Setelah kejatuhan Lumajang, Belanda mengalihkan perhatiannya ke Malang karena para pemimpin perlawanan paling berbahaya telah mengungsi ke daerah ini. Dua utusan Jawa yang dikirim ke Malang oleh Tropponegro, mengatakan bahwa Malayakusuma telah merekrut 1.500 tentara untuk mempertahankan Malang dari serangan Kompeni. Sementara itu, Raden Tirtanagara, saudara termuda Malayakusuma, menyatakan bahwa Malayakusuma telah bergabung dengan Raden Mas, putra Singasari. Mengulangi kata-kata Tirtanagara, sang utusan menyatakan:

“Bagaimana aku dapat menyembunyikan kenyataan bahwa Raden Mas ada di sini, di Malang. Anda dapat melihat 200 orang prajurit kavalerinya berada di sini. Jika Lumajang diserang, ia akan bergabung dengan saudaraku, Malayakusuma. Ia (Tirtanagara) berkata lebih jauh, merujuk pada Raden Mas, bendera hijau telah menuju ke sini untuk menyebarkan luka di tubuh kita”.

Mengetahui situasi tersebut, Gezaghebber Coop a Groen menyusun sebuah rencana untuk memperlemah aliansi musuh. Dia berusaha memanfaatkan ambisi Malayakusuma. Sebelum penyerangan Lumajang, Malayakusuma menunjukkan sikap yang lunak. Ia bersedia memenuhi permintaan Gezaghebber untuk menyerahkan upeti — sejumlah besar beras (dibawa dengan 10 kuda), 100 ayam, dendeng, dan 8 budak untuk bekerja di loji Kompeni. Ia juga menahan dan mengambil alih dua istri Wayan Kutang (pengungsi Bali dari Blambangan) dan salah seorang pengikutnya. Bahkan dalam surat-suratnya yang terakhir, ia memberikan jaminan bahwa dirinya tidak berani menentang Kompeni. Ia menyatakan bahwa jika ia berani melakukannya, maka hal itu berarti sama saja dengan menentang tuannya sendiri. Ia juga berjanji untuk menangkap Wayan Kutang dan Natayuda. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa ia menolak permintaan Raden Mas yang menginginkan 50 senjata dan lusinan kuda. Tergoda dengan seluruh janji ini, sang Gezaghebber merasa yakin bahwa kesempatan baik menerapkan strateginya untuk menghancurkan persekutuan antara Prabujaka dan para keturunan Surapati. Ia mengirim utusannya, Encik Mida, beserta 100 prajurit dari Surabaya dengan dalih membantu Malayakusuma melindungi Malang dari gangguan Prabujaka dan para pengikutnya. Pengiriman pasukan ini diharapkan dapat menciptakan kesan di antara para sekutunya, bahwa Malayakusuma telah mengkhianati teman-teman persekutuannya.

Meski Malayakusuma menolak bantuan militer, sikapnya ini menimbulkan keraguan di antara pengikutnya. Patih Porong, Natayuda, meninggalkan Malang dan bergabung dengan Raden Mas di Antang, sementara Wayan Kutang melarikan diri ketika menyadari bahwa Malayakusuma telah menangkap istri dan pengikutnya. Dilaporkan juga bahwa ayah Malayakusuma (Kartanagara), orang yang teguh melawan Belanda, telah meninggal dan dimakamkan di suatu tempat di selatan Gunung Semeru. Dalam keadaan seperti itu, Gezaghebber dapat menekan Malayakusuma untuk menunjukkan persahabatannya. Ia mengirim Encik Mida pada Malayakusuma agar bersedia menerima tawaran terakhirnya: Jika Malayakusuma benar-benar loyal pada Kompeni ia harus menunjukkannya dengan membujuk Raden Mas dan Prabujaka di Antang untuk menyerah pada Kompeni. Sang Gezaghebber meyakinkan Malayakusuma untuk membuat dalih bahwa Malang akan diserang seandainya Raden Mas dan Prabujaka menolak menyerah. Encik Mida juga menyatakan bahwa saat ini, hanya berjarak satu jam perjalanan dari Malang, Vaandrig Gondelag dengan 500 pasukan telah mendirikan sebuah markas militer. Ini bukan satu-satunya ancaman karena Kapten Tropponegro dan pasukannya juga tengah menuju Malang dan tinggal menunggu tiga petunjuk baik yang dapat menunjukkan rute terbaik menuju Malang dan Antang. Mereka berharap sang Bupati dapat membantu mempersiapkannya. Sang Gezaghebber juga menuntut agar Malayakusuma menyerahkan para desertir Eropa yang telah tinggal di Malang selama 10 tahun. Jika ini tidak dipenuhi, Kompeni tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang.

Bahkan dalam situasi yang sulit ini Malayakusuma tetap enggan memenuhi seluruh permintaan Gezaghebber. Ia menyatakan bahwa jika ia membantu Kompeni menyerang Raden Mas dan Prabujaka di Antang, langkah ini akan dianggap sebagai sebuah pemberontakan melawan Sultan dan Susuhunan Mataram. Akan tetapi, ia berjanji tetap loyal pada Kompeni, sebagai jaminan bahwa ia tidak akan bergabung dengan kaum pemberontak. Gubernur Vos di Semarang meminta Gezaghebber mengambil tindakan lebih tegas untuk menjamin Malayakusuma tidak akan mengingkari janjinya mengirimkan istri dan anak-anaknya ke Surabaya sebagai gijzelaars (tawanan). Gubernur mengatakan jika menginginkan keluarganya kembali dengan selamat, ia harus menyerahkan Wayan Kutang dan Natayuda, dan memenuhi seluruh permintaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Kembalinya utusan Belanda, Encik Mida, dari Malang menyisakan tumpukan besar kerja yang belum selesai. Belanda gagal membujuk Bupati Malang mendukung ekspedisi mereka melawan para pemberontak di Antang atau melepaskan para desertir Eropa yang berada di sana. Gezagghebber Coop a Groen memutuskan mengubah rencana ekspedisi tersebut. Alih-alih menyerang Antang (pengungsian Singasari), serangan ke Malang kini menjadi tujuan utama. Gezaghebber menginstruksikan Kapten Tropponegro menyerang dan kemudian menahan keluarga Malayakusuma dan Kartanagara yang kini berada di Malang. Gezaghebber juga mengijinkan menyerahkan 25 prajurit Eropa kepada Vaandrig Gondelag untuk mendukung serangan tersebut. Jika Malayakusuma melawan, ia harus dianggap sebagai musuh Kompeni dan harus dimusnahkan. Kapten Tropponegro juga diperintahkan untuk memberikan informasi rencana penyerangan ke Malang dan posisi musuh pada Letnan Wipperman yang kini berada di pesisir selatan Jawa. Ini dilakukan dengan dasar bahwa jika serangan atas Malang dilakukan, para pemberontak kemungkinan akan lari ke Lumajang dan kemudian dari Lebak ke pesisir selatan Jawa. Dengan informasi ini, Letnan Wipperman dan prajuritnya bisa mempersiapkan diri untuk mencegah hal itu. Jika pekerjaan itu telah selesai, Tropponegro harus membersihkan jalan bagi Gondelag dan pasukannya, yang menurut dugaan berada di Lebak dan tengah menaklukkan desa-desa di sebelah selatan, untuk masuk ke Malang guna mendukung Tropponegro. Malang harus diduduki selama mungkin dan serangan atas Antang harus direncanakan dari tempat ini. Juga diusahakan, bahwa uang sejumlah 1.000 dolar Spanyol akan diberikan kepada siapa pun yang dapat menangkap Raden Mas dan Prabujaka, hidup atau mati, dan 500 dolar Spanyol untuk Malayakusuma dan keluarganya. Sementara itu, di Wirasaba, Kapten Hounold dengan bantuan 49 prajurit Eropa dan 500 prajurit Surabaya bersiap mendukung ekspedisi ke Antang.

Malayakusuma menyadari bahwa upayanya meyakinkan Belanda sia-sia dan memutuskan mempertahankan Malang dengan kekuatan senjata. Sekitar 800 pasukan kavaleri di bawah kepemimpinan saudara termudanya, Tirtanagara, dikirim untuk menjaga perbatasan Malang dan Lumajang. Pada saat yang sama, dua unit kekuatan koalisi Belanda di bawah Kapten Tropponegro dan Letnan Gondelag membuat gerakan menjepit dan mendekati kota itu dari dua sisi yang berbeda. Malayakusuma bertindak cepat dengan mengirimkan pasukannya hingga ke distrik-distrik pegunungan di sebelah timur Malang. Dengan melancarkan serangan gerilya, mereka mencoba mencegah musuh memasuki kota. Pada sore hari, pasukan Belanda dan Madura di bawah pimpinan Tropponegro tiba di Desa Badali dan mendirikan sebuah markas militer. Orang-orang Tirtanagara mendekati mereka, namun tetap menjaga jarak. Pada sore yang sama, pasukan Belanda meneruskan perjalanan mereka melintasi Getih, Songsong, dan Sungai Surak. Di tempat tersebut, Tirtanagara memulai serangan gerilyanya, namun ini tidak membawa hasil. Sebaliknya, banyak prajurit Malang yang terbunuh dan terluka.

Serangan atas Kapten Tropponegro dilaporkan pada Letnan Gondelag yang kini juga mendekati Malang bersama dengan prajurit Surabaya. Ia memutuskan untuk bergerak membantu rekannya dan berangkat lebih dulu dengan membawa pasukan Eropa. Di belakangnya, pasukan Surabaya di bawah pimpinan Jayanagara dan Kartawijaya menyusul. Tepat di Gunung Mandaraka, prajurit Surabaya diserang oleh Tirtanagara dengan 800 kavaleri. Dalam pertempuran ini mereka terpecah menjadi tiga kelompok dan banyak di antaranya terbunuh dan terluka. Pasukan Surabaya terpecah belah, sementara senjata dan amunisi mereka dirampas musuh. Kini, Kartawijaya hanya memiliki 300 prajurit dan mereka mundur ke markas mereka di Badali. Di tempat ini, ditempatkan Kepala Desa Tambakgawe dengan dilengkapi 100 pikulan, namun mereka melarikan diri ketika melihat Kartawijaya kembali dengan membawa banyak luka di tubuhnya. Ratusan pasukan Jawa dan Madura terbunuh dan terluka dalam pertempuran ini. Di sisi lain, Tirtanagara juga terluka. Menurut laporan, ia tertembak di pundak oleh Kapten Belanda dan salah satu anaknya juga terbunuh. Ketika Gondelag tiba dengan prajuritnya, Tirtanagara dan orang-orangnya lari. Para pengejar mereka kesulitan menangkap mereka, karena mereka naik kuda, sementara prajurit Kompeni hanya berjalan kaki. Beberapa dari mereka menetap di Gunung Gelap, sementara yang lain berpatroli melintasi seluruh desa. Letnan Gondelag dan prajuritnya bergabung dengan Tropponegro, namun mereka masih kekurangan senjata api dan amunisi. Pertempuran di Gunung Mandaraka telah memperlemah pasukan Kompeni. Tropponegro meminta pada Gezaghebber untuk mengirim 1.000 pasukan tambahan dari Surabaya, akan tetapi hal ini tidak dapat dilakukan karena hanya tersedia 40 pasukan Eropa. Untuk memenuhi permintaan ini, Gezaghebber meminta 600 prajurit Madura dari Panembahan Madura.

Setelah pertempuran di Gunung Mandaraka, Malayakusuma memutuskan meninggalkan Malang bersama dengan seluruh keluarga dan pengawalnya. Ia menyangka bahwa Singasari dan Raden Mas masih berada di Wulu Laras, dan mengira bahwa dia bisa bergabung dengan mereka di sana. Oleh karena itu, ketika Tropponegro dan Gondelag akhirnya memasuki Malang, kota itu benar-benar kosong dan dapat diduduki dengan mudah. Mata-mata yang dikirim untuk mengumpulkan informasi membawa kabar bahwa Malayakusuma kini berada di Wulu Laras, bekas persembunyian Prabujaka dan Raden Mas. Tropponegro segera mengirim 186 prajurit Eropa, 500 Madura, dan 1.600 prajurit Surabaya, Bangil, dan Pasuruan di bawah komandonya sendiri. Sementara itu, Letnan Gondelag tetap berada di Malang dengan 47 prajurit Eropa dan 1.000 Surabaya untuk mempertahankan kota itu. Letnan Hounold dan prajuritnya juga meninggalkan Jeruk Wangi menuju Antang untuk mendukung Tropponegro. Di wilayah Sultan, terdapat para prajurit Jawa di bawah pimpinan Tumenggung Wirasaba, dan di Panaraga juga terdapat beberapa prajurit di bawah pimpinan Raden Adipati Martadiningrat, yang juga diharapkan membantu ekspedisi tersebut. Sultan memberikan jaminan untuk mencegah musuh memasuki wilayahnya dan jika dibutuhkan pasukannya akan akan dikirim keluar untuk bergabung dengan kekuatan koalisi Belanda. Belanda sangat menginginkan bantuan prajurit Sultan jika mereka mengirimkan perintah ke negeri tersebut.

Tropponegro sangat kecewa karena tidak dapat menemukan satu pun musuh di Wulu Laras. Tampaknya, Malayakusuma telah mundur sebelum Belanda datang. Satu-satunya jembatan di Sungai Lembal telah dirusak oleh Malayakusuma untuk menghalangi gerak Kompeni. Di tempat ini, pasukan Belanda membunuh 17 orang perempuan dan anak-anak karena mereka menolak menunjukkan tempat persembunyian Malayakusuma dan orang-orangnya. Meski demikian, serangan mendadak Belanda ke Wulu Laras tidak sepenuhnya sia-sia, karena di tempat ini Tropponegro berhasil mengumpulkan keterangan bahwa Raden Mas, anak Singasari, kini berada di Tuntang, dekat Sungai Kampas di Rajegwesi. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membawa pasukannya ke Rajegwesi dan menyerang Raden Mas serta meninggalkan Gondelag untuk mencari informasi keberadaan Malayakusuma yang diperkirakan akan pergi menuju wilayah Sultan.

Pada tanggal 9 Oktober 1767, Tropponegro tiba di Batu dan membuat markas di sana. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Rajegwesi, ia mengirim pimpinan prajurit Madura, Kacamanggala, dan orang-orangnya untuk menemukan jalan terpendek menuju Rajegwesi, namun mereka kembali dengan tangan kosong. Banyak jebakan telah dibuat oleh para pemberontak. Sepanjang jalan menuju Lodalem, Raden Mas dan orang-orangnya telah menempatkan batu-batu besar di atas pohon. Meski demikian, pasukan Belanda memutuskan untuk membersihkan seluruh jebakan ini dengan mengerahkan 500 prajurit Madura dan 36 Eropa, Tropponegro menyerang posisi Raden Mas di Rajegwesi. Setelah beberapa jam pertempuran, Rajegwesi dapat dikuasai, namun sebagian besar pemberontak berhasil melarikan diri ke selatan. Raden Mas yang hanya memiliki 60 pasukan, tidak dapat mempertahankan markasnya. Rajegwesi kini dikuasai dan sebuah benteng kecil didirikan. Tropponegro memutuskan bertahan di Rajegwesi selama delapan hari untuk mengumpulkan perbekalan bagi prajuritnya. Di sisi lain, Letnan Hounold bersama dengan46 prajurit Eropa dan 200 prajurit Jawa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Rajegwesi untuk mendukung Tropponegro melawan Raden Mas. Namun, mereka gagal melaju lebih jauh karena pikulan tidak bisa mendaki perbukitan. Pada tanggal 17 Oktober, Hounold menarik pasukannya ketika ia mendengar bahwa Rajegwesi telah dikuasai.

Setelah jatuhnya Rajegwesi, Raden Mas pergi ke selatan dan bergabung dengan para pemimpin pemberontak lain seperti Tumenggung Antang, Wongsanagara, Mas Pangulu, dan Jayakusuma. Mereka memperkuat pasukannya dengan 2.000 prajurit kavaleri. Mereka berjalan kembali menuju Malang untuk mengambil alih kota tersebut. Pada tanggal 18 Oktober, Hounold menerima informasi bahwa para pemberontak yang terkurung di wilayah Sultan telah kembali ke Malang. Raden Mas dan Prabujaka diperkirakan berada di Samperak, di sebelah utara Lodalem. Sementara itu, Malayakusuma dan Tirtanagara dilaporkan berada di Sambigeger, barat daya Samperak. Hounold memerintahkan untuk memotong jalan menuju Malang dan menyerang Malayakusuma dan saudaranya di tempat itu. Bupati Kediri berjanji untuk menuju Samperak menyerang Singasari dan Raden Mas.

Pada tanggal 3 November, pasukan koalisi Belanda berjalan dari Sarengat menuju Blitar. Pada siang hari mereka tiba di Pagulungan dan pada sorenya mereka menuju Selagurit untuk menyerang posisi musuh. Beberapa tawanan dipaksa untuk menunjukkan jalan menuju Selagurit. Mereka berjanji menunjukkan jalan paling mudah bagi prajurit Belanda. Namun, seperti yang telah diduga, mereka justru memilih jalan yang sulit dilewati di perbukitan, yang terletak satu setengah jam dari Selagurit. Di sana, Raden Adipati Martadiningrat tiba dari Panaraga dan meminta komandan Belanda mengikutinya, karena ia mengetahui jalan lebih baik menuju target mereka. Namun, para tawanan bersikeras bahwa jalan yang mereka pilih adalah yang terbaik, dan jalan yang lain lebih sulit, karena mereka harus menyeberangi sungai besar. Sang Adipati memaksa mereka berbelok. Pada pagi harinya ketika mereka masih berada di perbukitan tersebut, mereka mendengar suara tambur yang dibunyikan oleh musuh dan oleh prajurit Sultan disertai suara tembakan. Kapten dan sekitar 12 prajurit Eropa dan satu penembak meriam dan dua boschieter dan hampir 80 prajurit Jawa bersenjata api dan tombak di bawah komando Tirtakusuma, mantri dari bupati muda Sarengat, dengan cepat maju memasuki hutan. Kemudian, seorang kurir yang dikirim Raden Adipati memberi tahu kapten bahwa tuannya terlibat pertempuran dengan musuh dan mereka dikalahkan. Tidak lama setelah itu, seorang budak muda Mas Tumenggung Suradirja datang dengan membawa pesan yang menyebutkan tuannya terluka serius. Kemudian Raden Adipati datang dengan beberapa bupati dan mengatakan bahwa Raden Mas Tumenggung Sudirja terbunuh.

Asisten Helmond dan Kapten Hounold melihat medan pertempuran, dan memperkirakan posisi musuh. Beberapa menit kemudian, mereka melihat serombongan orang di bawah pimpinan Raden Mas, dan dari kejauhan Raden Adipati berteriak kepada sang Kapten bahwa orang yang tidak menggunakan payung berwarna kuning adalah Raden Mas. Kapten tidak menjawab, namun mundur dan menyiapkan serangan mortir. Sayangnya, tidak lama kemudian Raden Adipati datang dan mengatakan bahwa musuh telah mundur. Dalam laporan pertempuran yang ia buat untuk Gezagghebber, Hounold mengakui bahwa ia tidak menyadari musuh sangat kuat. Raden Mas tidak sendirian namun didukung oleh Tumenggung Wongsanagara, dan anggota keluarga Malayakusuma yang lain, Mas Pangulu dan Jayakusuma, serta memiliki 2.000 prajurit kavaleri. Meski memiliki kekuatan sebesar itu, dia dikepung oleh prajurit Sultan dan terpaksa menceburkan diri ke sungai, di mana banyak tentaranya tenggelam. Di bawah berondongan tembakan mortir, ia melarikan diri ke ayahnya Prabujaka di Kalijingga. Prajurit Susuhunan tidak dapat menangkapnya, namun sekitar 25 prajurit terbaiknya berhasil ditangkap beserta 1.000 ekor kerbau, 200 kuda, senjata api, bubuk mesiu, dan sejumlah besar tombak dan keris.

Dalam pertempuran ini, tiga orang pemimpin dan tiga orang prajurit infanteri bersama denga tiga olas berhasil ditangkap Belanda, sementara sisanya melarikan diri. Agaknya, Raden Mas dan pasukannya tengah menuju Kalijingga, Sarengat. Pada tanggal 5 Oktober, bupati Wirasaba dan Kediri memotong jalan ke Sarengat. Sementara itu di Antang, Tropponegro dan prajuritnya diserang wabah karena kekurangan obat-obatan. Beberapa prajurit Eropa di Jerukwangi juga tengah sakit. Dia membutuhkan mereka untuk mempertahankan Kediri.

Sebuah laporan dari Blitar mengatakan bahwa Prabujaka tengah bertempur melawan prajurit Sultan. Pemimpin pasukan Sultan, Ngabehi Pace, Suradiwirya, dan tiga orang lain dari Kediri terbunuh. Dalam pertempuran ini, tiga orang pemberontak terbunuh dan beberapa orang lainnya terluka. Laporan ini membantah rumor sebelumnya yang menyebutkan bahwa Prabujaka telah meninggal karena kelaparan. Prabujaka masih hidup dan kuat, yang dibenarkan oleh Bupati Pasuruan Nitinagara pada akhir November, ketika dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan dua orang Jawa dari Malang yang menyatakan bahwa mereka telah bertemu Prabujaka. Kedua orang ini mengatakan bahwa Tirtanagara, Sasranagara, dan Suryanagara kini berada di Selakopek bersama dengan 200 orang, Raden Mas di Langsi bersama dengan 1.000 pasukan. Malayakusuma dan Mas Sudarma memiliki 100 pasukan. Prabujaka sendiri dan tujuh pemimpin berada di Lodalem bersama dengan 500 prajurit. Orang Jawa tersebut juga mengatakan bahwa Malayakusuma dan saudara-saudaranya berencana menuju Blambangan melalui pesisir selatan Jawa. Mendengar berita ini, Tropponegro memerintahkan Gondelag, yang kini berada di Malang, untuk memotong jalan menuju Blambangan guna mencegah musuh bergerak ke timur.

Pada 5 Desember 1767, Gondelag bergerak dari Urek-urek, dan di Gunung Gumba mereka diserang oleh 500 prajurit kavaleri Malayakusuma yang muncul dari berbagai arah. Pertempuran ini berlangsung hingga jam sebelas siang. Tidak diketahui berapa orang di pihak Malayakusuma yang menjadi korban, namun di pihak Kompeni tidak ada seorang prajurit pun yang terluka atau terbunuh. Hari berikutnya, pertempuran lain pecah di Gunung Cangkring, terletak di selatan Gunung Gumba. Sekitar 20-50 prajurit Malayakusuma, semua menunggang kuda, menyerang. Kali ini kekuatan koalisi Belanda gagal mempertahankan posisinya. Setelah pertempuran ini, Malayakusuma dan keluarganya bersiap menuju Blambangan dan bergabung dengan Wilis. Untuk mencapai Blambangan, ia berencana menelusuri jalan di sepanjang pesisir selatan Jawa dari Malang hingga Lumajang dan kemudian Blambangan.

Sumber:
Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan (Java’s Last Frontier: The Struggle for the Hegemony of Blambangan 1763-1813)

 

Diunggah dari: ngalam.id

Ditulis oleh: nGalamediaLABS

Judul asli: Perlawanan Bupati malang

Gambar sampul: Gubernur Semarang merundingkan penyerangan ke Malang bersama Bupati Surabaya