Demi mendengar nama “Jatiguwi”, asosiasi kita tertuju kepada wayang topeng Malang Gagrak Gunung Kawi dan sentra penempa logam (pandean). Asosiasi demikian tidaklah salah, sebab akhir-akhir ini wayang topeng Jatiguwi yang sempat beberapa lama “mati suri” memperlihatkan grafik perkembangan yang kian menaik. Namun, sebaliknya kerajinan tempa logam (pande) yang konon demikian kuat justru kian mengalami degradasi (kemerosotan). Apakah desa pertanian yang berada di Kec. Sumber Pucung Kab. Malang, yang diapit oleh dua buah sungai ini — Bangawan Brantas di sisi selatan dan Kali Biru di sisi utara — adalah desa kuno yang terus eksis hingga kini?

Ada setidaknya dua indikator untuk menjawabnya dengan “ya”. Pertama, Jatiguwi Lor telah menjadi permukiman sejak Era Perang Diponegoro (1825-1850). Terbukti, terdapat suatu Dusun bernama “Mentaraman” di sini, yang menjadi salah satu lokasi pelarian dari anggota lasykar Pangeran Diponegoro pasca Kompeni Belanda melancarkan strategi perang Benteng Stelsel. Kedua, kekunoannya bahkan jauh lebih tua lagi dari abad XIX itu. Benarkah demikian, apa buktinya?

Minggu lalu, turun berita disejumlah media massa tentang penemuan arca batu andesit yang “diduga” arca Durga di Dusun Mentaraman Desa Jatiguwi, tepatnya di halaman belakang rumah pak Ngatiran. Kata “diduga”semestinya tidak perlu dicantumkan, sebab arca yang ditemukan oleh Ngatiran ketika menggali tanah aluvial sedalam sekitar 40 cm untuk wadah batu koral sisa dari pembangunan rumahnya — kini arca tersebut diamankan di Polsek Sumber Pucung — sudah PASTI atau jelas merupakan arca Dewi Durga Mahisasuramardhini. Apa petanda khusus (laksana) untuk memastikan demikian?

Ada tiga figur yang dipahatkan pada monolith ini, yaitu:

(1) Dewi Durga yang digambarkan tengah berperang — sehingga masuk dalam kategori “arca tipe adegan”,

(2) mahisa (kerbau) yang dijadikan sebagai landasan pijak dari berdirinya dengan sikap dwibangga,

(3) asyura, yakni demon sakti sebagai musuh para dewa, yang dapat menjelma menjadi beragam wujud.

Mahisa adalah makhluk jelmaannya, selain gajah, sabga, dll. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada arca ini Asura digambarkan menyembul dari ubun-ubun Asyura — lazinnya, makhluk jelmaan keluar atau sebaliknya masuk dari/ke wujud aslinya lewat ubun-ubun. Dengan demikian, arca ini menggambarkan Dewi Durga yang tengah berperang melawan Asyura, yang sebelumnya menjelma menjadi mahisa.

Gambaran “tengah berperang” tampak dari sikap dari delapan tangan (hastabhyuja) beserta atributnya. Tangan kedewataan (bagian depan) sisi kiri dalam posisi menjambak rambut panjang-ikal dari Asura, sehingga tampak Asyura dalam kondisi kesakitan — tangan kanan dijulurkan ke arah rambutnya. Sementara tangan kedewataan sisi kanan menarik kearah atas ekor mahisa yang baru dikalahkannya. Dalam suasana perang, keenam tangan lainnnya masing-masing digambarkan memegang senjata. Pada tiga buah tangan belakang sisi kanan berturut-turut dari atas ke bawah dipersenjatai dengan sangka (cangkang), ketaka (perisai) dan busur panah (danda), sementara pada ketiga tangan belakang sisi kanan tak terlihat jelas senjata yang dibawa, lantaran sandaran arca (stella) bagian atas dan kanan rompal serta aus — kemungkinan membawa mata panah, tali jerat (pasa) atau semacam belati dan cakra.

Sebenarnya, selain arca sakti (istri) Dewa Siwa dengan tinggi sekarang 53 cm — jika utuh sekitar 57 sd 60 cm– itu juga ditemukan fragmen arca batu andesit. Yang tersisa tinggal bagian lutut hingga mata kaki, dalam posisi berdiri tegak lurus (samabhangga). Yang menarik, fragmen arca ini disertai dengan tonjolan di bagian bawah, sebagai penguat bagi posisi berdiri arca pada pedestal — yang dilengkapi dengan cekungan persegi. Sayang sekali sukar untuk mengidentifikasikan latar kedewataannya. Bisa jadi kaki dari arca Rsi Agastya (Siwa Mahaguru), atau mungkin fragmen arca Nandiswara. Ada hal lain yang belum dicermati dari pahatan di sisi kiri kakinya — lantaran terbalut tanah dan tidak dibersihkan, sebab di luar kewenangan saya. Jika pahatan itu menggambarkan teratai yang tumbuh dari bonggolnya, maka ada indikasi berasal dari Masa Singhasari. Jika tidak, dan dengan menilik ukuran bata-bata kuno yang banyak ditemukan, maka asal artefak di Jatiguwi diperkirakan dari Masa Majapahit.

Selain kedua arca itu, menurut pengakuan Udin, siswa kelas VI SD warga setempat, setahun lalu ia dan dua kawannya sempat melihat sebuah arca dalam posisi berdiri di antara rimbunan bambu apus. Ukuran hampir setinggi arca durga tersebut. Menurutnya, kedua telapak tangan arca ditempatkan di depan pusar (dhyanamudra) dan diatas telapak tangan yang terbuka ke arah atas tersebut terdapat benda melancip ke atas. Apa yang diungkapkan mengingatkan pada arca perwujudan, yakni personifikasi dari arwah seseorang tokoh yang diarcakan dalam wujud dewata (Siwa). Sayang sekali beberapa hari setelah mereka melihatnya, arca tersebut tak lagi dijumpainya. Kini rimbunan bambu (barongan pring) itu telah di bakar dan di sisi utaranya telah berdiri bangunan rumah, sementara di sisi barat berdiri pagar tembok. Tak diketahui latar raibnya dan keberadaannya kini.

Jika menilik ketiga arca itu, tergambar bahwa apa yang telah dan tengah ditemukan di situs Jatiguwi bukan sekedar penemuan arca Durga, lebih dari itu adalah tiga diantara satu set arca Siva Family, yang jika lengkap terdiri atas:

(1) arca Lingga-Yoni atau Siwa Mahadewa atau arca perwujudan, yang semula berada di bilik utama (garbha grha),

(2) arca Nandiswara dan Mahakala di relung depan kanan-kiri pintu candi,

(3) arca Durga di relung utara,

(4) arca Ganesya di relung belakang, dan

(5) arca Agastya atau Siwa Mahaguru di relung selatan.

Arca-arca ini adalah pantheon baku pada candi Hindu sekte Saiwa. Dengan demikian, yang ditemukan tersebut sebenarnya adalah ikonografi dari bangunan suci berbentuk candi, yang berasal dari masa Majapahit atau paling tua dari masa akhir Singhasari. Jika benar demikian, dimanakah keberadaan candinya?

Pada tempat penemuan arca-arca itu terdapat kandungan bata-bata besar-kuno dalam jumlah banyak. Dengan menggali tanah pada kedalaman sekitar 40 cm, didapati hamparan reruntuhan bata-bata kuno, baik di timur ataupun di barat pagar. Bahkan, hingga tahun 1960-an, pada areal yang diyakini angker (wingit) ini permukaan tanahnya menggunduk dan terdapat banyak bata-bata kuno berserakan diantara beberapa kelompok rimbunan bambu. Pada akhir dekade 60-an tidak sedikit bata-bata kuno yang ditumbuk untuk dijadikan bubuk bata, yang jumlahnya hingga mencapai sekitar 60 m kubik. Bata-bata kuno yang konon berada di atas permukaan tanah dan kini masih banyak yang terkandung di dalam tanah adalah komponen bangunan candi Hindu-Siwa dimaksud.

Boleh jadi, bata-bata yang telah raib tersebut adalah komponen dari tubuh dan atap candi. Masih bisa diharapkan kompononen kaki dan batur candinya masih berada di dalam tanah. Misteri keberadaan candi itu musti dibuktikan dengan ekskavasi. Oleh karena itu, kunjungan BPCB Jatim dan Disbudpar Kab. Malang ke Sumber Pucung diharapkan tak sekedar kunjungan dinas seremonial untuk meninjau berita temuan tinggalan purbakala, namun lebih dari itu untuk merancang tindakan menyelamatkan (konservasi) dalam bentuk ekskavasi –minimal melakukan test pit (uji gali).

Jangan bilang Pemkab Malang tak cukup dana untuk bisa melakukan itu sekarang, dengan mengingat dua hal:

(1) areal situs kini menjadi areal permukiman,

(2) adanya potensi temuan arsitektural, ikonografis dan artefak lain di bawah tanah,

(3) peninggalan candi di sub-area selatan Malang boleh dibilang jarang.

Jika terbukti bahwa situs Jatiguwi adalah candi, maka akan mengisi “kekosongan” temuan candi di lereng dan lembah sisi selatan G. Kawi. Sementara di sisi barat (misal situs Sirah Kencong, Rambut Monte, Punden Pagersari, dsb), utara (misal Selobrojo, Sebaluh, Princi, dsb) serta timur (misal Badut dan Gasek, Kagenengan, dsb) terbukti memiliki jejak bangunan suci Masa Hindu-Buddha. Temuan candi di situs Jatiguwi dengan demikian bakal memperkuat bukti bawa Kawi adalah gunung suci (holy mountain), sebagaimana dikisahkan dalam kitab gancaran (prosa) Tantu Panggelaran bahwa G. Kawi adalah salah satu rompalan dari puncak gunung suci Meru (Himalaya).

Ada kemungkinan orientasi (arah pengkiblatan) Candi Jatiguwi adalah ke utara-barat, yakni ke puncak gunung suci Kawi. Sebagai bangunan suci, candi Hindu-Saiwa ini bukan hanya diorientasikan ke puncak gunung suci, tapi juga didirikan di dekat kali suci Biru — airnya disakralkan, sebab bermata air (tuk) di lereng gunung suci Kawi dan berada di areal suci, yakni areal yang diapit oleh dua buah sungai (Brantas-Biru). Bangunan suci ini bakal memperkaya khasanah budaya masa lalu di Kab. Malang, khususnya untuk sub-rea selatan Malang.

Marilah penanganan terhadap situs Jatiguwi ini dijadikan pembukti akan tingkat kepedulian Pemkab Malang, khususnya Disbudpar terhadap heritage. Jika toh Pemkab mengalokasikan dana untuk merisetnya lewat ekskavasi, jangan sekali-kali berfikir BEP, yakni bea riset harus kembali lewat perolehan dari sektor pariwisata atasnya, sebab konservasi budaya tidak senantiasa berdampak finansial. Kesungguhan Pemkap Malang tangani BCB kita uji kali ini pada tindakan nyata yang dilakukannya untuk menangani secara bijak dan proporsional situs Jatiguwi. Semoga terbukti peka dan peduli.

 

Diunggah dari: patembayancitraleka.wordpress.com

Judul Asli: Jatiguwi: Menakar Kesungguhan Pemkab Malang Ungkap Situs Arca-Candi Jatiguwi

Ditulis oleh: Dwi Cahyono, 10 September 2015