Benarkah Gunung Kidul tempat pelarian Majapahit?

Menjawabnya tidak mudah. Cerita cerita rakyat yang ada tidak dengan sendirinya sebagai sebuah cerita yang utuh tanpa kepentingan asal mula cerita berawal. Ada beberapa tipe cerita rakyat yang dapat kita lihat; cerita rakyat yang berasal dari penguasa yang ada, dan cerita yang berasal dari rakyat itu sendiri. Cerita rakyat yang berasal dari penguasa ini bersifat kompleks. Ada dua kepentingan; yang pertama mempunyai hubungan yang erat dengan bukti bukti sebuah bangunan apapun bentuknya. Kita dapat mengambil contoh cerita Roro Jongrang yang berkaitan dengan Candi Prambanan. Yang kedua, berkaitan dengan legimitasi dinasti yang berkuasa. Kita dapat mengambil contoh kelapa muda dalam cerita Ki Giring dengan Ki Pemanahan.

Cerita rakyat yang berasal dari rakyat mempunyai beberapa ciri, di antaranya mempunyai beberapa versi atau kemiripan dengan cerita di daerah lain. Batara Katong sebagai keturunan Majapahit yang dikaitkan dengan nama Desa Katongan di Nglipar Gunungkidul, juga ditemukan cerita yang sama tentang Batara Katong di Ponorogo Jawa Timur. Cerita lain yang ada di Gunungkidul; Nangka Doyong memiliki dua versi. Versi pertama dapat dibaca di artikel di media ini juga. Meskipun memiliki dua versi yang berbeda, keduanya tetap mengacu kepada sekitar daerah yang sama Wonosari.

Sebelum kita membahas latar belakang cerita rakyat tentang Batara Katong, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan pelarian. Sekaligus mencari tahu mengapa muncul pelarian.

Dalamhttp://id.wiktionary.org/wiki/pelarian, pelarian sama dengan pengungsi. Pengertian pelarian yang paling pas dengan pembahasan kita kali ini adalah pengungsi yang menunjuk kepada pelaku. Dengan demikian, pelarian dari Majapahit dapat dikatakan, bahwa mereka mengungsi dari Majapahit untuk mencari kehidupan yang baru. Tentunya ada penyebab, mengapa mereka mengungsi?

Beberapa pertempuran antar kerajaan tidak selalu diiringi dengan pengungsian rakyat dari salah satu rakyat salah satu kerajaan. Kerajaan Jipang dengan kerajaan Pajang yang berperang tidak menimbulkan pengungsian. Pajang dengan Mataram, Trunojoyo dengan Mataram di mana Trunojoyo bersama pasukannya menguasai istana kerajaan Mataram di Plered (Bantul).

Trunojoyo sampai masuk ke dalam keraton Mataram. Pertempuran antara Kompeni dengan beberapa kerajaan. Semua pertempuran itu tidak mengakibatkan timbulnya pengusian besar besaran rakyat dari kerajaan yang kalah, untuk memilih kehidupan baru di daerah baru. Tentunya ada alasan mengapa rakyat sebuah kerajaan mengungsi.

Apakah cukup mengungsi asal jauh dari daerah asal dengan alasan tidak akan dikejar lagi. Tidak dikejar menjadi penting karena pengungsi juga harus memulai hidup baru untuk melangsungkan kehidupan yang baru dengan bercocok tanam dan membangun tempat tinggal. Kemungkinan yang paling memungkinkan adalah mengungsi ke daerah baru yang belum ada kehidupan sebelumnya atau tidak diminati oleh rakyat suatu kerajaan yang sudah ada sebelumnya.

Ada dua tempat yang dapat dijadikan contoh, kita dapat melihatnya di Tenggerhttp://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tengger . Demikian juga dengan Pulau Bali dapat kita sebut di sini. Ada persamaan antara masyarakat Tengger dengan masyarakat Bali. Dengan demikian kita memiliki gambaran arus pelarian dari Majapahit dilakukan dalam jumlah yang besar ke arah timur Majapahit. Bagaimana dengan arah barat, selatan atau utara. Pelarian Majapahit tidak mungkin menuju arah utara dimana kerajaan yang menyerang berasal dari utara. Kemungkinan terbesar yang dapat dilakukan mengungsi ke arah barat dan selatan Majapahit. Selama masih belum merasa aman, pengungsi akan mengungsi kembali untuk menjauh.

Wayang Beber

Wayang Beber. Dok: KITLV.

Seperti yang disebutkan di atas, kita belum mendapat kesimpulan adanya kaitan antara nama Batara Katong yang ada di Nglipar dengan Batara Katong yang ada di Ponorogo. Apakah orang yang sama atau seorang tersebut merupakan anak Batara Katong sendiri, belum bisa diambil kesimpulan. Sebelum meneliti lebih jauh, ada data menarik, yaitu adanya penemuan Wayang Beber yang hanya ada dua. Satu ditemukan ini di Dusun Karangtaloen, Desa Gedompol Kabupaten Pacitan, sementara yang lain ditemukan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo Karangmojo Kabupaten Gunungkidul. Kedua babad berisi cerita tentang Panji Kembang Kuning dan Dewi Sekar Taji.

Dalam cerita rakyat Pacitan, adanya wayang beber di tangan sesorang karena pemberian raja Majapahit atas suatu prestasi tertentu. Diceritakan sesorang Neladerma telah berhasil menyembuhkan seorang putri Majapahit dari suatu penyakit. Sangat sulit dimungkinkan ada dua orang penyembuh sang putri sehingga raja Majapahit memberi hadiah wayang beber yang dibagi dua untuk dua orang. Walaupun kemungkinan tersebut ada; mengingat wayang beber yang ada di Gunungkidul dan Pacitan hanya mempunyai corak yang berbeda. Keduanya dapat dianggap satu kesatuan. Keduanya dimungkinan berasal dari tempat yang sama; kerajaan Majapahit.

Wilayah Gunungkidul dengan Pacitan mempunyai ciri yang sama sebagai daerah pengunungan kapur. Suatu daerah yang sangat berbeda dengan daerah lain, dalam hal ini Tulung Agung, Madiun, Pacitan, Magetan, Pegunungan Lawu, Wonogiri dan Ponorogo sebagai daerah yang dimungkinkan dilewati oleh para pengungsi dari Majapahit. Bayangkanlah, 300 tahun yang lalu bagaimana keadaan pada jaman itu di mana sebelumnya tidak ada catatan mengenai adanya sebuah kehidupan dalam bentuk sebuah desa lengkap dengan lembaga yang dibutuhkan; setidaknya ada yang seorang pemimpin yang berpengaruh. Pengungsian sekaligus babat alas.

Situasi Pacitan di bawah akhir Tahun 1924. Satu satunya jalan dari utara.

Situasi Pacitan di bawah akhir Tahun 1924. Satu satunya jalan dari utara. Dok; KITLV

Betara Katong keberadaannya harus ada dalam kurun waktu jatuhnya Majapahit dan munculnya Demak, antara akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Batara Katong berasal dari keluarga Pangeran Majapahit Brawijaya V. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Lembu Kenanga. Kedatangannya ke Panaraga berkaitan dengan Demang Kutu. Ada dua versi kedatangan Batara Katong ke Panaraga, versi pertama Batara Katong menghendaki Demang Kutu bertobat karena perbedaan agama. Versi kedua, Batara Katong akan menghukum Demang Kutu yang menolak ketika dipanggil ke Majapahit.

Demang Kutu diceritakan mempunyai kekuatan gaib. Dia mempunyai banyak murid. Murid yang terdiri dari anak anak laki laki disebut dengan ngemblak, jatil. Murid yang terdiri dari laki laki dewasa disebut warok. Singkatnya, Demang Kutu dapat dikalahkan dan selanjutnya Batara Katong menjadi penguasa daerah Ponorogo. Dalam hal ini ada keraguan; bahwa sesorang mengalahkan lawannya dengan alasan 2 versi di atas tidak kembali ke tempat asal, tetapi menjadi penguasa baru. Hal ini tidak akan kita bahas. Hal selanjutnya secara turun menurun keturunan Batara Katong menjadi penguasa Ponorogo. Apakah hubungannya dengan Pacitan atau Gunungkidul?

Dengan demikian dapat diduga sebagai kemungkinan besar, bahwa penghuni Pacitan berasal dari Ponorogo yaitu mereka yang pergi mengungsi karena kekalahan Demang Kutu. Hal ini dimungkinkan karena penguasa Pacitan selalu mempunyai hubungan dengan Batara Katong untuk waktu yang agak lama sebelum pengaturan yang dilakukan oleh penguasa dari Mataram, Mangkunegaran, atau Pakubuwono. Pendiri kerajaan Mataram , Senapati antara tahun 1586 – 1601, menguasai Panaraga termasuk Pacitan. Bupati pertama yang disebutkan dalam cerita rakyat asal mula Pacitan. Pengangkatan tercatat 17 Januari 1756 tidak lama setelah perjanjian Giyanti

Pergolakan yang ada harus dilihat sebagai pergolakan di dalam kerajaan dan bukan pergolakan antar kerajaan meskipun dalam beberapa babad maupun cerita lokal masih melibatkan seorang tokoh sebagai keturunan Majapahit. Persoalannya, bukankah semua raja yang berkuasa selalu mengaku keturunan Majapahit. Cerita rakyat yang lain yang berhubungan dengan keturunan Majapahit (kemungkinan besar karena beragama Hindu), yaitu legenda ki Ageng Kalak yang terkait dengan Pangeran Tembayat dari keluarga Kajoran. Setelah runtuhnya kekuasaan kerajaan Demak; persoalan yang berkaitan dengan keturunan Majapahit tidak seperti pada awal runtuhnya Majapahit. Kalaupun ada pergolakan, sifatnya hanya politik lokal. Dengan demikian mereka yang berasal dari Majapahit tetap bisa hidup dengan kenyakinannya. Selanjutnya pergolakan di Pacitan lebih banyak diwarnai imbas politik lokal atau imbas dari pertentangan yang timbul dari perlawanan terhadap Amungkurat 1 sampai pergolakan Perang Jawa (Dipanegara).

Akhirnya, kita mengetahui bahwa di Pacitan masih ada sisa komunitas yang berasal dari Majapahit. Meskipun hanya pengakuan dari tokoh komunitas tersebut, adanya kesamaan dalam hal agama, yaitu Hindu. Hal ini sudah cukup untuk dapat mengerti bahwa komunitas tersebut berhubungan dengan Majapahit. Wayang beber dengan sendiri dapat ditembak selalu ada dalam komunitas tersebut dengan aman.

Di Cemarasewu yang berada di ketinggian 1.900 meter di atas laut, yang terletak di anatara jalan Sarangan – Tawangmangu; sebuah permukiman sudah ada di abad ke-16. Diceritakan bahwa desa ini didirikan oleh kiai Ageng Getas, putra Raden Bondan Kejawan seorang pangeran dari keluarga kerajaan Majapahit. Selanjutnya dari beberapa makam yang tersebar di sekitar Lawu ditemukan bentuk makam dengan simbol Hindu maupun Islam. Dapat disimpulkan komunitas pengungsi Majapahit telah ada di pegunungan Lawu; baik yang telah memeluk Islam, maupun tetap Hindu. Ada legenda yang mengatakan Brawijaya moksa di Gunung Lawu yang dikenal dengan Sunan Lawu.

Sekarang semakin jelas keadaan yang ada di sekiling Gunungkidul. Sebelah timur ada komunitas keturunan Majapahit di Pacitan. Sebelah utara Pacitan dan barat Ponorogo maupun barat Magetan juga ditemukan komunitas keturunan Majapahit. Legenda yang berhubungan dengan keturunan Majapahit penulis belum menemui di daerah Laroh maupun Keduwang. Kedua tempat tersebut disebut dengan Wonogiri pada saat ini.

Dalam waktu yang lama, lambat laun ada kehidupan baru di Pacitan yang terdiri komunitas mereka dari mana wayang beber berasal, yaitu Majapahit. Mengapa akhirnya ada wayang beber di Gunungkidul? Tidak ada jawaban yang pasti. Kita bisa mengkonstruksi apa yang terjadi secara garis besar di daerah Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, Pegunungan Lawu, dan daerah sekitarnya. Wonogiri bisa kita kecualikan karena tidak banyak catatan dari daerah tersebut yang ada hubungannya komunitas Hindu atau legenda yang berkaitan dengan Majapahit maupun dengan Pacitan dan seterusnya Gunungkidul.

Bukan suatu kebetulan jika kita bandingkan informasi yang kita punya, Pacitan dengan wayang bebernya di sebelah selatan dan Ponorogo di sebelah utara dengan Batara Katongnya; kita bandingkan dengan Karangmojo dengan wayang beber di sebelah selatan Gunungkidul dengan legenda Batara Katong di Nglipar utara Gunungkidul.

Apakah komunitas Hindu di sebelah utara Gunungkidul berbeda dengan komunitas hindu di mana wayang beber ditemukan? Masih perlu dipelajari. Sejauh yang kita ketahui, wayang beber yang ada di Gunungkidul mempunyai hubungan dengan wayang beber yang ada di Pacitan. Jika pemilik wayang beber di Pacitan sebagai pelarian Majapahit, maka demikian juga komunitas pemilik wayang beber di Gunungkidul adalah pelarian dari Majapahit.

 

Diunggah dari: swarawarga.com

Ditulis oleh: Tatang Yudiatmoko