Refleksi ‘HARDIKNAS” 2017

PENDIDIKAN SEPANJANG USIA MELINTAS JAMAN : Konsep, Model dan Urgensi Pendidikan dalam Sejarah-Budaya Jawa

Oleh : M. Dwi Cahyono

Hari ini, Selasa 2 Mei 2017, negara dan bangsa Indonesia memperingati ‘Hari Pendidikan’ – salah satu ‘Hari Besar Nasional’ yang secara periodik (setiap tahun) diperingati, utamanya oleh Lembaga-lembaga Pendidikan Formal. Pada umumnya, peringatan dilakukan dalam bentuk upacara bendera.

Acara pada malam ini adalah bentuk lain dari peringatan itu, lantaran tidak diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Formal dan bukan dalam bentuk upacara bendera, melainkan oleh komunitas peduli budaya dan dalam bentuk saresehan di cafe. Kendati beda penyelenggara dan bentuk kegiatannya, namun niatannya sama, yakni menegaskan bahwa pendidikan adalah ikhtiar yang penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga berbuah kefaedahan.

A. Ragam Sebuatan bagi Pendidikan

Istilah ‘pendidikan’ berkata dasar ‘didik’. Istilah ‘didik’ menjadi salah satu kosa kata dalam Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, namun dalam arti: sedikit (Zoetmulder, 1995:216). Boleh jadi mendidik merupakan pembelajaran yang dilakukan sedikit demi sedikit. Arti ini berbeda dengan pengertian kata ‘didik’ dalam Bahasa Indonesia : memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, impinan) mengenai ahlak dan kecerdasan pikiran (KBBI, 2002:253).

Istilah Jawa Kuna dan Tengahan yang menunjuk arti demikian adalah ‘ajar’, yang secara harafiah berarti: 1. Komunikasi, informasi, pengumuman, ajaran, latihan; 2. pertapa, anggota suatu komunitas pertapaan (biasanya laki-laki, disebut ‘ubon’), atau mungkin seseorang yang melatih diri dengan tekun dalam hidup melepaskan diri dari keduniawian.

Kata jadiannya : ajar-ajar, majar-ajar, amajar (berlatih, mempratekkan, menjadi pertapa, hidup saleh), majar, pajar, pajar-ajar, mapajar, pinajar (menceritakan, mem-beritahukan, menerangkan, mengumumkan, mengajar, melatih), angajar, angajar-ajar, umajar, inajar, kajaran (menceritakan, memberitahukan, mengajar, menjadi pertapa), ajaran, ajar-ajaran (melatih berbicara), pajaran, pajar-ajaran (status ajar, tempat tinggal para ajar, pertapaan), pang-ajaran (tempat untuk latihan, tempat tinggal para ajar), dsb. (Zoetmulder, 1995: 16-17). Dalam Bahasa Jawa Baru terdapat kata yang bersinonim dengan ‘majar (mengajar)’, yaitu ‘mulang ’ atau bentuk kraminya ‘mucal’.

Selain itu terdapat istilah dalam Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan ‘sinahu’, separti pada kata jadian ‘asinahu’, yang berarti: mulai belajar, pertama kali mencoba, mempraktekkan (Zoetmulder, 1995: 1093-1094).

Tempat pembelajaran karenanya dalam Bahasa Jawa Baru dinamai ‘pasinaon’.

Kata lain dalam Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan – sebagai kata serapan dari Bahasa Sansekreta — yang bersinomin arti adalah ‘brahmacari, brahmacarya’, yang berarti: mempraktekkan ajaran suci men-jadi siswa yang tidak kawin, tetap suci dan murni (Zoetmulder, 1995:131).

Brahmacari merupakan satuh diantara empat tahapan hidup (caturasrama atau caturasrai), tepatnya srama pertama – selain grhasatasrama, wanaprastha dan sanyasin (bhiksuka).

Brahmacari merupakan bentukan dua kata: brahma (kata suci, teks atau mantra suci, pengetahuan keagamaan atau kerokhanian, jiwa universal, hakiki, brahman/brahmana) + acarya (tahu, mengajar, peraturan-peraturan, pemimpin rokhani, guru) (Zoetmulder, 1995:4, 131). Oleh sebab itu bramacari/brahmacarya acap diartikan dengan duduk tepekur di hadapan guru. Hal ini mengingatkan pada istilah Jawa Baru ‘maguru, meguru’ , atau ‘berguru’ dalam Bahasa Indonesia.

Kata atau perkataan lain yang kurang lebih memiliki pengertian sama dengan pembelajaran adalah ‘ngangsu kawruh, ngudi/mangudi …. (a/ma-udi: menguji, memeriksa, menguji), pawiyatan – kata jadian : wiyat/wyat/wihat (langit, udara) + an, paguron/peguron, pawulangan, dsb.’.

Pada masa Hindu-Buddha tempat pembelajaran diistilahi dengan beragam sebutan : ‘mandalakadewagurwan, karsyan, pajaran, pagurwan, dsb.’.

Tergambar bahwa dalam perkataan ‘mandalakadewagurwan’ itu tempat pembelajaran dimaknai ‘suci’, sehingga digunakan unsur nama ‘mandala’ yang berarti : lingkaran suci, kediaman komunitas religi (Zoetmulder, 1995: 642). Pengajar, yang dalam hal ini diistilahi dengan ‘guru’ atau paduannya sebagai ‘ka-dewa-guru-an (dewa guru atau guru hyang = guru rokhani )’, memberi prioritas kepada peran guru dalam proses pembelajaran.

Secara harafiah, kata ‘guru’ menunjuk pada: orang yang patut dimuliakan, pembimbing spiritual, guru.

Ada banyak varian peristilahan yang dirangkai dengan kata ‘guru’ seperti ‘Bhattara Guru = Siwa, guru desa (pejabat religi di desa), guru kaki (kaki mpu, kaki hyang), guru loka (guru atau pejabat rokhani di istana), guru nini (nini mpu, nini hyang), dsb (Zoetmulder, 1995:321).

Oleh karena dimuliakan, maka terhadap ‘guru’ disematkan honorifix prefix ‘hyang atau dang hyang’.

Begitu mulianya guru, maka disejajarkan dengan almarhum nenek moyang yang patut dimuliakan (guru pitara). Selain itu ada suatu bentuk bhakti yang ditujukan pada guru, dinamai ‘guru bhkati’. Sebaliknya, tindakan tercela, yani durhaka kepada guru dinamai ‘gurudroha, gurudrohaka’. Atas jasanya sebagai guru (makaguru, panakaguru), maka ia mendapat semacam ‘upah’, yang disebut ‘gurudaksina’. Terdapat relasi edukatif antara guru dan murid (sisya), sehingga murid acap disebut dengan menggunakan unsur sebutan ‘guru’, seperti di dalam perkataan ‘gurugana (pengikut guru), aguron-guron (menjadi murid)’.

Selain sebutan ‘guru’, sebutan lain bagi orang bertindak sebagai pendidik adalah ‘acarya’. Kepada acarya acapkali pula disematkan honorifix prefix ‘hyang atau dang hyang’. Sebutan lainnya adalah ‘rsi (resi)’, yang menunjuk kepada : 1. resi, guru, orang bijaksana, golongan makhluk yang khas berbeda dengan dewa, …… dsb, 2. Kelompok orang-orang religi (‘pendeta’) yang khas, berbeda dengan kependetaan Siwa ataupun Buddha, barangkali lebih asli dan kurang terpengaruh India (Zoetmulder, 1995:945).

Ada beberapa peringkat atau spesifikasi dari rsi, antara lain : maha-rsi, brahma-rsi, dewa-rsi, siddha-rsi, sruta-rsi, tapa-rsi, sura-rsi.

Tempat tinggal kaum rsi dinamai ‘karsyan’, yang sering dipadanartikan dengan ‘mandalakadewagurwan’. Sebutan untuk kelompok rsi adalah ‘rsigana’. Pada umumnya, karsyan dan mandalakadewagurwan terletak di tempat yang terpencil – misalnya di dalam hutan, di lereng gunung, tepi perairan (sungai besar, laut), jauh dari keramaian. Oleh karena itu, dapat difahami bila terdapat tempat-tepat pembelajaran dengan model ‘asrama (srama, di India disebut ‘asram’)’ yang berada di dalam hutan, dengan sebutan ‘wanasrama’. Asrama yang demikian ini khususnya digunakan untuk pembelajaran pada tahapan hidup ke-3, yang dinamai ‘wanaprasta’.

B. Pembelajaran Masa Hindu-Buddha dan Tradisinya

Setiap jaman/masa memiliki pembelajarannya sendiri-sendiri, tak terkecuali di Jaman Presejarah, yang bisa berbeda atau sebaliknya memiliki persamaan dengan pembelajaran di masa sebelum atau sesudahnya. Persamaan atau perbedaan itu antara lain berkenaan dengan konsep, model, dan hal-hal yang dipandang penting untuk dibelajarkan.

Telaah berikut diarahkan terhadap pembejalaran pada Masa Hindu-Buddha dan tradisinya di masa-masa sesudahnya, dengan pertimbangan bahwa dalam kurun masa ini dididapatkan cukup data (tekstual, artefaktual dan ekofaktual) untuk bahan pengkajian.

Konsep ‘long life education (pedidikan sepanjang perjalan hidup)’ ternyata kedapatan pula pada Masa Hindu-Buddha (permulaan tarikh Masehi hingga abad XV/XVI). Hal ini tergambarkan pada konsep ‘catursrama’, yang dua tahap (srama) dari empat tahapan hidup manusia difokuskan pada pembelajaran, yaitu tahap ke-1 yang dinamai ‘Brahmacari/Brahmacarya’ dan ke-3 yang disebut ‘Wanaprastha’. Meski tahap ke-2 (grhastasrama) dan ke-3 (sanyasa atau bhiksuka) tidak berfokus pada pendidikan, namun dalam skala terbatas dan pada hal tertentu – yang bersifat praksis, sebagai bekal pengetahuan dan priranti ketrampilan dalam menjalani kehidupan – tak terelakkan seseorang pada tahap ke-3 juga melaksanakan pembelajaran. Demkian pula pada tahap ke-4, kegiatan didik lebih diarahkan kepada ‘pendidikan lelaku (laku, ngelakoni)’, yaitu menjalani hidup dengan sikap yang ‘tidak lagi terikat oleh ikatan duniawi’ justru dalam realitas hidup ‘keramaian’ yang padahal bersifat keduiawian.

1. Sesi Pendidikan ‘Brahmacari’

Penempatan sesi pembelajaran pada srama pertama, yakni Brahmacari/Brahmacarya’, memberi penegasan bahwa pembejaran/pendidikan diposisikan sebagai ‘yang pertama’ dan ‘utama’ dalam kehidupan manusia. Tahapan hidup ini dimasuki seseorang setelah menjalani ritus inisiasi, ketika usia remaja hingga jelang menjalani kehidupan berumah tangga (grhasatasrama – tahapan hidup ke-2).

Pada kurun usia sebelumnya (masa kanak-kanak), pengasuhan dan pendidikan lebih banyak dilakukan di bawah bimbingan orang tua dan anggota keluarga luas (extended family), atau dalam hal tertentu di ‘lingkungan istana (kadatwan)’ dilakukan dengan didikan guru istana (guru loka).

Model pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan dibawah bimbingan guru dalam lingkungan asrama (srama). Lembaga pendidikan itu (mandalakadewagurwan) acapkali berada di luar bahkan jauh dari lingkungan rumah tinggal, maka untuk waktu beberapa tahun (sekitar usia 12 – 20 tahun) orang harus meninggalkan keluarga untuk jalani pendidikan yang ketat. Mandalakadewagurwan dipimpin oleh seorang siddharsi atau maharsi, yang disebut pula dengan “dewaguru”.

Tempat pembelajaran terkait dengan ‘pilihan guru’, yaitu penentuan pada guru siapakah seseorang ‘tepat untuk dibelajarkan’. Oleh karena itu, terdapat perkataan ‘ojo nganti salah pilih guru (jangan sampai keliru dalam memilih guru)’.

Salah sebuah pertimbangannya adalah latar ke-kasta-an atau varna-nya, karena masing-masing kasta/varna membutuhkan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang tepatguna untuk menjalani kehidupan di lingkungan kastanya, yang dalam sejumlah hal bisa berbeda dengan yang dibutuhkan oleh kasta lainnya. Misalnya, di lingkungan kasta Ksatria, olah kanuragan (olah tubuh), gladi kaprajuritan (latihan keterntaraan), pranatagara (tata negara) dan dharmaksatria (nilai-nilai luhur keksatriaan) dijadikan ‘kurikulum’ pokok di dalam pembelajaran terhadapnya. Kendati demikian, bidang-bidang ajar lainnya, seperti doktrin agama dan kesusilaan, kedisiplinan, seni dan kerajinan, baca-tulis, susastra, penghitungan (petungan) dan sebagainya ikut pula diajarkan. Mata ajar yang mendasar demikian juga diberikan kepada anggota kasta lainnya, sebagaimana tergambar di dalam pustaka gancaran Pararaton, terkait dengan tahapan brahmacari dari Ken Angrok yang disinopsiskan berikut ini:

Pasca meninggalkan kediaman ayah angkatnya ke-2, yakni bobotoh Bango Samparan di Karuman (kini ‘Kampung Karuman/Aruman’ di Kelurahan Tlogomas), Angrok yang kala itu berusia remaja berjumpa dengan tuwan Tita — putera tuwan Sahaja, yakni kepala desa tertua (buyut) di Sagenggeng (kini ’Desa Segenggeng’ Kecamatan Pakisaji, pada DAS sisi barat Brantas).

Keduanya ingin tahu tentang bentuk huruf-huruf (rupaning aksara), maka pergilah ke guru (janggan) di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid (jakaha), minta diajari susastra (winarahan sastra).

Padanya diberikan pelajaran tentang : (a) bentuk-bentuk huruf, (b) penggunaaan pengetahuan mengenai huruf-huruf hidup dan huruf-huruf mati (swarawyanjanasastra), (c) semua perubahan huruf (sawredining aksara), (d) sengkalan (rupacandra), (e) perincian hari-tengah bulan (kapegataning titi), (f) bulan (masa), (g) tahun Saka (sakakala), (h) kelipatan hari-enam, hari-lima, hari-tujuh, hari-tiga, hari-dua, hari-sembilan (sadwara, pacawara, saptawara, triwara, dwiwara, sangawara), maupun (i) nama-nama minggu (wuku).

Aspek kedisiplinan merupakan hal yang amat ditekanan, sebagaimana tergambar pada ketentuan guru untuk hanya memakan buah (dicontohkan dengan buah jambu) bila telah benar-benar masak “…. jika sudah masak jambu itu, petiklah’ (Padmapuspita, 1966: 11, 50). Oleh karena itu, dijagalah buah jambu itu dengan baik, tak ada yang diijinkan memetik, tiada yang berani mengambilnya.

Dapat dibayangkan bahwa Janggan di Sagenggeng itu adalah apa yag dalam istilah Jawa Kuna dan Tengahan diistlahi dengan ‘guru desa’. Sebutan ‘janggan’ adalah suatu kata jadian ‘jangga + an’, yang secara harafiah berarti: semacam tumbuhan menjalar berbunga harum, seperti pada perkataan ‘jangga kasturi’ (Zoetmuder, 1995:412-413), yang pada konteks ini berarti arti: guru tingkat dasar. Terkait itu, sebutan ‘pujanggga’ difahami sebagai bentukan dari ‘pu +jangga’, yakni orang piawi dalam susastra. Pada teks Pararaton, janggan (guru) di Sagenggeng digambarkan sebagai seorang yang mahir dalam bidang susastra.

Bagi Angrok proses pembelajarannya tak hanya berhenti pada janggan, namun juga pada ‘guru-guru’ lainnya. Kepada ayah angkatnya, yakni mpu Palot, yakni kepala lingkungan di Turyantapada, yang berprofesi sebagai tukang emas (dharmakacana), Ken Angrok belajar merajinan logam mulia. Atas saran dari ayah angkatnya ini, Angrok diminta untuk menyempurnakan keahliannya membuat barang kerajinan emas (amatusakena dharmakancana) kepada tetua (buyut) di Kabalon, yang seakan sudah berbadankan kepandaian membuat barang-barang emat dengan sesempurna-sempurnanya (pangawaking dharmakancanasidhi), perajin emas yang paling sempurna di timur Gunung Kawi. Sayang niatan kuat Angrok untuk menyempurnakan keahliannya ini gagal, lantaran ‘black list’nya sebagai bromocorah menyebabkan kehadirannya di Kabalon mendapat menolakan dari warga Kabalon, sehingga amuklah Angrok terhadap mereka.

Jenis pembelajaran dalam bidang keundagian itu mengingatkan pada ‘pendidikan vokasi’ di masa sekarang, yang mengarah kepada penimbaan pengetahuan dan ketrampilan praksis untuk profesi tertentu. Model pembelajaran yang dijalani Angrok dalam sesi ini adalah ‘nyantrik, nyuwito, atau ngenger’, yakni tinggal bersama di kediaman ‘guru atau pelatih’, dengan melibatkan dirinya secara langsung dalam aktifitas ketrampilan dalam bidang kerajinan emas. Model pembelajaran demikian kedapatan pula pada masa-masa sesudahnya.

Pembelajaran berikutnya, yang lebih tinggi tingkatannya, dilakukan Angrok kepada Dang Hyang Loh Gawe, yakni rokhaniawan Hindu sekte Waisnawa asal Jambudwipa (India). Bahkan, Angrok diaku anak oleh Loh Gawe, ditemani pada waktu kesusahan, dan diasuh kemanapun pergi. Perihal ini menggambarkan bahwa Loh Gawe memberi pengasuhan intens kepada Angrok dalam berbagai aspek kehidupan, baik keagamaan, kesusilaan, dan bukan tidak mungkin mengenai kiat politik dan tata pemeritahan sebagai bekalnya dalam meniti karir birokratis di lingkungan kerajaan kelak.

Atas mediasinya pula, Angrok yang padahal merupakan ‘target operasi (TA)’ Akuwu Tunggul Ametung bisa diterima ‘menghamba’ sebagai pangrehpraja di Keakuwuan Tumapel.

Honorifik prefix ‘dang hyang’ pada Loh Gawe menjadi petunjuk bahwa ia adalah ‘guru rokhani’ atau ‘dang hyang guru’ bagi Angrok. Tahapan hidup ke-1 (brahmacari/ barmacarya) Ken Angrok ditempuhinya melalui beberapa guru, utamanya kepada janggan di Sagenggeng, Mpu Palot di Turyantapada dan Dang Hyang Loh Gawe.

Pembelajaran juga diterima secara tidak langsung oleh Angrok melalui ‘pendidikan terlibat’ di dalam pergaulan sosial, baik dengan ayah-ayah angkatnya – ketrampilan mencuri dari Lembong, berjudi dari bobotoh Bango Samparan serta para penjudi di arena judi – maupun orang-orang yang sekegiatan dengannya seperti para perampok, Gagak Inget yang merupakan keturunan golongan tentara di Lulumbang, dsb.

Pembelajaran di ‘jalanan’ itu pada satu sisi mengandung bahaya (ancik-ancik pucuking ri), namun pada sisi lain memberikan kegunaan. Naluri judi (gambling) misalnya, dibutuhkan untuk mengambil keputusan secara berani dan tepat meski beresiko ketika Ken Angrok melancarkan perebutan kekuasaan terhadap Tunggul Ametung. Pendek kata, Angrok menjalani proses pendidikan dengan sejumlah ‘guru’, lewat beragam model dan bentuk pembelajaran, sedari kecil hingga dewasa. Ia adalah pembelajar yang tekun dan terbukti meraih buah keberhasilan atas warna-warni pembelajarannya. Hal ini antara tergambar pada pujian Mpu Palot kepadanya, dengan menyatakan ‘lekas pandai, tak kalah kesaktiannya dibanding degannya (Mpu Palot, gurunya)’.

2. Sesi Pendidikan ‘Wanaprastha’

Wanaprasta (wana = hutan, prastha/prasthana = keberangkatan, kursi, tempat duduk) adalah sesi pembelajaran yang dilakukan pada srama ke-3, pasca seseorang menjalani tahapan hidup yang ke-2 (grhastasrama = berumah tangga, yaitu menikah, memiliki dan mendewasan anak-anak). Sesuai dengan unsur sebutannya, yakni ‘wana’, pembelajar meninggalkan tempat kediamannya hingga beberapa lama untuk tinggal di asrama (srama) atau berangkat ke dalam hutan (wana) — padamana terdapat tempat untuk melakukan ‘pendalaman rokhani’ sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di hari tua pada tahap ke-4 (sanyasa, bhiksuka). Ilmu yang diperolehnya dalam Bahasa Jawa Baru dinamai ‘ngelmu tuwo’.

Golongan rsi adalah orang-orang yang menjalani tingkatan hidup wanaprastha, ditambah dengan kalangan sanyasin (bhiksuka). Ada pendapat mengemukakan bahwa golongan Brahmana (disebut ‘wipra’) dianggap identik dengan gologan rsi. Sedangkan pendapat lain membedakannya dengan golongan rsi.

Asrama yang berada di dalam hutan lazim dinamai ‘wana srama’, yang merupakan unsur arsitektural di lingkungan lembaga pendidikan, baik berupa mandalakadewagurwan ataupun karsyan. Areal pertapaan juga dilengkapi dengan srama, sebagai tempat tinggal bagi para pertapa. Hal demikian antara lain diperoleh gambarannya di dalam Prasasti Pucangan (1041/1042 Masehi), yang memberitakan tentang pembangunan Sriwijayasrama oleh raja Airlangga – sesuai nadzarnya kepada para pertapa Siwa (Hindu sekte Saiwa), Sogata (Mahayana Buddhisme) dan Rsi.

Ketiga golongan rokaniawan tersebut menjalani aktifitas keagamaan di dalam hutan pada lereng gunung (wana-giri), yang berlokasi di Bukit Pucangan (perbatasan Lamongan Selatan dan Jombang).

Ada pula asrama yang spesifik, karena diperuntukkan bagi para pertapa wanita (tapasi, tapini, atau kili), sebagaimana divisualkan oleh relief Parthayajna yang dipahatkan pada teras II sisi belakang Candi Jajaghu.

Diantara pertapa yang digambarkan pada relief itu, ada seorang pertapa wanita usia muda yang jatuh cinta kepada Partha (sebutan bagi Arjuna ketika muda usia). Arjuna pun menyadarkannya, karena wanita yang tengah menjalani hidup sebagai tapasi pantang untuk jatuh cinta.

3. Gambaran Tempat dan Proses Pembelajaran

Tapa merupakan ritual yang utama di karsyan, dapur (areal pertapaan) ataupun panepen. Tempat kediaman para pertapa dinamai ‘patapan’. Dalam sejumlah sumber masa lalu, patapan menunjuk kepada tempat-tempat suci bagi para rsi, yang terkadang diistilahi dengan ‘katyagan dan janggan’. Dengan demikian, Segenggeng yang oleh Pararaton diberitakan sebagai tempat tinggal janggan dapat diidentifikasikan sebagai tempat suci golongan rsi. Begitu pula, ‘wanasrama’ adalah sebutan umum bagi tempat suci karsyan, yang acap disebut dengan ‘kadewaguruan’ atau ‘kadewagurwan’. Orang mengasingkan diri ke patapan hanya untuk jangka waktu tertentu, yakni hingga diperoleh tujuan yang dimaksud. Bila para pertapa tinggal di suatu kompleks perumahan secara permanen, maka permukiman demikian dinamai ‘mandala’ (Supomo, 1977:166-167), atau bisa juga diistilahi dengan ‘panepen’.

Pararaton menggambarkan Kabalon sebagai panepen, padamana tinggal para pertapa, guru hyang dan punta (orang dengan status atau fungsi religius, warga kumintas religius, siswa brahmana). Di tempat ini mereka tidak melulu menjalani aktifitas religis, namun juga terlibat dalam pembuatan barang-barang dari emas (dharmakancana).

Gambaran demikian juga diperoleh di dalam Prasasti Pabanyolan dari Gubugklakah, yang berasal dari Masa Akhir Majapahit. Didalamnya disiratkan informasi bahwa pertapa di Dapur Pajaran (kini bernama sama sebagai ‘Desa Pajaran’ Kecamatan Poncokumo Kabupaten Malang), tanpa terkecuali beraktifitas dalam bidang susastra. Terbukti, isi prasasti Pabanyolan terbilang unik, karena memuat ‘sinopsis’ mengenai sebuah kisah yang ditokohi oleh Panji.

Karsyan banyak tersebar di Jawa, khususnya di Jawa Timur sejak Masa Pemerintahan Airlangga. Pada umumnya berlokasi di tempat terpencil, tenang-sunyi (jauh dari keramaian), utamanya dalam hutan pada lereng gunung/bukit yang diyakini sebagai ‘suci’. Lingkungan karsyan dikonsepsikan sebagai areal suci, yang dipisahkan dengan lingkungan lain di sekitarnya dengan pagar keliling. Gambaran demikian didapati pada karsyan Goa Tritis di lereng perbukitan Walikukun (kawasan Pegunungan Kapur Selatan Tulungagung) maupun pada Karsyan Pawitra dekat Patitthan Belahan (Sumber Tetek) lereng bawah utara-timur Gunung Penanggungan (Ardi Pawitra), yang dilengkapi dengan gapura berbentuk padhuraksa. Bahkan, kasyan Goa Tritis dilengkapi dengan goa artifiasial sebanyak dua buah yang dipahatkan pada tebing batu – salah satu diantaranya dinding berpahatkan adegan pertapaan. Hal ini menegaskan bahwa tapa adalah ritual utama dalam Agama Rsi. Ajaran yang disampaikan di karsyan bersifat esoteris, sehingga pagar keliling itu menjadi kelengkapan arsitektural untuk eksoterisitasnya.

Rsi di Jawa menujuk kepada sekelompok manusia yang mengasingkan diri untuk bertapa di tempat yang sunyi dan terpencil untuk mencari ‘jalan kelepasan’ atau moksa (Santiko, 1990: 157, 159). Tradisi pengunduran diri ke tempat sunyi cukup banyak dibicarakan oleh cerita-certa kakawin dan prasasti. Misalnya, setelah memerintah sebagai raja, Rakai Pikatan menjalani hidup sebagai petapa (pendeta) dengan sebutan ‘Jatiningrat’.

Demikian pula, Erlangga menggunakan nama yang sama, yaitu ‘Jatiningrat” – selain sebutan ‘Paduka Mpungku, atau Bhattara Guru sang pinaka citraning bhawana’.

Sebagai kelompok rokhaniawan yang tinggal bersama di tempat tertentu, terdapat ‘tata jejang’ berdasarkan tingkat ilmu dan kesaktiannya. Bila ditilik dari tingkat keilmuannya, menurut Brahmandapurana terdapat : maharsi, taparis dan srutarsi. Sedangkan berdasarkan kesaktiannya, terdapat brhamarsi, dewarsi dan rajarsi.

Sosok Agastya atau Siwa Maha Guru

Sebagaimana pada para rsi, penjenjangan juga dikenakan kepada murid (sisya) berdasarkan kemampuan ilmunya. Sebuatan ‘ubwan (ubon)’ atau ‘ajar-ajar’ digunakan untuk pendeta-siswa wanita. Untuk pendeta-siswa pria, sebutannya adalah ‘manguyu’. Siswa yang keilmuannya belum setinggi ubwan dan manguyu disebut ‘tapa atau tapaswi’, dalam arti pertapa laki-laki dan perempuan.

Sebutan lain baginya adalah ‘bambang’ untuk laki-laki’, dan ‘endang’ bagi wanita. Apabila kersyan dilokasikan pada kemiringan tanah, maka tata urutan lokasi tinggal mereka dari bawah ke atas adalah: sisya laki-laki/perempuan, pangawayan, pangubwanan selanjutnya tapowana (ajar-ajar).

Interaksi guru-siswa dalam proses belajar-mengajar ditampakkan oleh relief di batur sisi belakang Candi Jawi. Menggambarkan tentang sejumlah orang yang sedang menghadap guru. Para peserta ajar duduk dua banjar (muka-belakang), dengan tata urutan : beberapa peserta ajar pria, beberapa peserta ajar wanita, dan anak-anak pada deret akhir.

Posisi duduk guru lebih tinggi daripada para sisya, yakni duduk di sebuah teras, disertai dengan pembawa tempat ludah sisa penginangan. Hal serupa didapati pada relief cerita Krenayana pada teras II sisi selatan Candi Induk Penataran.

Pada panil relief ini terdapat gambaran seseorang yang tengah mencatat informasi dari guru pada lembar daun tal (rontal). Umumnya secara ikonografis guru atau rsi digambarakan bertubuh kegemukan, kumis menyatu dengan jenggot lebatnya, beraut muka ketuaan, mengenakan jubah dan jatamakuta menyerupai sorban. Gambaran demikian mengingatkan pada sosok Agastya atau Siwa Mahaguru (Mahayogin) yang dutenpatkan pada relung/bilik Candi Saiwa sisi selatan.

C. Memaknai HARDIKNAS dengan Kegiatan Bermakna

Peringatan HARDKNAS tidak cukup sekedar ‘upacara bendera’. Akan lebih bermakna bila dalam momentum pendidikan ini diselenggarakan ekspolorasi mengenai konsep, model dan hal-hal urgen yang perlu diajarkan, dengan menjadikan Sejarah Pendidikan Nusantara (baca ‘Indonesia’) sebagai bahan untuk mencari dan menemukan formula Pendidikan Nasional yang bersumber pada sosio-budaya sendiri. Apa yang diperoleh dari upaya itu dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi terhadap kemungkinan untuk mentransformasikan dan mengaktualisasikan konsep, model dan hal-hal urgen yang konon diajarkan guna memfomulasikan pendidikan pada masa kini dan mendatang.

Dengan cara demikian, maka tidak secara berlebihan menimba konsep dan model pendidikan asing yang lantas dinasionalisasikan. Sebaliknya, perlu mengadaptasikan konsep dan model pendidikan asing tersebut kepada jatidiri Pendidikan Nusantara. Formulasi pendidikan yang konon dihasilkan dan diterapkan oleh kreator Pendidikan Nusantara sesungguhnya ‘tidak senantiasa kalah baik’ dengan konsep dan model Pendidikan Barat, yang semenjak Masa Kolonial dijadikan sebagai ‘pengganti’ terhadap konsep dan model Pendidikan Nusantara. Untuk itulah, maka eksplorasi, identifikasi dan evaluasi terhadap konsep dan model Pendidikan Nusamtara perlu dioptimalkan, utamanya ketika momentum baik ketika tiba HARDIKNAS ini.

Ki Hajar Dewantoro

Hal-hal yang konon diposisikan penting (urgent) dalam Pendidikan Nusantara, seperti pendidikan keagamaan, pendidikan kesusilaan (pekerti), pedidikan rasa, pendidikan jatidiri, pendidikan sosial-budaya, pendidikan lingkungan setempat, dsb., yang pada setengah abad terakhir hanya mendapat ‘porsi minimal’ bila dibanding dengan introyeksi pengetahuan asing dan pendidikan ketrampilan kekinian perlu kiranya ditinjau ulang proposisinya.

Apabila tidak, bisa menyebabkan terjadinya ‘pengkeroposan bangunan kebangsaan’, karena hanya mendesain generasi kini dan mendatang sebagai ‘mesin-mesin tak berjiwa’. Kegandrungan terhadap ‘yang serba asing’ hanya menjadikan produk didik sebagai pribadi-pribadi yang ironisnya terasing dengan realitas setempat.

 

Sebenarnya Ki Hajar Dewantara melalui konsep dan model pendidikan yang diformulasikan dalam Pendidikan ‘Taman Siswa’-nya telah memberi petunjuk tentang betapa panting dan kontributifnya Pendidikan Nusantara sebagai ‘referensi internal’ untuk memformulasikan Pendidikan Nasional Indonesia.

Semoga tulisan yang sebagian telah dipresentasi dalam saresehan ‘Refleksi HARDIKNAS’ di Café Pustaka pada tanggal 2 Mei 2017 lalu itu, meski kini baru seluruhnya diunggah, diharapakan masih aktual untuk dijadikan bahan permenungan dan memberi kefaedahan.
Salam budaya.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Sengkaling 4 Mei 2017.

 

Diunggah dari: patembayancitralekha.com

Ditulis oleh: Dwi Cahyono

Judul asli: Refleksi ‘HARDIKNAS” 2017, PENDIDIKAN SEPANJANG USIA MELINTAS JAMAN : Konsep, Model dan Urgensi Pendidikan dalam Sejarah-Budaya Jawa

Gambar Sampul: Ilustrasi para rsi karya Pramono Estu