Kerajaan Mataram Hindu berakhir pada waktu pemerintahan Raja Dharmawangsa. Kerajaan Mataram itu dimusnahkan Raja Wurawari. Salah satu keturunan dari Raja Mataram Hindu dapat meloloskan diri. Ia adalah Airlangga.

          Airlangga terlunta-lunta hidupnya. Ia naik gunung, turun ke lembah, dan singgah di pertapaan-pertapaan para brahmana. Kemudian para brahmana dan rakyat menobatkan Airlangga menjadi raja pada tahun 1019 M. Kerajaan yang dipimpinnya itu bernama Kahuripan.

Raja Airlangga mempunyai tiga anak yaitu, Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Panji Garasakan. Airlangga ingin menurunkan tahtanya kepada Sanggramawijaya, namun Sanggramawijaya tidak bersedia menjadi raja. Sanggramijaya memilih menjadi pertapa, bernama RaraSucian atau Dyah Kili Suci.

          Kerajaan Kahuripan itu pun kemudian dibagi menjadi dua, yaitu Panjalu atau Kediri dan Jenggala Kahuripan. Batas antara kedua kerajaan itu adalah Sungai Brantas dan Gunung Kawi. Pembagian itu terjadi pada tahun 1041 M. Pembagian itu atas nasihat Mpu Bharada. Mpu Bharada tahu bahwa antara Samarawijaya dengan Panji Garasakan tidak pernah akur sejak masih kanak-kanak.

Kerajaan Kediri terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur. Ibu kotanya bernama Daha, yang terletak di tepi sungai Brantas. Perdagangan dengan daerah lain dilakukan melalui pelabuhan Canggu.

peta k. kediri

Pada saat pemerintahan Kerajaan Kediri, ternyata nenek moyang kita rajin menulis. Tulisan-tulisan itu kemudian dibukukan menjadi kitab (buku). Kitab yang menceritakan tentang raja-raja di Kediri adalah Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama.

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri adalah Bameswara (Kameswara I), Jayabaya, Sarweswara, Aryyeswara II, dan Srengga atau Kertajaya. Di antara raja-raja itu, yang paling terkenal adalah Raja Jayabaya.

Raja Kameswara I bertahta di Kerajaan Kediri antara tahun 1115-1130 M. Permaisuri Kameswara I bernama Sri Kiranaratu. Pada masa pemerintahannya, Bameswara memerintahkan Mpu Dharmaja menulis kitab berjudul Smaradahana. Isi kitab Smaradahana tersebut mengisahkan perjalanan Bameswara dengan sang permaisuri Sri Kiranaratu. Raja Bameswara juga menetapkan lambang Kerajaan Kediri, berupa tengkorak bertaring atau Candrakapala.

Raja Jayabaya memerintah KerajaanKediri antara tahun 1130-1160. Pada masa pemerintahannya, rakyat hidup makmur. Pada masa itu, ada dua orang pujangga yang sangat terkenal di Kerajaan Kediri. Mereka bernama Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Mereka adalah pujangga-pujangga sastra. Karya-karya mereka yang terkenal adalah Kitab Bharatayuda, Hariwangsa, dan Gatotkacasraya.

          Pengganti Raja Jayabaya adalah Sarweswara. Sarweswara memerintah antara tahun 1160-1169 M. Pada tahun 1169 M, Sarweswara diganti oleh Raja Aryyeswara. Raja Aryyeswara lengser keprabon pada tahun 1174 dan digantikan oleh Raja Gandra. Raja hanya memerintah satu tahun, yaitu antara tahun 1181-1182 M. Pengganti raja Gandra adalah Kameswara II. Raja Kameswara II memerintah antara tahun 1182-1194 M. Kameswara II diganti oleh Raja Srengga, tahun 1194-1200. Raja terakhir Kerajaan Kediri adalah Kertajaya. Raja Kertajaya memerintah antara tahun 1200-1222 M.

Sebutan lain dari Raja Kertajaya adalah Dandang Gendis. Ia bertingkah laku sombong dan sengaja melanggar adat. Tingkah laku raja itu menimbulkan pertentangan antara kerajaan dengan para brahmana. Akhirnya, para brahmana meminta bantuan akuwu dari Tumapel, yaitu Ken Arok. Terjadilah peperangan antara Tumapel yang dipimpin Ken Arok melawan Kediri. Pertempuran itu terjadi di Ganter. Ken Arok menang dan Raja Kertajaya melarikan diri. Peperangan itu terjadi pada tahun 1222 M.

Pada masa pemerintahan Kertajaya di Kediri hidup dua orang pujangga yang bernama Mpu Tanakung dan Mpu Managuna. Mpu Tanakung menyusun buku berjudul Wretasancaya dan Lubdhaka. Mpu Managuna menyusun Kitab Sumanasantaka.

Peninggalan Sejarah Kerajaan Kediri

Sebagian besar peninggalan sejarah Kerajaan Kediri berupa prasasti dan kesusasteraan. Sebagian dari prasasti tersebut tidak terbaca karena batunya telah usang dan sebagian lainnya belum diterbitkan. Hasil kesusasteraan yang dihasilkan pada zaman Kerajaan Kediri merupakan puncak kejayaan kesusasteraan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha.

lukisan smaradahana

 

smaradahana

Prasasti-Prasasti peninggalan sejarah Kerajaan Kediri:

NO Nama Prasasti Tahun Pemerintahan Raja Ket/Isi
1 Padlegan I 1117 Bameswara Anugerah raja kepada penduduk Desa Padlegan dan sekitarnya sebagai sima (daerah swatantra)
2 Plumbangan 1120 Bameswara Permohonan rakyat Desa Plumbangan dan sekitarnya kepada raja agar anugerah prasasti di atas daun lontar yang mereka terima dari raja yang dicandikan di Gajapada dipindahkan di atas batu agar langgeng.
3 Hantang 1135 Jayabaya Anugerah raja kepada rakyat Desa Hantang dan 12 desa yang termasuk di dalamnya, berupa prasasti batu yang berisi pemberian hak-hak istimewa.
4 Talan 1136 Jayabaya Penduduk Desa Talan (termasuk bagian dari wilayah Desa Plumbangan) yang menghadap raja sambil memperlihatkan prasasti di atas daun lontar dengan cap kerajaan berupa Garudamukha. Mereka memohon kepada raja agar prasasti yang mereka terima dari Bhataraguru itu dipindahkan di atas batu agar langgeng.
5 Jepun 1144 Jayabaya
6 Padlegan II 1159 Sarweswara belum diterbitkan
7 Kahyunan 1161 Sarweswara belum diterbitkan
8 Weleri 1161 Aryeswara belum diterbitkan
9 Angin 1171 Aryeswara belum diterbitkan
10 Jaring 1181 Gandra Penduduk Desa Jaring menghadap raja melalui perantaraan Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut). Mereka memohon kepada raja agar anugerah yang mereka terima dari raja sebelumnya dapat mereka nikmati sepenuhnya. Juga dinyatakan bahwa orang-orang terkemuka Kerajaan Kediri menggunakan nama-nama binatang, seperti Kebo Salawah, Menjangan Puguh, Gajah Kuning, dan Macan Putih.
11 Semanding 1182 Kameswara belum diterbitkan
12 Ceker 1185 Kameswara Rakyat Desa Jaring menghadap raja dan memberitahu bahwa mereka telah memperoleh anugerah dari raja yang memerintah sebelumnya serta memohon kepada raja agar anugerah tersebut dikukuhkan dalam prasasti.
13 Sapu Angin 1190/1191 Kertajaya Tidak terbaca karena usang
14 Kemulan 1194 Kertajaya Tidak terbaca karena usang
15 Palah 1197 Kertajaya Tidak terbaca karena usang
16 Candi Pertapan 1198 Kertajaya Tidak terbaca karena usang
17 Galunggung 1200 Kertajaya
18 Biri 1202 Kertajaya Penduduk Desa Biri sewilayahnya telah menerima anugerah raja berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak serta pemberian hak-hak istimewa.
19 Sumberringin Kidul 1204 Kertajaya
20 Lawadan 1205 Kertajaya Penduduk Desa Lawadan sewilayahnya telah menerima anugerah raja berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak serta pemberian hak-hak istimewa.

 

Prasasti lain yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri adalah Prasasti Mruwak (1180) dan Sirahketing (1204), masing-masing di Desa Mruwak dan Desa Sirahketing, Kecamatan Dagangan, kabupaten Ponorogo, Kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh anggota keluarga Kerajaan Kediri yang diberi wilayah kekuasaan di Wengker (Ponorogo). Dalam prasasti Sirahketing, antara lain dinyatakan bahwa Raja Jayawarsa memberikan anugerah kepada seseorang bernama Marjaya karena telah menunjukkan darma baktinya kepada raja.

Beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Kediri dalambidang kesusastraan:

No Jenis Karya Bentuk Penyusun Pemerintahan Raja Isi
1 Arjunawiwaha Kakawin Mpu Kanwa Airlangga Ketika sedang bertapa untuk mendapatkan senjata yang kelak akan digunakan untukberperang melawan para Kurawa, Arjuna dimintai bantuan oleh para dewa untuk membasmi raksasa bernama Niwatakawaca yang sedang menyerang kahyangan. Akhirnya, Niwatakawaca yang sakti mandraguna itu berhasil dikalahkan oleh Arjuna. Atas jasanya itu, Arjuna dihadiahi Dewi Supraba oleh para dewa. Arjuna pun diperkenankan menikmati surge Indraloka beberapa waktu lamanya.
2 Kresnayana Kakawin Mpu Triguna Sri Jayawarsa Pada waktu kecil Kresna adalah seorang anak yang nakal sekali. Akan tetapi,ia dikasihani banyak orang karena suka menolong dan memiliki kesaktian luar biasa
3 Samanasantaka Kakawin Mpu Managuna Kertajaya Seorang bidadari bernama Harini yang terkena kutuk seorang Begawan bernama Tarnawindu. Akibat kutukan itu, Harini menjelma menjadi seorang putrid. Kemudian ia kawin dengan seorang raja dan menurunkan seorang anak bernama Dasarata. Setelah masakutukannya berakhir, ia kembali ke kahyangan. Taklama kemudian, suaminya menyusulnya ke kahyangan.
4 Smaradahana Kakawin Mpu Darmaja Kameswara Lenyapnya Kamajaya dan Kamaratih dari kahyangan. Mereka baru saja terbakar sinar api yang keluar dari ketiga dewa Syiwa. Kemudian mereka mengembara di dunia menjadi penggoda manusia.
5 Bharatayudha Gubahan Mahabharata Mpu Sedah dan Mpu Panuluh Jayabaya Peperangan selama 18 hari antara para Pandawa melawan para Kurawa.
6 Hariwangsa Kakawin Mpu Panuluh Jayabaya Hampir sama dengan Kresnayana, tetapi lebih menitikberatkan pada perkawinan antara Kresna dengan Rukmini.
7 Gatotkacasraya Kakawin Mpu Panuluh Jayabaya Perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari. Perkawinan itu dapat berlangsung berkat bantuan Gatotkaca. Dalam kitab ini, untuk pertama kalinya muncul tokoh-tokoh punakawan.
8 Wretasancaya (Cakrawakaduta) Kakawin/Cerita Mpu Tanakung Kertajaya Perjalanan sepasang burung belibis dalam usahanya menolong seorang putrid yang kehilangan kekasihnya.
9 Lubdhaka Kidung Mpu Tanakung Kertajaya Secara tidak sengaja, seorang pemburu melakukan pemujaan istimewa kepada dewa Syiwa. Ketika meninggal roh pemburu tersebut masukneraka karena pekerjaannya membunuh binatang. Akan tetapi, roh tersebut diangkat ke surge oleh Syiwakarena ia telah melakukan pemujaan istimewa kepadanya.

Ctt:

Sebenarnya, kitab Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga (Kahuripan). Akan tetapi, biasanyakitab tersebut dikelompokkan sebagai hasil karya sastra zaman Kerajaan Kediri antara Kerajaan Kahuripan, Jenggala,dan Panjalu (Kediri) berkaitan erat.

 

Diunggah dari: catatanwongndeso.wordpress.com

Ditulis oleh: …

Judul asli: Kerajaan Kediri

Gambar sampul: …