima Pagagan dan Sima Sawah di Tahun (Talun?) seluas 2 jung … (Suwardono, 2005:34).

Dari petikan isi diatas maka dapat dikatakan Talun pada abad ke 9 telah dijadikan tanah sima untuk kebutuhan pemujaan atau peribadatan di wilayah Kanuruhan. Kemudian pada prasasti Pamotoh atau yang juga dikenal sebagai prasasti Ukir Negara kelompok kedua menyebutkan bahwa pada bulan Posha tahun saka 1120 (1198 M) Sri Digjaya Resi memberi anugerah kepada Dyah Limpa berupa rumah dan tanah dengan ukuran luas dihitung dalam istilah ”jung” disertai keterangan batas-batasnya. Alasan atau sebab-sebab diturunkannya anugerah tidak disebutkan. Prasasti ini ditulis oleh ‘Mpu Dawaman’ di ‘Talun’.

Disebutkan bahwa salah seorang Rakryan Patang Juru yang bernama Dyah Limpa dan tinggal di Gasek (kini sebuah dukuh di Desa Karangbesuki, Kota Malang) wilayah Pamotoh mendapat hadiah tanah dari Sri Maharaja. Penyerahan ini diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan. Tanah yang dihadiahkan itu di antaranya tanah di sebelah timur tempat berburu yang bernama ‘Malang’. Di situ tertulis: “… taning sakrid malang akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah limpa makanagaran i …” Artinya adalah: “.. di sebelah timur (Gunung Kawi) tempat berburu sekitar Malang bersama ‘wacid’ dam ‘macu’, persawahan Dyah Limpa yaitu …”.

Daerah-daerah lainnya dihadiahkan Sima meliputi kawasan Malang dan sekitarnya, beberapa di antaranya disebutkan juga dalam Pararaton, yaitu Malang, Kabalan, Gadang, Sagenggeng, Talun, Gasek, Wurandungan, Dau, Ayuga, dan Paniwen. Gadang saat ini adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Sukun, Kota Malang. Paniwen mungkin terletak di dekat Sumberpucung atau bisa juga di sebelah barat Bakalan Krajan. Sedangkan nama desa Marinci sekarang menjadi nama sebuah Dusun Princi di Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau. Prasasti ini ditulis di daerah Talun yang saat ini di daerah Klojen terdapat juga nama Talun. Prasasti ini diresmikan pada tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Saka (1198 M), hari Wurukung, Pahing, dan Saniscara (Antik, 2013 diakses 28 Juli 2016:00:02 WIB).

Dengan tercantumkannya nama ‘Talun’ di dalam prasasti Pamotoh (1198 M), Desa Talun telah ada (sampai) pada akhir abad XII, sebagai salah satu desa di timur Gunung Kawi (Cahyono, 2013:186). Tentu saja hal ini sangat menarik dikarenakan ‘Talun’ pada abad ke 12 Masehi dijadikan tempat sima (perdikan), bahkan prasasti pemberian sima tersebut ditulis oleh seorang yang bernama “Mpu Damawan” di Talun. Pada masa berikutnya bisa jadi Talun beserta daerah sekitarnya yaitu “Kayutangan” menjadi tempat penting bagi mobilitas pelarian Ken Angrok. pendiri kerajaan Singhasari. Dalam Pararton disebutkan bahwa Ken Angrok melarikan diri ke daerah hutan yang bernama “Patangtangan”.

Suwardono (2013:154-155) menyamakan arti dari kata “Patangtangan” dengan “Kayutangan” yaitu suatu kampung yang secara adminstratif berada di kelurahan Kauman bersama dengan Talun. Kata ‘patang’ merupakan bahasa Jawa Kuno yang dapat berarti ‘batang’ atau ‘kayu’. Agaknya argumentasi in agak masuk akal sebab daerah tersebut merupakan hutan dan di hutan tentunya banyak terdapat kayu. Dan juga seperti pembahasan diawal, sebagai penguat pendapat bahwa Kayutangan dahulunya adalah wilayah hutan bernama Patangtangan yang disebutkan dalam naskah susastra Pararaton. Maka, hal ini dapat diperkuat dengan kawasan sekitar Kayutangan yang bernma Talun. Talun juga dapat berarti ‘tanah hutan’ (Mardiwasito, 1981:577). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kayutangan dan Talun dulunya adalah wilayah hutan yang lebat dan sempat menjadi daerah pelarian Ken Angrok sang pendiri Kerajaan Singhasari.

Sayang walaupun Talun dahulu merupakan daerah penting (tanah sima) di masa Hindu-Buddha sampai saat ini belum didapatkan tinggalan arkeologis masa tersebut. Hal ini bisa jadi diperkirakan karena semakin padatnya wilayah tersebut sehingga menyebabkan hilangnya tinggalan arkeolgis masa hindu-buddha di wilayah tersebut.

4. Talun Pada Masa Islam

Untuk mengetahui bukti kesejarahan Talun pada masa Islam, hal ini dapat kita lihat dengan adanya kompleks makam kuno yang menjadi punden di daerah Talun dan secara wilayah administratif makam ini terletak di RT 01 RW 02 Kelurahan Kauman. Makam-makam ini terletak diatas gundukan tanah yang lebih tinggi (sekitar 3 meter) dari permukaan tanah disekitarnya. Makam ini dapat dilewati melalui gang dekat percetakan Akeno di Jl. A.R. Hakim (Talun Es), bisa juga dilewati melalui Jl. Basuki Rakhmat Gang IV yang tidak jauh dari pasar Talun (Irawati, 2016 diakses 28 Juli 2016:07:24 WIB), atau bisa juga dilewati melalui Jl. Simpang Arjuna kemudian lurus saja ke Jl. Dorowati sampai ketemu pos kamling berwarna hijau kemudian di kejauhan akan terlihat pohon besar, dari pos kamling tersebut turun ke anak tangga melewati kanal/sungai kecil kemudian ikuti jalan saja.

Setelah kita sampai pada kompleks makam ini, akan kita temui setidaknya terdapat tujuh makam di tempat tersebut. Lantas siapakah tokoh-tokoh yang dimakamkan ditempat tersebut? Salah satu dari makam tersebut yang paling terkenal oleh warga masyarakat sekitar disebut dengan nama ‘Makam Mbah Honggo’ yang dinisannya tertulis ‘Pangeran Honggo Koesoemo’. Menurut keterangan dari warga sekitar beliau adalah guru rohani dari keluarga Bupati Malang yang pertama (Cahyono, 2013:184). Sedangkan menurut pendapat dari Dwi Cahyono (2007:73) Mbah Honggo alias Pangeran Honggo Koesoemo dan pangeran Soerohadi Merto alias Kyai Ageng Peroet yang dimakamkan disampingnya, keduanya adalah keturunan langsung trah Majapahit. Dalam buku leluhur R. Koesnohadipranoto (Comptabel Ambtenaar) dan Serat Kekancingan Kasunan Surokartohadiningrat No: 43/15/II 3 Feb 1933, turunan R.B. Soeprapto, disebutkan, bahwa: Makam pertama adalah Kandjeng Pangeran Soero Adimerto (Kyai Ageng Peroet) dan yang kedua adalah Pangeran Honggo Koesoemo (Mbah Honggo).

Bagaimana makam keturunan Majapahit bisa berada disini? Tahun 1518 dan 1521 pada masa pemerintahan Adipati Unus dari kerajaan Demak, menyerang kerajaan Majapahit masa pemerintahan Prabu Brawijaya (Bhre Pandan-Salas, Singhawikramawardhana). Serangan pasukan Demak memaksa seluruh keluarga mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke pulau Bali. Prabu Brawijaya mempunyai putra yang bernama ‘Batoro Katong’ yang melarikan diri ke Ponorogo tahun 1535 dan menjadi Adipati Ponorogo. Beberapa keturunan selanjutnya, Kandjeng Pangeran Soero Adiningrat masih menjabat sebagai Adipati Ponorogo, mempunyai putra Kandjeng Soero Adimerto (makam yang pertama) yang hidup pada masa perjuangan Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, putra Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kandjeng Susuhunan Pakubuwana I tahun 1825.

Setelah peristiwa penagkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock di Magelang tanggal 28 Maret 1830, semua Senopati (panglima perang) berpencar keseluruh Jawa Timur dengan menggunakan nama-nama samaran yang bertujuan menghilangkan jejak terhadap Belanda. Pangeran Soero Adimerto berganti nama Kyai Ageng Peroet, pangeran Honggo Koesoemo menjadi Mbah Onggo, Ulama Besar Kandjeng Kyai Zakaria II menjadi Mbah Djoego (Gunung Kawi, keturunan langsung dari Pangeran Diponegoro). Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter, disamarkan dan sekarang dikenal masyarakat dengan ‘Kuburan Tandak’. Lokasi makam saat ini, dahulu adalah komplek besar para sesepuh keturunan Adipati Malang sekaligus komplek makam belakang Masjid Jami’.

Masih terdapat beberapa makam yang tidak teridentifikasi kesejarahannya di sekitar makam Mbah Honggo akibat meninggalnya Juru Pelihara makam terakhir dan sang putri penerusnya yang tidak tahu akan kesejarahannya. Makam yang tidak teridentifikasi kesejarahannya tersebut, misal makam diluar pagar yang bertulis “R.M. Singodjoyo, LID Kliwon/Penewu”, dan disampinya juga ada makam bayi entah siap tokoh yang dimakamkan tersebut. Kemudian ada juga kondisi dua makam yang sangat parah yang tidak jauh dari dari makam bayi tersebut. Makam tersebut ditimbun sampah rongsokan dan amat sangat kotor, kumuh dan tak, kondisi tersebut juga terjadi pada kompleks makam Mbah Honggo pada umumnya dimana sampah berserakan dan menumpuk dimana-mana dan kompleks makam sendiri semakin terdesak pemukiman warga. Semoga makam-makam tersebut tetap lestari sebagai bukti kesejarahan Talun pada masa Islam dan sebagai penghargaan terhadap leluhur kita yang saat itu dikenal sebagai ulama besar penyebar agama Islam.

5. Talun Pada Masa Kolonial

Pada masa Kolonial saat Belanda menguasai Malang tahun 1767, Talun menjadi salah satu dari daerah penting bagi pemerintahan Belanda sampai tahun 1914. Belanda mendirikan pemukiman Eropa yang terletak di sebelah Barat Daya (Zuidwesten) alun-alun yaitu antara lain masuk wilayah Talun (Taloon/Talon/Taloen), Tongan, Sawahan dan sekitarnya. Selain itu Belanda juga mendirikan pemukiman di wilayah sekitar Kayutangan (Kayoetangan), Oro-oro Dowo, Celaket (Tjelaket), Klojen-Lor (Klodjenlor) dan Rampal. Sedangkan warga pribumi kebanyakan menempati daerah kampung selatan alun-alun yaitu antara lain Kebalen, Tumenggngan (Toemenggoengan), Jodipan (Djodipan), Talun (Talon) dan Klojen-Lor (Handinoto dan Soehargo, 1996:25). Pertimbangan Belanda menempati wilayah tersebut (dan Talun salah satunya) adalah pertimbangan keamanan, akses jalan/transportasi yang mudah karena dekat dengan jalan kereta api serta nilai strategis ekonomi yang tinggi.

6. Penutup

Talun telah menjadi daerah yang cukup penting dari masa ke masa, sayang karena padatnya pemukiman diwilayah tersebut maka bisa jadi berakibat langsung dengan hilangnya banyak situs sejarah. Maka dari itu peninggalan sejarah yang tersisa ada baiknya dirawat dengan baik sebagai identitas wilayah desa beserta jati dirinya, kalau pun dikemudian hari ditemukan bukti artefaktual baru maka setiap elemen masyarakat wajib menjaganya. Jadi, apa pun artinya kita tetap harus menjaga dan melestarikan budaya dan benda-benda kepurbakalaan yang ada di tiap wilayah tak peduli walaupun kita bukan warga di daerah tersebut.

Perlindungan hukum yang berkaitan dengan benda cagar budaya sebenarnya juga terdapat dalam pasal-pasal hukum yaitu pada ketentuan dalam Pasal 95 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 130 Tahun 2010) bahwa: “Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah mempunyai tugas melakukan Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya.” Berkaitan dengan hal tersebut, jadi pemerintah daerah mempunyai tugas dan kepentingan di bidang arkeologi juga harus berwawasan pelindungan terhadap cagar budaya, agar kelestarian sumber daya arkeologi tersebut selalu terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Visi pelestarian cagar budaya saat ini harus berdaya guna pada aspek pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, serta mampu memberdayakan masyarakat dalam rangka mendukung penguatan jati diri dan karakter bangsa (Wijaya, 2014:03).

7. Daftar Pustaka

Anonim. Malang Java Town Plans. (1946). Leiden: Leiden University Libraries, Colonial Collection (KIT).

Antik, M. (2013). Prasasri Pamotoh (Ukir Negara III): Munculnya Nama Malang. (Online).

Brandes, J.L.A. (1913). Oud Javaansche Oorkonden, Nagelaten Transcripties Van Wijlen Dr. J.L.A. Brandes. Uitgegeven door N.J. Krom. VBG LX. Batavia: Albrecht & Co’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Cahyono, D. (2007). Malang Telusuri Dengan Hati. Malang: Inggil Documentary.

Cahyono, M. D. (2013). Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Malang.

Handinoto dan Soehargo, P. H. (1996). Perkembangan Kota & Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Yogyakarta: Penerbit Andi.

Irawati, D. 2016. Turis Pun Melenggang ke Pasar. (Online).

Maharsi. (2009). Kamus Jawa Kawi Indonesia. Yogyakarta: Pura Pustaka.

Mardiwasito, L. (1981). Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende: Penerbit Nusa Indah.

Prawiroatmojo, S. (1989). Bausastra Jawa-Indonesia Jilid II. Jakarta: CV Haji Masagung.

Suparlan, Y.B. (1991). Kamus Kawi Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Suwardono. (2005). Mutiara Budaya Polowijen Dalam Makna Kajian Sejarah, Cerita Rakyat, dan Nilai Tradisi. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Malang.

Suwardono. (2013). Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok. Yogyakarta: Ombak.

Wijaya, A. A. C. (2014). Perlindungan Hukum Terhadap Benda Cagar Budaya di Kota Malang. Malang: Artikel Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya.

Winter, C.F. & Ranggawarsita, R.Ng. (2007). Kamus Kawi-Jawi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wojowasito, S. (1977). Kamus Kawi-Indonesia. Malang: C.V. Pengarang.

Zoetmulder, P.J. (2011). Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

Diunggah dari Grup FB Jelajah Jejak Malang

Ditulis oleh admin Grup Jelajah Jejak Malang

Judul asli: Kilas Balik Kampung Talun di Malang Dalam Rangkaian Sejarah

Gambar Sampul: …