In many cases the Javanese rulers were real monsters, crazed to an “imperial frenzy” by the power of their position. Ageng’s (Sultan Agung) successor, Amangkoe Rat, signalized his succession to the throne by the murder of twenty thousands individuals, and throughout his reign put out the way, sometimes with his own hands, any one against whom he had the slightest ground of suspicion.

Dalam banyak kasus para penguasa Jawa adalah monster yang nyata, tergila-gila atas “nafsu kekuasaan” kekuatan posisi mereka. Penerus Sultan Agung, Amangkoe Rat, menandakan suksesi tahtanya oleh pembunuhan dua puluh ribuan orang, dan dengan jalan demikian rezimnya, kadang-kadang dengan tangan-nya sendiri, memperlakukan siapapun yang sekecil apapun dicurigainya.

 

Demikianlah gambaran Clive Day dalam buku “The Policy of Administration of The Dutch in Java” (Oxford, 1975) terhadap tokoh Amangkurat I. Kekejaman sang Sultan digunakan Clive Day, sepertihalnya banyak penulis Belanda lainnya, sebagai justifikasi atas penguasaan Belanda atas Jawa.   Menurut mereka, perlakuan Belanda atas penduduk pribumi jauh lebih baik daripada cara penguasa-penguasa mereka terdahulu memperlakukan mereka.  Amangkurat I selalu menjadi contoh utama ketika membicarakan kekejaman penguasa pribumi atas rakyatnya. Prof. Veth mengatakan bahwa sistem pemerintahan pribumi yang dijalankan orang-orang macam Amangkurat ini “menggambarkan konsep Machiavelli yang paling ekstrim”.

Amangkurat I menjadi objek bahasan utama dalam buku Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I dan buku Runtuhnya Istana Mataram, karya Dr. H.J. de Graaf, terbitan Grafitipers tahun 1987. Keduanya  merupakan buku ke-5 dan ke-6 dari seri terjemahan Javanologi yang dilakukan grafitipers dengan Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV). Kedua karya ini pada dasarnya tidak bisa dipisahkan karena awalnya merupakan satu kesatuan dalam karya berjudul De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1946-1677.

De Graaf sebagaimana diketahui, melakukan kajian yang sangat lengkap mengenai Mataram. Ia menyajikan sejarah Mataram dari sudut pandang Indonesia Centris, dengan itu berusaha menggunakan materi catatan-catatan dan laporan-laporan Belanda atas Mataram yang dipadukannya dengan Babad yang objektifitasnya banyak diragukan. Walau demikian, De Graaf tetap memperlakukan Babad sebagai salah satu sumber penulisan sejarah Jawa yang cukup penting. Sejarawan J.J. Ras menyebut De Graaf sebagai “The first historian to make extensive use of Babad Tanah Djawi a source of research on actual historical process. He demostrated in a series of valuable monograph how such Javanese sources may profitably be used, thus becoming the first historian to succesfully experiment with an Indonesia-centric approach is historiography.” (P. Swantoro, 2002)

Sebelumnya mari kita hilangkan segala prasangka terhadap sang penulis buku, integritasnya di dunia sejarah Indonesia sudah tidak diragukan lagi. H.J. de Graaf lahir tanggal 2 Desember 1899 adalah lulusan jurusan sejarah Universitas Leiden yang memfokuskan diri pada kajian Javanologi. Selama bekerja di Batavia tahun 1927-1930 ia mempelajari bahasa dan kebudayaan Jawa kepada Poerbatjaraka. Lima tahun kemudian ia kembali ke kampusnya untuk mempertahankan desertasi yang bertemakan pembunuhan Kapten Tack di Kartasura tahun 1688. Sepulangnya ke Indonesia, de Graaf semakin giat menggeluti dan memproduksi karya-karya sejarah Jawa. Karyanya banyak diacu oleh sejarawan lain, sehingga sejarawan M.C. Ricklefs menyebut de Graaf sebagai Bapak Sejarah Jawa yang tak ada tandingannya.

Kajian mengenai Amangkurat I sangat menarik minatku karena bagaimanapun aku adalah keturunan ke-sekian dari beliau. Dari selembar keterangan yang kudapat dari orang tuaku, garis keturunan itu menjadi lebih jelas. Isinya adalah sebagai berikut :

 

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Prabu MANGKURAT AGUNG Hing MATARAM (Semare hing pasarean Tegalarum Purwokerto) — Bendara Pangeran Haryo MATARAM — Kangjeng Raden Tumenggung MLOYOKUSUMO — Raden Panewu DEMANGMLOYO I — Raden Panewu DEMANGMLOYO III — Raden Nganten PRAWIRENGLOGO (SINDUWIROGO I) Semare hing lempuyangan — R. Ng. SINDUWIROGO II Semare hing Sidikan — R.P. Windudipuro Semare Mejing — Ardjono Windudipuro Semare Bandung.

 

Dalam daftar tersebut tercatat paling atas adalah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Prabu MANGKURAT AGUNG Hing MATARAM (Semare hing pasarean Tegalarum Purwokerto) yang tidak lain merupakan Sultan Amangkurat I, yang nama lainnya adalah Raden Mas Sayidin atau Jibus atau Rangkah. Sebagai putra mahkota, ia secara resmi diberi nama Pangeran Aria Mataram. Amangkurat I adalah putra ke sepuluh Sultan Agung yang merupakan anak kedua dari permaisuri kedua, Raden Ayu Wetan dari Cirebon. Pada awalnya aku merasa sedikit bangga memiliki darah leluhur yang cukup hebat ini. Aku tertantang untuk menggali lebih jauh mengenai diri sang sultan yang membawaku kepada buku-buku karya De Graff. Tapi yang  kutemukan justru sejarah yang jauh dari  harapan.

Amangkurat I lahir sekitar tahun 1619 M. Sejak umur 5 – 15 Tahun (1624-1634) dididik oleh Tumenggung Mataram. Ia diangkat sebagai sultan Mataram pasca mangkatnya Sultan Agung. Masa kekuasaanya berlangsung antara tahun 1646-1677, suatu masa yang  dianggap sebagai tanda kemunduran Kerajaan Mataram. Bukan hanya sumber Belanda yang menyebutkan demikian, melainkan Babad Tanah Jawa garapan Meinsma juga mengakui hal tersebut  :

 

Kala kemanten sang nata sabarang karsanipun ewah kalijan adatipun, asring misesa tijang, tansah nggelaraken sijasat. Para boepati, mantri toewin para sentana sami lampah alap-alapan ing kalenggahanipun, sakelangkung resah tataning nagari. Tijang samatawis sami miris manahipoen, sarta asring grahana woelan toewin srengenge; djawah salah mangsa, lintang koemoekoes in sabendaloe ketingal. Djawah awoee oetawi lindoe. Akatah delajat ingkang ketingal. Poenika pratandanipoen, jen negari bade risak.

 

Ketika itu raja bertindak sekehendaknya sendiri, tidak seperti biasanya. Ia sering melakukan tindak kekerasan, dan selalu bermain siasat. Para Bupati, para mantri dan keluarga istana bertindak semaunya dengan menyalah-gunakan kedudukan mereka. Tertib bernegara rusak. Seluruh penduduk Mataram dirundung ketakutan. Sering terjadi gerhana dan bulan dan matahari. Hujan menyalahi musim dan buntang-berekor terlihat setiap malam. Terjadi pula hujan abu dan gempa bumi. Banyak pertanda jelek menampakkan diri. Ini semua petunjuk bahwa negara akan rusak. (P. Swantoro, 2002)

Kekuasaan absolut Amangkurat I telah terlihat semenjak ia terpilih jadi Sultan Mataram tahun 1646 M. Pertama-tama ia memindahkan ibukota kerajaan dari Kota Gede ke Plered tahun 1647 M. Kepada rakyatnya ia memerintahkan

“Kamu semua harus membuat batu bata, karena saya mau angkat kaki dari Karta, saya ingin membangun kota di Plered” (Meinsma, 1874).

Berbeda dengan keraton di Karta (Kota Gede) yang terbuat dari kayu, kali ini sang Sultan membangun Keraton yang terbuat dari batu bata dan dikelilingi parit besar. Utusan Belanda, Abraham Verspreet mengunjungi keraton Plered pada tahun 1668, mengkonfirmasi keadaan tersebut. Ia menggambarkan keraton Plered layaknya sebuah pulau di tengah danau. Keraton yang berada di tengah parit buatan itu seakan-akan menggambarkan jiwa Amangkurat yang terasing karena pada dasarnya ia memang mencurigai siapapun. Konon  setiap malam tiba seluruh kompleks Kraton disterilkan dari laki-laki. Hanya ia sendiri yang tinggal bersama ribuan wanita, abdi dalem, dan istri-istrinya. Konon lagi terdapat tiga puluh prajurit wanita cantik  yang disebut prajurit Trinisat Kenya dengan setia selalu menjaganya.

Pada tahun-tahun pertama kekuasaannya, Amangkurat telah menampakkan sifat arogansinya. Sebelum ia menjadi Sultan dan masih menjadi putra mahkota, ia pernah terlibat skandal dengan istri seorang abdi dalem senior bernama Tumenggung Wiraguna. Skandal ini kemudia dilaporkan kepada Sultan Agung, namun tidak berhasil menggoyang  posisi Amangkurat sebagai Putra Mahkota. Ketika telah berkuasa, Amangkurat I menumpahkan kebenciannya kepada  Tumenggung Wiraguna dengan mengirimnya ke Timur untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu, Wiraguna dibunuh. Menurut satu riwayat, pembunuhnya adalah “Kiai Ngabei Wirapatra, orang kesayangan terdekat Sultan…” Tidak hanya itu, Amangkurat juga memerintahkan pasukannya untuk membasmi semua orang yang pernah terlibat melaporkan tindakan skandal yang dahulu dilakukannya kepada ayahnya Sultan Agung. Perintah tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa ribua wanita dan anak yang tidak bersalah, termasuk keluarga Tumenggung Wiraguna.

Sesuai hukum alam, semakin banyak membunuh, maka akan semakin terancam. Demikianlah pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan Amangkurat I tidak dapat membuatnya merasa semakin aman. Konon setiap kali sang Sunan keluar keraton, ia dikawal oleh 2000 orang prajurit bertombak. Ia juga membunuh semua pejabat tinggi dan menggantikan mereka dengan abdi-abdi pengikutnya sehingga tampaknya ia tidak mempercayai lagi pembesar-pembesar dari kalangan keluarganya sendiri. Begitu mudahnya sang Sunan membunuh orang, sehingga seorang pejabat Belanda, Michielsen, pernah berkomentar bahwa “Semoga suatu saat sang Sunan akan jenuh mengalirkan darah orang“.

Adik sang Sultan Amangkurat, Pangeran Alit merasa turut terancam karena kedekatannya dengan Tumenggung Wiraguna. Ketika seluruh teman-teman terbaiknya telah dibantai, Pangeran Alit mulai mendekati pemuka-pemuka Islam untuk menghilangkan kecurigaan terhadapnya. Di saat yang bersama ia mengumpulkan teman-temannya untuk mempersiapkan serangan terhadap sang Kakak. Mengetahui adanya plot tersebut, Amangkurat I tidak perlu pikir panjang untuk menghabisi sebagian pendukung adiknya. Terpancing atas provokasi tersebut, Pangeran Alit dengan kekuatan sekitar 60 orang pendukungnya, menyerbu alun-alun keraton dalam sebuah “pertarungan penghabisan berdarah” pada tahun 1647.

Kekuatan Pangeran Alit tersebut tidak sebanding dengan pasukan Sunan sehingga dapat dibasmi dengan mudah, hingga menyisakan Pangeran Alit seorang. Menurut catatan Belanda yang dipercaya, sang Sultan akhirnya membiarkan para Mantrinya untuk membunuh pangeran Alit atas alasan “pembelaan diri”, dengan itu bersihlah tangan sang Amangkurat dari darah adiknya sendiri.

Beberapa waktu kemudian sang Sultan kembali membunuh pemuka-pemuka agama Islam yang menurutnya telah memprovokasi sang Adik untuk menyerbunya. Menurut satu riwayat, dengan isyarat suara tembakan meriam dari Istana, tindakan pembantaian pun dimulai, dengan korban 5 sampai 6 ribu jiwa pemuda, anak-anak hinga wanita. Pada tahun 1659, Amangkurat kembali melakukan pembunuhan, kali ini terhadap Mertuanya sendiri, Pangeran Pekik beserta anggota keluarganya yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap sang Sultan.

Demikianlah gambaran tindakan Amangkurat yang mempengaruhi masa kehancuran Mataram, bahkan dalam laporan umum VOC di Batavia tanggal 16 Desember 1659, dikemukakan keyakinan bahwa apabila peperangan terjadi, Sang Sultan “tidak akan mudah meninggalkan istana Mataram karena di luar istana itu ia tidak merasa aman; dan ia pun tidak akan mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pembesar manapun, karena kelaliman pemerintahan yang dilakukannya menjadikan ia ditakuti dan dibenci setiap orang”.

Prediksi kompeni tersebut benar terjadi. Para penguasa lokal mulai menunjukan ketidaksukaanya terhadap penguasa Mataram. Satu per satu pangeran penguasa lungguh (tanah warisan) dan anggota keluarga Sunan sendiri mulai menentang kekuasaanya. Di daerah Jawa Timur, muncul kekuatan baru yang dipimpin Trunojoyo dari Madura menentang kekuasaan Mataram. Kekuatan Trunojoyo bertambah kuat seiring meningkatnya ketidakpuasan para pejabat dan masyarakat Mataram terhadap Amangkurat. Untuk menghadapi kekuatan Trunojoyo, Amangkurat mulai mendekati VOC untuk membantunya. VOC sendiri lebih suka berhubungan dengan Amangkurat daripada dengan Trunojoyo yang dianggapnya berbahaya. Pada bulan Desember 1676 VOC mengutus Speelman ke Jepara dengan 1200 orang tentara untuk membantu angkatan perang Amangkurat. Sebagai gantinya, Kompeni menuntut Amangkurat mengganti kerugian perang dan memberikan sebagian daerah kekuasaanya.

Singkatnya pada tanggal 28 Juni 1677 pasukan Trunajaya berhasil mengalahkan kekuatan Mataram-VOC dan memasuki keraton Plered. Namun sebelumnya, pada malam hari Amangkurat I beserta beberapa anggota keluarga dan putranya telah melarikan diri dari Keraton, bermaksud menuju Cirebon untuk berlindung ke Belanda. Amangkurat kemudian wafat dalam upaya pelarian tersebut, pada tanggal 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas. Sebelumnya ia berwasiat agar anaknya, Mas Rahmat kembali bekerja sama dengan VOC untuk merebut kembali takhta dari tangan Trunajaya. Mas Rahmat inilah yang nantinya bergelar Amangkurat II dan mendirikan Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram. Amangkurat I juga berwasiat untuk dimakamkan dekat gurunya di Tegal. Karena tanah daerah tersebut berbau harum, maka desa tempat Amangkurat I dimakamkan kemudian disebut Tegalwangi atau Tegalarum.

Pasca kematian Amangkurat I, kekuasaan VOC semakin kuat di nusantara, apalagi setelah keturunannya Amangkurat II berhasil membunuh Trunojoyo. Setelah itu, VOC menuntut pembayaran atas biaya perang yang telah dikeluarkan, maka berdasarkan perjanjian tahun 1678 jatuhlah kawasan Priangan ke tangan Belanda dari Mataram atas alasan penggantian biaya perang. Sejak itu juga, kekuasaan Mataram mengalami degradasi dan perpecahan.

Namun demikian, di luar segala gambaran buruk terhadap dirinya, Amangkurat I tetaplah seorang manusia yang pernah mengalami kisah cinta. Kebetulan episode kisah cinta antara Sang Sunan dan Ratu Malang, adalah yang paling banyak mengharukan hati banyak orang. Kisah ini dibahas dalam buku Runtuhnya Istana Mataram.

Alkisah sang Sunan memerintah abdinya untuk mencari wanita cantik. Maka ditemukanlah seorang wanita Cantik putri seorang dalang wayang, yang saat itu telah kawin dengan Kiai Dalem dan tengah hamil dua bulan. Keadaan tersebut tidak menghalangi kecintaan sang Sunan untuk mengawini terhadap sang wanita yang kemudian lebih dikenal sebagai Ratu Malang.

Untuk melancarkan niatnya mengawini sang wanita, Sang Sunan lantas membunuh Kiai Dalem, suami Ratu Malang. Mengetahui suaminya dibunuh, Ratu Malang sepanjang siang dan malam meratapi kematian suaminya. Ia jatuh sakit dan meninggal dengan gejala-gejala yang mencurigakan : mutah dan kotorannya encer. Sang Sunan mengira bahwa kematian wanita yang dicintainya disebut dikarenakan para selir-selir kerajaan yang cemburu kepadanya. Apalagi ketika sakit, Ratu malang selalu memanggil-manggil Kiai Dalem, sehingga Sunan menduga bahwa penyakit sang Ratu disebabkan oleh semua orang yang tinggal di dalem(istana). Kecurigaan muncul bahwa para dayang-dayang kerajaan telah meracuni sang Ratu. Kematian Ratu Malang yang menurut babad terjadi pada tahun 1655 M.  memberikan luka yang sangat mendalam bagi sang Sunan Amangkurat. Jenazah sang Ratu kemudian dibawa ke Gunung Kelir, tetapi liang lahat tidak ditutupi karena Sunan tergila-gila mencintainya sehingga siang dan malam ia menjaga di samping jenazah ratu Malang. Kepergian Raja menimbulkan kekacauan di Keraton. Keluarga dan para Bupati memohon kepadanya supaya kembali pulang. Pada suatu malam, Sunan mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem. Setelah terbangun, dilihatnya kembali jenazah ratu malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Ia pun kembali ke keraton dan dengan marah diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali menjadi tenang. Dari riwayat Valentijn (Valentijn, Oud en Nieuw, Jil. IV) kisah tersebut diungkapkan sebagai berikut :

 

Konon di bawah pemerintahan Sunan ini ada salah seorang istrinya “bernama Njaij Maas Maling (Malang)” yang bisa memperoleh apa saja dari Raja. Ketika wanita itu meniggal, Sunan menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan segala masalah kerajaan. Setelah pemakaman istrinya, diam-diam ia kembali ke makam istrinya tanpa diketahui seorang pun “dan begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri , dan turut membaringkan dirinya di dalam kuburan. Sementara para wanita lain di Istana kalang kabut mengatakan “Baginda hilang dan tidak dapat ditemukan di mana pun”. Setelah dicari kian kemari akhirnya ditemukan “di dalam kubur dekat jenazah istrinya yang sudah berbau busuk” Hampir tidak dapat Pangeran Purbaya (paman sang sunan) memaksanya pergi dari tempat itu, dan mengajaknya kembali ke istana.

 

Kematian kekasihnya menimbulkan amarah di diri sang Sunan. Entah karena mencurigai para selirnya meracuni sang istri atau karena menganggap mereka tidak becus mengurus sang istri, Sang Sunan lantas memerintahkan agar 43 orang selirnya “ditahan di suatu tempat tertentu tanpa diberi makan atau minum, dan siapa saja yang kelaparan, dipaksa makan sesama mereka yang sudah mati, sampai akhirnya seorang saja yang tinggal.” Kepada selir terakhir yang masih hidup ini Sunan bertanya, mengapa ia tidak mati juga. Selir itu menjawab, “Hamba tidak tahu, Sri Baginda.” “Baiklah”, katanya, “Tetapi kau akan menyusul istriku yang sudah mati.”. Setelah itu diperintahkannya selir itu dikuburkan hidup-hidup di sebelah makam permaisurinya.

Selain selir-selir ini masih ada 350 orang lagi yang melayang jiwanya. Raffles dalam History of  Java turut mengisahkan kejadian ini : “…Sang Raja, mengurung enam puluh orang dayang-dayang istrinya dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua…,” tulis Raffles.

Sang Sunan ternyata turut menyayangi anak yang dilahirkan sang Ratu Malang. Namun karena merasa sedih mengingat istrinya apabila melihat sang anak, sang Sunan memerintahkan sang anak untuk pergi ke daerah Wawala, barat daya Mataram. “Bila ananda saya biarkan bersama di sini, maka saya selalu terbayang ibu ananda”, ujar sang Sunan.

Kisah cinta Amangkurat I – Ratu Malang yang indah namun tragis ini mungkin telah mengalami dramatisasi khas kisah babad atau bumbu-bumbu tendensi khas para penulis sejarah Belanda. Namun dari gambaran tersebut setidaknya kita bisa saja menduga-duga kejadian yang sebenarnya, bahwa pada intinya Amangkurat I yang terkenal sadis  pun bisa mengalami jatuh cinta kepada seorang wanita, yang tetap saja diwarnai kekejaman.

****

Kajian dan kisah-kisah seputar Mataram seperti di atas sangat menarik menurutku, salah satunya karena kerajaan ini menghasilkan dua Raja yang masing-masing menyimbolkan dua kondisi yang bertolak belakang. Sultan Agung, sang ayah, dengan kepemimpinan ala Jawanya yang ideal, protagonis, bijaksana dan layak diteladani. Sedangkan sang anak, Amangkurat I mewakili sifat ekstrim seorang pemimipin : kejam, antagonistik, paranoid, dan sebutkan sifat buruk lainnya sesuka anda. Sang ayah membesarkan kerajaan, sang anak yang menggerusnya. Sang ayah melawan penjajah, sang anak menjadi kolabolator. Tapi begitulah kenyataan sejarah yang selalu berulang di Indonesia, suatu bentuk lain dari Mataram, ketika “anak-anak” raja tidak selalu mampu mempertahankan apa yang dibangun oleh ayahnya. Tapi ada satu hal yang menarik di sini, seperti yang diakui para sejarawan Belanda, adalah bahwa seburuk dan sekejam apapun pemimpinnya, rakyat Jawa selalu menghormatinya. Hingga kini masyarakat Jawa masih menghormati makam Amangkurat I di Tegal Wangi sebagai keramat. Tidak ada yang mengenang Amangkurat sebagai tokoh yang menyeramkan. Bandingkan dengan Hitler yang hingga kini dipandang sebagai aib sejarah oleh kebanyakan penduduk Jerman.

Rakyat Jawa selalu bersyukur atas apapun yang menimpanya. Selalu berkata “Untung tidak ini  atau untung tidak itu…” mengikuti istilah Clive Day “Bad government is better than the anarchy of a war of succesion“. Pemerintahan yang kejam setidaknya lebih baik daripada peperangan.  Adalah suatu kenyataan bahwa kejatuhan Amangkurat I lebih dipengaruhi oleh kekuatan eksternal, karena memang susah sekali mengharapkan perubahan di tengah masyarakat yang serba nrimo di Jawa… Dapat pemimpin bagus ya syukur, dapat pemimpin buruk ya biar Tuhan yang membalasnya.

Makam Amangkurat I di Tegal Wangi. Sumber : http://primbondonit.blogspot.com

Sebagai penutup, buku-buku kajian Javanologi seperti yang diantaranya sudah kubahas di atas saat ini memang agak sulit ditemukan lagi. Beberapa buku memang sudah diterbitkan ulang, namun kedua buku yang kubahas di atas sepertinya tidak termasuk di dalamnya.  Untuk itu, perlu usaha agak keras untuk bisa menemukan buku ini di pasar-pasar buku loak  maupun di toko online. Harganya pun termasuk mahal, kurang lebih antara 70 ribu hingga 100 ribu rupiah tiap eksemplarnya, naik berlipat ganda dibandingkan harganya ketika diterbitkan dulu. Pokoknya apabila anda bisa mendapatkan dengan harga di bawah itu anda sangat beruntung. Buku ini memang layak mengisi rak buku koleksi penggemar sejarah.

 

Diunggah dari: Shantijehannanda.com

Judul Asli: Moster itu Bernama Amangkurat I

Penulis: Santi Jehannanda

Gambar Sampul: …