Prasasti Sukun ditemukan di daerah Malang pada tahun 1970-an tetapi tepatnya kurang jelas di mana. Piagam ini diperoleh dari penjualnya di Malang sebanyak tujuh lempeng perunggu berukuran 23 x 7,5 cm. Prasasti Sukun sekarang tersimpan di Museum Pu Tantular Sidoarjo dengan nomor inventaris 4.166-4.172. Rupanya beberapa lempeng ada yang hilang, karena frase terakhir dari lempeng VI tidak berhubungan dengan kalimat pertama dari lempeng terakhir (tanpa nomor).

Prasasti Sukun berangka tahun 1083 S (1161 M) dan belum pernah dipublikasikan. Di dalam prasasti ini dikatakan bahwa raja Śrī Jayāmərta mendengar ketaatan [penduduk] Desa Sukun yang telah berusaha dengan sekuat tenaga dan menjadi pemimpin dalam membela sri maharaja dengan memerangi musuh kabuyutan. Karena itu turunlah perintah raja untuk memberi hak-hak istimewa kepada Desa Sukun. Isi prasasti Sukun agak membingungkan karena dapat mengandung dua macam penafsiran. Jika tidak diadakan perubahan sedikit pun maka menurut struktur kalimatnya, kabuyutan itulah yang memberontak. Tetapi jika kalimat itu ditafsirkan lumaga śatruni kabuyutan maka ada pihak yang memusuhi dan menyerang kabuyutan itu.

Jika kalimatnya tak diubah sekalipun maka di sini kita berhadapan dengan suatu gerakan protes dari masyarakat kabuyutan, yang dapat ditafsirkan sebagai suatu komunitas keagamaan. Mungkin sekali mereka itu menentang suatu peraturan, yang tidak sesuai dengan praktek-praktek keagamaan dan aliran kepercayaan mereka. Jika kita membacalumaga śatruni kabuyutan, maka pejabat dengan dukungan penduduk Desa Sukun telah berjasa menghalau gerombolan pengacau yang menyerang kabuyutan dengan tujuan menjarahnya. Mungkin para bandit itu menganggap kabuyutan suatu sasaran yang empuk karena letaknya biasanya terpencil di lereng-lereng gunung. Nama Desa Sukun ini kemungkinan besar sekarang adalah Kelurahan Sukun dan menjadi salah satu ibukota kecamatan di Kota Malang.

dalam hal ini sri maharaja jayamerta kemungkinan adalah raja raja panjalu kadiri…karena rata rata raja kadiri pasti di selipkan nama djaya ….

sedangkan kabuyutan merujuk kelompok atau komunitas yang lebih lama mendiami daerah tersebut bisa juga leluhur di daetah tersebut…

kabuyutan ini juga bisa menyebut masyarakat sisa komunitas dari kerajaan kanjuruhan bila di tafsirkan atau pengikut resi agtsya…

dua tafsir kabuyutan diserang pengikut jenggala..atau kabuyutan memberontak dan di hadapi masyarakat desa sukun…

Diunggah dari: akun FB cak Ippin