PENDAHULUAN

Prasasti Hariñjing memiliki riwayat panjang mulai pertama kali ditemukan hingga mendapat perhatian dari para peneliti arkeologi kebangsaan Belanda, Prancis, dan Indonesia.

Sekitar tahun 1916 seorang bernama W. Pet selaku Administratur Perkebunan Kopi (Koffie-Onderneming) yang bertugas di Desa Sukabumi, Daerah Pare-Karesidenan Kediri melaporkan kepada Dr. P.V. van Stein Callenfels tentang adanya sebuah temuan prasasti batu dari daerah dekat Kampung Baru. Saat itu prasasti tersebut berada di depan rumah administratur.

Berita temuan tersebut termuat dalam laporan O.D. (Oudheidkundige Dienst/Dinas Purbakala Masa Hindia-Belanda) tahun 1916. Selanjutnya setelah W. Pet digantikan oleh Th. Klusman, prasasti batu tersebut dipindahkan lagi ke sebuah bangunan dekat dengan beranda depan rumah administratur. Pada akhirnya prasasti batu tersebut dipindahkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschaapen (Sekarang Museum Nasional) di Jakarta dan dicatat dengan nomor D 173. Sampai saat ini prasasti batu tersebut berada di Museum Nasional dengan kode yang sama yaitu D 173.

Batu prasasti ini ditranskripsi pertama kali oleh Stein Callenfels dalam karyanya yang berjudul “De Inscriptie van Soekaboemi”. Selanjutnya mendapat koreksi analisis penanggalannya dari seorang sarjana Prancis ternama bernama L. Ch. Damais. Mengenai koreksi selanjutnya dilakukan oleh ahli epigrafi (ilmu tulisan kuno) berkebangsaan Indonesia bernama M.M Soekarto Kartoarmodjo (Atmojo, 1985:47). Awalnya prasasti ini disebut dengan inskripsi dari Sukabumi karena ditemukan di daerah Sukabumi. Namun setelah adanya pembacaan dan ditemukan kalimat yang berisi tentang pembuatan sungai di Hariñjing, dengan demikian dinamakan Prasasti Hariñjing.

Prasasti Hariñjing memiliki tinggi 118 sentimeter dengan adanya lapik bagian bawahnya berhias bunga teratai merah (Padmāsana). Prasasti Hariñjing ditulis dengan Aksara dan Bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini memuat tiga peristiwa yang memiliki waktu penanggalan yang berbeda namun masih berhubungan. Berdasarkan hasil perhitungan dari L. Ch.

Damais diketahui bahwa Prasasti Hariñjing A berangka tahun 726 Saka (25 Maret 804 Masehi), Prasasti Hariñjing B berangka tahun 843 Saka (19 September 921 Masehi), dan Prasasti Hariñjing C berangka tahun 849 Saka (7 Maret 927 Masehi) (Atmojo, 1985:47-48). Sejauh belum ditemukan prasasti lain yang lebih tua, Prasasti Hariñjing (804 Masehi) hingga saat ini menjadi prasasti tertua yang ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno.

Sebenarnya ada prasasti yang lebih tua yang ditulis dengan aksara Jawa Kuno, yaitu Prasasti Hamran (Salatiga) berangka tahun 750 Masehi dan Prasasti Dinoyo I dari dekat Candi Badut-Malang berangka tahun 760 Masehi, namun keduanya masih menggunakan Bahasa Sansekerta (Zoetmulder, 1974:3). Mengenai isi dari Prasasti Hariñjing A, Prasasti Hariñjing B, dan Prasasti Hariñjing C akan dipaparkan pada sub-bab selanjutnya.




PAPARAN ISI PRASASTI HARIÑJING

Berikut ini adalah hasil pembacaan Prasasti Hariñjing A, Prasasti Hariñjing B, dan Prasasti Hariñjing C dari Dr. P.V. van Stein Callenfels, kemudian mendapat koreksi dari L. Ch. Damais (khususnya berkaitan dengan penanggalannya), dan selanjutnya mendapat koreksi dari M.M Soekarto Kartoarmodjo membuahkan hasil pembacaan atau alih aksara seperti di bawah ini. Mengenai terjemahan dalam Bahasa Indonesia digunakan bahasa yang mudah dipahami dengan penambahan kata-kata penjelas, dan untuk kata-kata yang tidak dapat terbaca akan diberikan tanda “……..”. Berikut ini hasil alih aksara dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia.


Prasasti Hariñjing A (25 Maret 804 Masehi)


Sisi Depan (Recto)

  1. Swasti sakawarṣātīta 726 Caitra (Selamat tahun saka telah berlalu 726 Bulan Caitra[Maret-April])
  2. māsa tithi ekādaśī śuklapaksa wāra ha. wa. so tatkā (tanggal sebelas. paro terang. harinya [Ha]riyang, [Wa]gai, [So]ma/Senin (diekuivalenkan ke masehi menjadi 25 Maret 804 Masehi). Ketika
  3. la Bhagawanta Bārī i Culanggi sumaksyakan sīmaniran mula ḍawu (seorang pendeta agung [Bhagawanta] bernama Bārī dari Culanggi menyaksikan [mengudang orang untuk menjadi saksi] penetapan tanah sīmanya [tanah bebas pajak/perdikan] diperoleh dari pembuatan tanggul [ḍawuhan])
  4. han gawainira kali i Hariñjing hana ta ḷmaḥ ḍapu bhī sang apatih a (dibuatlah sungai di Hariñjing adapun tanah milik Ḍapu Bhī seorang patih tua/sepuh)
  5. tuha kāmbah deni kali hinêlyan ḷmaḥ satamwah de Bhagawanta Bārī pa (tergenang aliran [air] sungai yang mengalir [seluas] satu tamwah oleh Bhagawanta Bārī)
  6. mêgêt sang panggumulan parttaya sang kamalagyan anu hinanākan rika kāla wa (Pemutus perkara bernama Sang Panggumulan, orang kepercayaan bernama Sang Kamalagyan [datang sebagai saksi]serta yang [juga] didatangkan pada waktu itu seorang pejabat)
  7. huta sang labihan pitungtung ḍaman waca panigran ḍaman gundu parwuwus sang apatih ḍa (bernama Sang Labihan, tokoh yang ditinggikan bernama Ḍaman Waca, pembuat kesepakatan [?] bernama Ḍaman Gundu, Juru Bicara bernama Sang Apatih Ḍaman)
  8. man gundu winêkas ḍaman gandhang parwuwus ḍaman gamêl lawan ḍaman cali gusti (Gundu, Pemberi Perintah bernama Ḍaman Gandhang, Juru Bicara bernama Ḍaman Gamêl serta Ḍaman Cali, Bangsawan)
  9. ḍapu landap tuhaḍihulu ḍapu gundu …. watan. acur hulêr ḍapu …. kan apkan ḍa (bernama Ḍapu Landap, Kepala pimpinan para petugas bernama Ḍapu Gundu ……watan[?]. petugas pengatur pengairan bernama Ḍapu…….. kan[?], Petugas pengurus pasar bernama )
  10. pu undun hulu kuwu ḍapu santan wuang atuha sang wulawan lawan ḍapu patêt tuha wêrêh ḍaman (Ḍapu Undun, Pimpinan Permukiman bernama Ḍapu Santan, orang yang dituakan bernama Sang Wulawan dan Ḍapu Patêt, Pimpinan para pemuda bernama Ḍaman Er)
  11. er wariga ḍaman udaya citralekha ḍapunta waca nāhan sira rāma i paraḍah anu hinanākan (Ahli pertanggalan bernama Ḍaman Udaya, Penulis prasasti bernama Ḍapunta Waca, demikian [juga] para rāma [pimpinan daerah yang terhormat] dari Paradah yang didatangkan )
  12. rika kāla // rāma i bagu winkas ḍapu tahani gusti ḍapu natu tuhaḍihulu ḍapu garbu wka wuang (pada waktu itu // rāma dari Bagu [di antaranya] Penyampai pesan bernama Ḍapu Tahani, Bangsawan bernama Ḍapu Natu, Kepala pimpinan para petugas bernama Ḍapu Garbu, anak-anak muda)
  13. matuha saka sang er lāwan ḍapu tiwul awatas ḍaman wanyaga apêkan ḍaman wahang …. (pengatur hubungan pertemanan bernama Sang Er dan Ḍapu Tiwul, Petugas penentu batas tanah bernama Ḍaman Wanyaga, Petugas Pasar bernama Ḍaman Wahang ….. )
  14. tu ḍaman sampanna parwuwus sang majalu bsi lāwan ḍaman bangun wariga ḍapu taji tuha wêrêh daman dahara (tu [?] bernama Ḍaman Sampanna, Juru bicara bernama Sang Majalu Bsi dan Ḍaman Bangun, Ahli pertanggalan bernama Ḍapu Taji, Pimpinan para pemuda bernama Daman Dahara)
  15. ni tuha buru ḍaman kuñja tuhalas ḍaman wacana lāwan ḍaman wihar tuha kalang ḍaman wanua (Pengawas perburuan bernama Ḍaman Kuñja, Pengawas hutan bernama Ḍaman Wacana dan Ḍaman Wihar, Pemimpin golongan kalang [mungkin tukang kayu atau pembuat bangunan] bernama Ḍaman Wanua)
  16. parwuwus ḍaman lampuyang wadahuma ḍaman waca tuha padahi si bunta lāwan si kāryya kulapati i (Juru Bicara bernama Ḍaman Lampuyang, Pengatur masalah rumah tangga bernama Ḍaman Waca, Pimpinan pemain gendang bernama Si Bunta dan Si Karyya, tokoh masyarakat dari )
  17. Hariñjing ḍapunta manḍi kulapati i lalatȇng ḍapu aman kulapati i bubul dapunta karugnan tp siring anung (Hariñjing bernama Ḍapunta Manḍi, tokoh masyarakat dari Lalatêng bernama Ḍapu Aman, tokoh masyarakat dari Bubul bernama Dapunta Karugnan, dari daerah batas wilayah yang menjadi)
  18. sākṣi ḍaman guntar i garaga ḍaman damên nāhan sira. aligrama sakṣinira sakṣyakên ikana sīmanira mula (saksi bernama Ḍaman Guntar, dari daerah Garaga bernama Ḍaman Damên itulah semuanya. Orang-orang yang telah datang menjadi saksi untuk melihat secara langsung penetapan status sīma-nya [Bhagawanta Bārī] yang diperoleh dari pembuatan)
  19. ḍawuhan // kunang tinaḍah bhagawanta i ramanta gawai sang aswa syamah (?) warangan pitu, kawêrêhan inuman (tanggul [ḍawuhan] // Adapun yang diterima oleh Bhagawanta dari para pimpinan wilayah yang paling terhormat membuat selera makan menjadi nikmat, hidangan sayur-sayuran syamah [?] untuk berpesta ria tujuh minuman yang bisa membuat awet muda [kuat])
  20. amunuhatasamada (?) awaknira sira kunang yan gawai i sabya …. salwiranira // niyanta wṛddhinira mu. an. sang pa (menaruh perhatian terhadap tubuh beliau apabila mengerjakan sesuatu yang pantas dilakukan …….. segala macam // benar-benar sebuah kemajuan [daerah] yang dikerjakan beliau [Bhagawanta Bārī] beserta Sang pemutus perkara)
  21. mgat lasun deni …. bhagawanta ḍapu lanḍap …. anta …. an … (berasal dari Lasun oleh ……. Bhagawanta, Ḍapu Lanḍap …. anta ….. an …).
  22. ḍapu hadyan ḍapu sūra ḍaman kuñja panigran sang taruk ramānta ri tajam wina … sangka. i. sang arawisa (Ḍapu Hadyan, Ḍapu Sūra, Ḍaman Kuñja, pembuat kesepakatan [?] bernama Sang Taruk, Pimpinan wilayah yang terhormat dari Tajam wina[?]…. sangka[?]. dari Sang Arawisa)
  23. i sangkawu i sangkāra i sang …. i sangsala i sangngang nāhan kawṛddhini gawe Bhagawanta i (di Sangkawu, di Sangkāra, di Sang….. di Sangsala, di Sangngang, itulah sebuah kemajuan [daerah] yang dilakukan oleh Bhagawanta dari)
  24. Culanggi //-// …. i bagu i kukap i watu walu (Culanggi //-// …..di Bagu, di Kukap, di Watu Walu)
  25. …. ralan tpisiringnya watêk (……. daerah perbatasan wilayah)


Sisi Kanan:

  1. Rangga manggêhan tangkilsugih raṇda (Rangga, Manggêhan, Tangkilsugih, Raṇdamman)
  2. mman nahan sakweh nikang wanua ka (itulah semua desa yang diikutsertakan)
  3. samwahan deni gawai Bhagawanta Bārī (dalam pekerjaan [yang dilakukan oleh] Bhagawanta Bārī)


Prasasti Hariñjing B (19 September 921 Masehi)

  1. // Swasti śakawarṣātīta 843 (Selamat tahun saka telah berlalu 843)
  2. aśujimāsa tithi pañcadasi śuklapaksa wāra ha. u. (Bulan Asuji [september-oktober]. tanggal limabelas. Paro terang. Harinya [Ha]riyang, [U]manis/legi)
  3. bu nakṣatra uttarabhadrawāda ahnibudhna dewāta wṛsayoga ta ([Bu]dha/rabu (diekuivalenkan ke masehi menjadi 19 September 921 Masehi). Pada perbintangan terletak pada uttarabhadrawāda. Penguasa waktu terletak pada Waktu selama gerak bersamaan antara bulan dan matahari dalam posisi 13°20’ terletak padawṛsa )
  4. tkala ajña Śrī Mahārāja Rake Layang Dyah Tuloḍong tinadah rakryan (ketika perintah dari Śrī Mahārāja Rake Layang Dyah Tuloḍong diterima oleh Rakryan )
  5. mapatih i hino mahāmantri śrī ketudharamanimantaprabhāprabhusaktitri (Mapatih i Hino Mahāmantri Śrī Ketudharamanimantaprabhāprabhusaktitri)
  6. wikrama umingsor ing rakryan mapatih halu wka sirikan kalungwarak tiruan muang (wirama kemudian diturunkan kembali kepada [pejabat tinggi istana yaitu] Rakryan, Mapatih dari daerah Halu, Wka, Sirikan, Kalungwarak, Tiruan dan )
  7. pamgat bawang tiruan halaran kumonnakan saṣana sang dewata lumah i kwak ka (pemberi keputusan [terdiri dari] Bawang, Tiruan, Halaran memerintahkan surat perintah dari almarhum yang dicandikan di Kwak)
  8. pagȇhakna ni wka Bhagawanta Bārī sang magawai kali i Hariñjing ikanang tan kolāhala (untuk diperkuat kembali oleh anak Bhagawanta Bārī seorang tokoh yang telah membuat sungai di Hariñjing [agar] tidak diganggu gugat)
  9. deni patih wahuta rāma muang tan katamāna dening saprakāra ni mangilāla dṛbyahaji (oleh [pejabat istana terdiri dari] Patih, Wahuta, Rāma serta tidak didatangi oleh para abdi dalem istana [mangilāla dṛbyahaji])
  10. kring paḍammapuy tapahaji erhaji tuhān tuha dagang tuhā huñjamman manghuri kutak ka ([di antaranya] petugas pemadam kebakaran, penjaga tempat pertapaan milik raja [?], Penjaga air milik raja, para pimpinan, ketua perdagangan, ketua kelompok masyarakat, juru tulis di istana, Pemukul)
  11. payungngan pakalangkang pamanikan limus galuh pengaruhan manimpiki malañjang lba kalungwa (Petugas Pembawa Payung [?], Pekerja Bangunan Kayu [?], Pembuat Manik-manik, Pembuat Perhiasan Emas, Tukang Emas, Tukang Ukir, Pengawas Perjudian, Asisten Pengawas Perjudian, Kalungwarak [?], )
  12. rak wungkal tajam paranakan kḍi walyan widu mangidung singgah mamṛsi hulun haji wata (Tukang Mempertajam Batu, para anak buah dari dukun wanita, dukun laki-laki, Biduan, Singgah [?], Pejabat Keagamaan, Pelayan Raja, [golongan] yang tinggal di )
  13. k i jro ityewamādi saprakāra ni mangilala dṛbyahaji miśra paramiśra tan tamātah i (dalam [keraton] dan selanjutnya seluruh abdi dalem istana [mangilala dṛbyahaji] [khususnya] pemungut pajak usaha kerajinan tidak ingkar [memasuki] )
  14. sthā ni wka Bhagawanta Bārī i Culanggi sang girigil muang ikāng kabikuan mula sa …. mā ma (daerah tempat tinggal para anak Bhagawanta Bārī di Culanggi, Sang Girigil dan sebuah bangunan suci untuk para wiku [bhiksu] …mā ma [?])
  15. kangaran i wulahya ing waruk ing śambung ing wilang kewala pamasangnya mās su 1 maparah. (bernama di Wulahya, di Waruk, di Śambung, di Wilang hanya memasang [membayar] emas 1 suwarṇa diberikan)
  16. i śrī mahārāja mijil angkȇn cetra ka 3 i sang pamgat asing juru i kaḍiri ikang i wilang (kepada śrī mahārāja dikeluarkan [perintahnya] setiap Bulan Caitra [Maret-April] tanggal 3, kepada Sang Pemutus Perkara bernama Asing petugas di Kaḍiri, yang dari Wilang)
  17. mās 4 winijilakannya byaya ni masa rinapi i wulahya mās 1 winijilakannya ḍa (mengeluarkan 4 emas sebagai biaya bulan rinapi [pemujaan?], dari Wulahya mengeluarkan 1 emas sebagai [biaya])
  18. lāñnira ggawaiyakan ikanang dharma kali i Hariñjing nāhan bālaśrama ni mangatag ma (untuk membuat bangunan suci [dekat] sungai di Hariñjing. Itulah hadirnya asrama yang)
  19. ngkana pingsor nikanang ajña haji kinonnakan hatguhakna tan kolahulah hatka ri dhāla ning (menyebabkan diturunkannya perintah raja agar tetap dikokohkan tidak dapat diganggu gugat hingga di masa mendatang [dhāla ning dhāla])
  20. dlāha kunang yan hana patih wahuta rāma muang mangilala dṛbyahaji tan parabyapāra i sthāna ni wka Bha (apabila ada Patih, Wahuta, Rāma serta abdi dalem istana [mangilala dṛbyahaji] mengganggu di lingkungan tempat tinggal para anak)
  21. gawanta Barī ya sangkānani pramādanya salwirani langghana ring ajña haji lwiranya nigrahān ya ri mās kā 1 (Bhagawanta Barī lebih-lebih kalau melalaikan apalagi melanggar perintah raja, maka akan mendapat denda emas 1 kāti [dan])
  22. su 2 matanya deya nikana hana mangilala patih wahuta rāma kabeh kayatnāknanya soni nikeng surat (2 suwarna, oleh karena itulah untuk keberadaan abdi dalem [seperti] Patih, Wahuta, Rāma semuanya harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh yang tertulis)
  23. praśasti sāṣana śrī mahārāja //–// (dalam prasasti perintah śrī mahārāja)


Prasasti Hariñjing C (7 Maret 927 Masehi)

  1. muwah śaka 849 caitramasa tithī pratipāda śukla (serta tahun saka 849 Bulan Caitra [Maret-April] Tanggal pertama paro terang)
  2. wara wā. u. bu. Tatkala ni wka Bhagawanta Bārī mintonakan anugraha sang lumāh ri kwa (Harinya [wā]s, [u]manis, [bu]dha/rabu(diekuivalenkan ke masehi menjadi 7 Maret 927 Masehi). Ketika para anak [keturunan] Bhagawanta Bārī memperlihatkan sebuah anugerah dari almarhum yang dicandikan di Kwak)
  3. k tinaḍah rake hino mpu ketu makasambandha pakon sang pamgat momahhumah kaka (diterima oleh Rakai Hino Mpu Ketu sebagai alasannya yaitu perintah dari Sang Pemutus Perkara tentang urusan perumahan kakak)
  4. n rake sumba sang pamgat anggȇhan sang parpāt sira ta kumonnakan ikang prasasti umnahhakna ya wung (dari Rakai Sumba, Sang Pemutus Perkara tentang hubungan seseorang bernama Sang Parpāt, mereka memerintahkan agar prasasti dipahatkan pada batu)
  5. kal kweh ni wka Bhagawanta Bārī i Culanggi sang giwil sang trayi sang saśrā sang pulas ri wilang sang banat (semua anak keturunan Bhagawanta Bārī dari Culanggi [di antaranya] Sang Giwil, Sang Trayi, Sang Saśrā, Sang Pulas di Wilang, Sang Banat)
  6. sang durak ring sambung sang ngrawit sang uwir ri wulahya sang wasȇh sang bayakā ri waruk sang wadhi sang kinang nāhan (Sang Durak di Sambung, Sang Ngrawit, Sang Uwir di Wulahya, Sang Wasêh, Sang Bayakā di Waruk, Sang Wadhi, Sang Kinang. Itulah [nama-nama])


Sisi Kiri

  1. kwehnira wka Bhagawanta Bārī umanhhakan nikang (semua anak keturunan Bhagawanta Bārī yang [meminta untuk] menuliskan)
  2. prasasti ri wungkal kunang ta kweh (?) sang lumah ri kwa (prasasti di batu. Demikian pula sang tokoh yang dicandikan di Kwak)
  3. k asing umulahhulaha ikang anugraha sangyang su (?) (siapapunn yang berani mengganggu gugat anugerah sang hyang su [?])
  4. kram (?) upadrawa yan ….. kuha …. jnā….. (kram [?] akan mendapat bencana apabila…… kuha [?]…. jnā…….)
  5. ………………………………………………….. //-// (………………………………………..).
    (Casparis (1978) dalam Annisa, 2011; Atmojo, 1985:49-63; Zoetmulder, 1982; Yogi, 1996)

 

KESEJARAHAN DAN NILAI-NILAI BUDAYA DALAM PRASASTI HARIÑJING
Peristiwa sejarah yang tertulis dalam Prasasti Hariñjing seperti yang sudah dipaparkan di atas, terdiri dari tiga masa pemerintahan raja Kerajaan Mḍang (Mataram Kuno) yang masih berpusat di Jawa bagian Tengah.

Prasasti Hariñjing A berasal dari tanggal 25 Maret 804 Masehi, menceritakan tentang seorang tokoh pendeta agung (Bhagawanta) bernama Bārī yang membuat tanggul (ḍawuhan) beserta sungai di Hariñjing dengan mendatangkan beberapa tokoh pejabat sebagai saksi. Tahun tersebut merupakan masa pemerintahan Rakai Warak Dyah Wanara yang naik tahta Kerajaan Mḍang (Mataram Kuno) tahun 803 Masehi (Atmojo, 1985:78).

Prasasti Hariñjing B berasal dari tanggal 19 September 921 Masehi, menceritakan dikuatkannya kembali status sīma (perdikan) milik Bhagawanta Bārī oleh Raja Rakai Layang Dyah Tulodong serta diberikan kepada para anak keturunan Bhagawanta Bārī. Prasasti Hariñjing C berasal dari tanggal 7 Maret 927 Masehi, menceritakan agar prasasti sebagai surat keputusan raja yang sah dan diduga ketika itu masih ditulis pada rontal (ripta prasasti) atau lempengan logam (tamra prasasti) agar ditulis pada sebuah batu. Tahun 921 dan 297 Masehi merupakan masa pemerintahan Rakai Layang Dyah Tulodong di Kerajaan Mḍang (Mataram Kuno) (sekitar 919-927 Masehi) (Hardiati dkk, 2010: 178 & 182). Berdasarkan keterangan dalam Prasasti Hariñjing C dapat diketahui bahwa batu tulis Prasasti Hariñjing yang saat ini menjadi koleksi Museum Nasional-Jakarta ditulis pada tanggal 7 Maret 927 Masehi.

Kisah Bhagawanta Bārī yang diceritakan dalam Prasasti Hariñjing A merupakan perilaku yang patut untuk dijadikan teladan dalam kehidupan masa dewasa ini.

Sang Bhagawanta Bārī membangun tanggul (ḍawuhan) beserta sungai di Hariñjing merupakan suatu upaya untuk menanggulangi bencana banjir. Manfaat dari peristiwa pembangunan tanggul (ḍawuhan) beserta sungai di Hariñjing untuk masyarakat di sekitarnya yaitu mempermudah mendapatkan air untuk keperluan irigasi persawahan dan perkebunan, sehingga dapat meningkatkan hasil bumi yang melimpah.

Sikap seperti ini relevan dengan Nilai Peduli Lingkungan dalam Konsep Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, yaitu tindakan yang selalu berupaya untuk mencegah kerusakan lingkungan alam serta memperbaiki kerusakan tersebut. Selain itu peristiwa tersebut juga berkaitan dengan Nilai Peduli Sosial, yaitu sikap serta tindakan yang selalu memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.

Selanjutnya kisah Bhagawanta Bārī seperti diceritakan dalam Prasasti Hariñjing A, yaitu mengundang para saksi serta mengadakan acara pesta makan dan minum dengan nikmat untuk memperingati selesainya pembuatan tanggul (ḍawuhan) beserta sungai serta sikap para raja yang menghargai jasa Sang Bhagawanta Bārī relevan dengan Nilai Menghargai Prestasi, yaitu tindakan yang mendorong seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat serta mengakui dan menghormati keberhasilan karya orang lain.

Sikap Bhagawanta Bārī yang membangun bangunan suci (dharma) di sekitar Sungai Hariñjing yang nantinya diperkuat kembali oleh keturunannya, sangat relevan dengan Nilai Religius, yaitu perilaku yang patuh melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Hasan dkk, 2010:9-10).

Dari kisah Sang Bhagawanta Bārī terdapat pelajaran moral yang sangat berharga, yaitu “perbuatan baik seseorang akan selalu dikenang sepanjang masa”. Selanjutnya yang mendapatkan manfaat dari perbuatan baik tersebut tidak hanya sang tokoh semata, melainkan sampai turun para keturunannya.

Hal ini terbukti dari kisah Sang Bhagawanta Bārī yang mendapatkan anugerah sīma (bebas pajak) dalam Prasasti Hariñjing A yang kemudian dapat dinikmati oleh anak keturunannya seperti yang diceritakan dalam Prasasti Hariñjing B dan C. Nilai-nilai budaya seperti ini sangat penting untuk diwariskan kepada generasi muda masa dewasa ini. Oleh karena itulah penting untuk mengajak generasi muda mempelajari sejarah.

Menurut Widja (1988:55) sejarah merupakan sumber kekuatan untuk menggerakkan sebuah usaha, semakin menyadari nilai-nilai sejarah maka akan memiliki kekuatan untuk menumbuhkan sifat, watak, dan kemampuan yang diinginkan.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah tokoh yang dapat dijadikan teladan dan tertulis dalam prasasti yang ditemukan di daerah Kediri. Salah satunya yang terdapat dalam Prasasti Ckêr yang berasal dari daerah Kecamatan Mojo-Kabupaten Kediri dari tahun 1107 Saka (11 September 1185 Masehi) (lihat foto 02).

Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Paduka Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara Triwikramāwatāra Aniwaryyawīryya Parākrama Digjayotunggadewanama. Prasasti tersebut dahulu pernah dinyatakan hilang (Atmojo, 1985:72). Namun setelah ada penelitian dari Pusat Penelitian Arkologi Nasional dan EFEO dibantu Komunitas PASAK dan Kojakun Sutasoma yang mengadakan kegiatan abklatsch prasasti koleksi Museum Airlangga Kota Kediri tahun 2012, ternyata Prasasti Ckêr selama ini tersimpan di Museum Airlangga Kota Kediri. Prasasti itu berisi tentang kisah masyarakat Ckêr (duwan i Ckêr) datang menghadap raja dan memberitahukan bahwa pernah menerima anugerah dari raja yang memerintah sebelumnya.

Mereka meminta prasasti tersebut diminta untuk dikuatkan atau ditulis pada sebuah batu. Selanjutnya juga diceritakan tentang kisah Sri Maharaja yang kembali ke kedudukannya di Bhumi Kadiri (mantuk ri sīmanira ring Bhūmi Kadiri), sehingga memunculkan dugaan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan adanya serangan musuh sehingga sang raja harus meninggalkan istananya (Hardiati dkk, 2010:292). Sikap yang dilakukan oleh penduduk Ckêr tersebut relevan dengan Nilai Cinta Tanah Air dalam Konsep Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

prasasti-ceker

Prasasti Ckêr Koleksi Museum Airlangga-Kota Kediri
(Foto: Aang Pambudi Nugroho, 2017)

Mengenai tokoh Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara pernah diduga oleh Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka sebagai tokoh Panji Inu Kertapati dalam Naskah Cerita Panji. Kalau dalam Naskah Cerita Panji terdapat nama Panji Inu Kertapati yang memiliki istri Dewi Candrakirana, sementara itu dalam Kakawin Smaradahana yang digubah oleh Mpu Dharmaja dari zaman pemerintahan Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara, menyebutkan sang raja memiliki istri bernama Sri Kiranaratu (Poerbatjaraka, 1986:XI).

Namun pendapat tersebut sampai saat ini masih menimbulkan perdebatan di antara para ahli. Lebih menarik lagi dalam Kakawin Smaradahana, ternyata Mpu Dharmaja dalam bagian manggala (pembukaan) menyebutkan bahwa Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara juga sebagai panji. Kutipan lengkapnya sebagai berikut, “yan riṅ praṅ kita siŋha wīra taruṇārjāpañji śūreṅraṇa”, artinya kalau di medan perang anda bagaikan singa yang gagah berani, muda, dan tampan bernama Pañji Surengraṇa (Manu, 1986).

Tidak hanya Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara, istilah “Pañji’ sebagai gelar kebangsawanan juga banyak tertulis dalam prasasti untuk mengawali nama-nama pejabat tinggi khususnya dari zaman pemerintahan Kerajaan Kadiri hingga Majapahit.

 

PENUTUP

Terima kasih kepada para peneliti yang telah berjasa melakukan penelitian terhadap Prasasti Hariñjing hingga dapat menjadi pedoman penentuan Hari Jadi Kabupaten Kediri. Pesan tim penyusun dalam karya tulis ini kepada pembaca yang budiman yaitu jangan hanya memandang sejarah dari ceritanya yang panjang lebar, namun carilah nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan keteladanan untuk masa kini dan masa yang akan datang. Itulah warisan budaya yang sangat penting untuk dipelajari dan diwariskan kepada generasi muda bangsa Indonesia.


Daftar Pustaka

Annisa. 2011. Penggunaan Kronogram di Indonesia,Vietnam, dan Kamboja Abad VII-XIV M: Pendekatan Arkeologis dan Epigrafis. Tesis tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Ilmu Budaya UI.

Atmodjo, S. 1985. Hari Jadi Kediri. Yogyakarta: Lembaga Javanologi.

Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti, T.S. 2010. Zaman Kuno. Dalam Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Hasan, S.H., Wahab, A. A., Mulyana, Y., Hamka, M., Kurniawan, Anas, Z., Nurlaili, L., Listiyani, M., Jarwadi, Chatarina, M., Waluyo, H., Wirantho, S. A., Paresti, S., Ismail, B., & Indarti, E. 2010. Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Manu. 1985. Kakawin Smaradahana: Sebuah Studi Filologi dalam Rangka Ilmu Sastra. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.

Poerbatjaraka. 1986. Tjerita Pandji dalam Perbandingan. Djakarta: Gunung Agung.

Widja, I.G. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana.

Yogi, D. 1996. Mangilala Drwya Haji: Kedudukan dan Peranannya dalam Struktur Pemerintahan. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: Fakultas Sastra UI.

Zoetmulder, P.J. 1974. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Panjang. Terjemahan Dick Handoko SJ. 1985. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P.J. 1982. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Terjemahan Darusuprapta & Sumarti S. 1994. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

*************

Aang Pambudi Nugroho, Pembina Komunitas Jawa Kuno Sutasoma yang menyumbangkan tulisan ini untuk acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1213 mendapat kesempatan untuk berpartisipasi pada rangkaian acara “Pameran Naskah Cerita Panji dan Kreatifitas Pemuda”, 24-26 Maret 2017 di Basement Monumen Simpang Lima Gumul-Kediri.

Dapat dihubungi melalui Email: aangpambudinugroho@gmail.com

 

 

Diunggah dari: hurahura.wordpress.com

Ditulis oleh: Aang Pambudi

Judul Asli: Menggali Nilai-nilai Budaya dalam Prasasti Hariñjing (804-927 Masehi): (Sebuah Kebaikan yang Tak Terlupakan)

Gambar sampul: Prasasti Harinjing