C. Informasi Historis-Arkeologis Candi Sthirangga (Gunung Wukir)

1. Toponimi Arkhais dan Letak Candi

Secara harafiah, kata ‘wukir’ berarti: gunung. Dengan demikian, toponimi ‘Gunung Wukir’ merupakan kata ulang bersinonim arti, yang menunjuk kepada ‘Gunung X’. Tergambar dalam hal ini bahwa warga sekitar tidak tahu atau telah melupakan nama kuno dari gunung (bukit) di daerahnya. Namun bila menilik teks Prasasti Canggal bait ke-1, diperoleh informasi bahwa nama kuno (toponimi arkhais) dari gunung ini adalah ‘Sthirangga’. Berdasar nama tersebut, maka reruntuhan candi yang berada di puncaknya tepat untuk dinamai ‘Candi Sthirangga’.

Kata ‘sthi’ yang mempunyai padan kata dengan ‘stha (berdiri) dalam perkataan ‘sthirangga’ membayangkan sesuatu yang didirikan – menurut keterangan dalam prasasti tersebut adalah Lingga, yang didirikan di atas bukit atas perintah raja (rangga) ‘Sanjaya’. Dengan demikian, perkataan ‘sthirangga’ mengabadikan peristiwa religio-magis untuk mengukuhan kadatwan Mataram, yaitu mendrikan ‘Lingga Kerajaan’ di bukit Sthirangga. Oleh karena warga sekitar tidak lagi mengena nama kuno dari bukit dan desanya, maka ketika dua pecahan prasasti batu bertarikh 732 Masehi ditemukan di Dusun Canggal dan pada puncak Gunung Wukir, maka prasasti itu diberi nama sesuai nama dusun dan bukit padamana diketemukan, yaitu Prasasti Canggal atau Prasasti Gunung Wukir. Demikian pula, reruntuhan candi pada puncak bukit itu dinamai ‘Candi Gunung Wukir’.

Dusun Canggal adalah salah satu diantara lima dusun (dukuh) di Desa Kadiluwih Kec. Salam Kab. Magelang, pada di lereng barat Gunung Merapi, pada sebelah timur laut Kec. Muntilan. Nama ‘Kadiluwih’ adalah nama baru. Toponimi arkhaisnya sesuai dengan keterangan dalam Prasasti Canggal bait ke-adalah ‘Kunjarakunjadesa’. Disebutkan lebih lanjut dalam prasasti ini bahwa warga Desa Kunjarakunja berjasa dalam mendirikan bangunan suci bagi pemujaan terhadap Dewa Siwa. Candi ini digambarkan sebagai berada di suatu bukit, yang diibaratkan seperti ‘Gunung Meru’, padamana Sungai Gangga bermata air (tuk). Bukit dimaksud sangat boleh jadi adalah Gunung Wukir. Adapun sungai itu adalah sebuah kali yang mengalir di kaki bukit. Jika benar demikian, bangunan suci (candi) bagi Dewa Siwa itu adalah Candi Gunung Wukir, yang menilik tinggalan ikonografisnya jelas merupakan candi Hindu sekte Saiwa.

Letak astronomis Gunung Wukir adalah 7,634° LS, 110,296° BT yang menilik letaknya berada di Pulau Jawa. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Prasasti Canggal bait ke-7 mengenai gambaran terhadap Dwipa Jawa: Tersebutlah sebuah pulau yang indah bernama Yava (Java) // yang tak tertandingi oleh yang lain,// yang memiliki biji-bijian berlimpah seperti padi dan lainnya,// yang terdapat tambang emas yang dimiliki oleh para dewa,// adalah merupakan tempat yang paling indah dan menawan,// Kuil Siva yang mensejahterakan dunia,// yang didirikan oleh sebuah keluarga, // yang berasal dari tanah termahsyur Kunjarakunja. Bait ke-8 menyebutkan ”Di pulau mahsyur bernama Yava tersebut,// yang kemudian menjadi (rumah) bagi seorang lelaki dengan karakter kuat,//Yang Utama dari seorang Raja, dilahirkan dengan nama Sanna……… “.

Keterangan ini menegaskan bahwa Jawa merupakan pulau yang indah-menawan, subur-makmur, dengan penghasilan utama padi-padian (gandum( dan tambang emas. Pada pulau inilah terdapat Kuil Siwa, yang didirikan oleh sebuag keluarga yang berasal dari tanah masyhur bernama ‘Kunjarakunja’. Kalimat terakhir ini membanyangkan bahwa kadatwan padamana raja Sanjaya memerintah berada di Kunjarakunja, yang adalah toponimi arkhalis dari desa-desa di sekitar Gunung Wukir (Sthirangga).

2. Latar Keagamaan Candi GunungWukir (Sthirangga)

Bait ke-7 Prasasti Canggal menyuratkan bahwa bangunan suci atau candi yang didirikan oleh keluarga yang berasal dari tanah Kunjarakunja tersebut adalah ‘Kuil Siwa’ yang amat indah, yang dikeliling oleh sungai-sungai yang suci, antara lain Sungai Gangga. Bangunan suci ini terletak di wilayah Kunjarakunja. Apabila benar bahwa candi yang dimaksud tersebut adalah Candi Gunung Wukir, maka latar keagamaannya tentulah Hindu sekte Saiwa. Hal ini sesuai dengan keterangan yang terkandung di dalam bait ke-2 hingga ke-6, yang meski berisi puji-pujian yang ditujukan kepada Trimurti (Siwa, Brahma, dan Wisnu), namun tiga diantara lima bait itu merupakan puji-pujian yang ditujukan kepada Dewa Siwa – puji-pujian bagi Brahma dan Wisnu masing-masing hanya satu bait.

Dalam himne ini, tiga kali dalam masing-masing bait Siwa dinyatakan sebagai ‘Yang Bermata Tiga (Trinayana)’. Siwa mempunyai petanda (perhiasan) di sanggul rambutnya sisi depan berbentuk bulan sabit (ardhacandra), kalung (hara) berbentuk ular (bait ke-2). Kukunya berkilau menyerupai kelopak bunga teratai dan daun berwarna tembaga (bait ke-3). Laksana demikian dalam ikonografi dapat diperiksa pada arca Siwa Mahadewa. Dalam bait ke-2 Siwa diibaratkan sebagai ‘matahari bagi dunia yang kelam’, atau ‘Sang Pencerah’. Dewa Siwa diagungkan oleh para penguasa bijak. Mereka menunduk memberi penghormatan demi keselamatan dirinya. Dewa Siwa diyakini oleh para bhakta-nya sebagai penguasa para makhluk, sumber segala keluhuran dan keindahan, maupun pemberi kebesaran bagi mereka yang melakukan ‘pengunduran diri (para Yogi)’.

Disamping itu, Siwa dinyakatakan sebagai ‘memelihara dunia melalui delapan lekuk tubuhnya, Belas kasihan-Nya dan kepedulian-Nya melindungi kita (bait ke-4). Data yang tak terbantahkan bahwa bangunan suci ini berlatarkan Hindu-Saiwa adalah keterangan pada bait ke-, yang menyebut tentang ‘perintah raja Sanjaya untuk mendirikan Lingga di atas bukit Sthirangga. Keterangan epigrafis ini sesuai pula dengan data ikonografis, yang berupa: (1) Yoni dalam bilik utama (garbadrha) candi induk – sayang Lingga yang seharusnya menancap di lobang Yoni telah hilang, dan (2) arca Nandi – wahana Dewa Siwa – dalam bilik candi perwara di bagian tengah.

Semastinya, apabila lengkap, pada relung-relung candi induk semula terdapat arca-raca keluaga Siwa, seperti arca Durgamahisasuramardini di relung sisi utara, Ganesya di relung sisi belakang, Agastya di relung sisi selatan, serta Siwa-Mahakala dan Nandiswara di dua relung sisi depan. Arca-arca ini juga telah raib atau mungkin belum diketemukan. Jelas bahwa secara ikonografis Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu-Siwa, yang memiliki pola ikonografis baku pada masing-masing relung atau biliknya. Garbagrha (bilik utama) tak ditempatkan arca Siwa Mahadewa, namun ‘digantikan’ dengan Lingga-Yoni. Kiranya Lingga tersebutlah yang diberitakan pada bait ke-1 Prasasti Canggal. Pola ikonografinya itu memberi petunjuk bahwa sejauh ini Candi Gunung Wukir adalah candi tertua yang memiliki pola baku ikonografi Hindu-Siwa di Jawa, bahkan di antero Nusantara.

Keterangan dalam Prasasti Canggal mengenai pendirian Lingga diatas bukit Sthirangga dapat dijadikan petunjuk mengenai ‘kultus terhadap Lingga (Lingga Cult atau Linggapuja)’. Hal ini dapat dibandingkan dengan Candi Badut yang relatif sejaman (medio abad ke-7, sekitar tahun 760 Masehi), yang di dalam garbhagrha-nya masih terdapat Lingga berukuran besar. Selain itu, Ptrasasti Kanjuruhan atau Dinoyo I yang menjadi sumber epigrfis dari Candi Badut juga menyiratkan informasi tentang Linggapuja lewat perkataan ‘api Putikeswara’, yang menurut F.D.K. Bosch (TBG, LXIV, 1924:29-35) menunjuk pada sinar (prabha) Dewa Siwa yang berada di balik Lingga. Limggapuja juga didapati indikasinya pada Candi Sambisari, yang juga memiliki Lingga-Yoni dalam garbhagrha candi induk. Lingga itu bisa diinterpretasikan sebagai ‘Lingga Kerajaan (Lingga-heilingdom)’, yang dikonsepsikan sebagai pusat kekuatan magis bagi Kerajaan Mataram. Suatu konsepsi religis yang mengingatkan kita kepada Lingga Kerajaan pada sejumlah kerajaan di Indo-Cina (Geldern, 1972).

Selain itu, Prasasti Canggal mengidikasikan tentang pemujaan kepada Maharsi Agastya, sebagaimana tampak pada nama ‘Kunjarakunja’. Dalam epik Ramayana dikisahkan kunjungan Rama, Sita dan Laksmana ke pertapaan Agastya di Gunung Kunjara. Perihal ini bisa juga dibandingkan dengan keterangan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi), yang antara lain memberitakan tentang penggantian arca Agastya dari bahan kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa dari bahan batu hitam (andesit).

3. Deskripsi dan Pola Arsitektural Candi Gunung Wukir

Ketika ditemukan pada tahun 1879 hingga keberadaannya sekarang, kompleks Candi Gunung Wukir pada halaman tergali seluas 50 x 50 m dalam kondisi tidak utuh. Komponen arsitektur candi induk tinggal berupa batur candi (saubasment) yang pendek dan kaki candi (basement). Tangga candi yang berada di sisi tumur pun tidak utuh. Tubuh candi, atap dan kemuncaknya malahan tidak dijumpai. Kendati demikian, menilik adanya relief kepala kala (tanpa rahang bawah), dorpel (ambang pintu), sejumlah menara sudut dan antefix yang berhasil ditemukan, tidak diragukan bahwa candi ini semula memiliki komponen arsitektur lengkap sebagaimana lazimnya percandian berlanggam Jawa Tengahan yang berkesan bentuk tambun.

Pada bilik utama candi induk semula ditempatkan Lingga-Yoni, dan yang kini tertinggal hanyalah Yoni besar dengan penyangga cerat berbetuk naga. Kendati relung-relung candi di sisi utara, barat, selatan dan sepasang di sisi depan tidak dijumpai lagi, namun besar – sebagaimana lazimnya percandian yang berlatar agama Hindu-Saiwa – ada kemungkinan semula memiliki relung-relung tersebut, Ukuran candi induk terbilang cukup besar, dengan panjang sisi-sisi batur candi induk sekitar 10 X 10 meter. Bahan pembentuk komponen-komponen arsitekturalnya adalah balok-balok batu kali (andesit), dengan atau tanpa ragam hias dan pelipit (persegi, bulat, dan sisi genta). Selain bahan batu andesit, didapati juga bata-bata kuno sebagai material isian candi.

Di depan atau berhadapan dengan candi induk terdapat sederet – terdiri atas tiga buah candi perwara yang terpisah satu sama lain dengan ukuran lebih kecil (panjang batur candi sekitar 3 X 3 meter) daripada candi induk. Arsitektur candi juga dibentuk dari balok-balok batu andesit dengan atau tanpa ragam hias dan pelipit. Dua diantaranya kini hanya tinggal batur dan kaki candi. Sedangkan candi perwara di bagian utara masih menyisakan bagian depan tubuh candi dan tangga candi. Dalam garbagrha candi perwara bagian tengah ditempatkan arca Nandi, yakni wahana dewa siswa. Hal ini mengingatkan kepada keberadaan arca Nandi di kompleks Candi Badut, yang juga berada di candi perwara bagian tengah.

Tata letak candi-candi dalam suatu kompleks yang terdiri atas sebuah candi induk dan tiga candi perwara sebagaimana itu merupakan pola baku pada percandian Hindu-Siwa abad ke-8 hingga 10 Masehi, seperti juga didapati pada Candi Badut, Candi Sambisari, dsb. Pada percandian yang lebih tua, seperti di Dataran Tinggi Dieng dan Gedong Songo, lay out demikian belum tampak. Oleh karena itu, sejauh telah ditemukan, Candi Gunung Wukir merupakan ‘pelopor’ lay out percandian yang terdiri atas sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara.

Selain candi induk dan candi perwara, juga dimungkinkan terdapat bangunan-bangunan lain, yang boleh jadi berupa bangun
an berpanggung. Hal itu diindikatori oleh adanya temuan artefatual yang berupa umpak-umpak dari batu andesit, sebagai pelandas tiang kayu atau bambu. Yang menarik perhatian, terdapat sebuah umpak berbentuk silindris– bila lengkap berjumlah empat buah atau kelipatannya, yang dilengkapi dengan tonkolan bulat (pencu) pada bagian atasnya. Artefak ini mengingatkan kepada watu gong – varian sebutannya ‘watu kenong’ atau ‘watu bonang’, yang konon difungsikan sebagai pelandas tiang dari bambu untuk bangunan dengan konstruksi berpanggung. Kurang jelas apa fungsinya, apakah untuk tenpat tinggal pemimpin upacara dan rokhaniawan pengelola candi, ataukah sebagai tempat untuk sesajian manakala ritus pemujaan dilangsungakan. Ada kemukinan kompleks candi ini dilengkapi dengan pagar keliling beserta gapuranya yang berbentuk padhuraksa, yang keberadaannya masih di bawah tanah diluar pagar situs yang belum digali. Prakiraan itu dapat difahami, karena reruntuhan Candi Gunung Gangsir sempat tertimbun materian vulkanik Marapi sedalam 1 hingga 1,5 meter.

Temuan penting lainnya yang kini berada di halaman candi antara lain berupa: (a) wadah air suci (tirtha) dari batu andesit berbentuk persegi panjang – wadah air (baksteen) serupa itu dijumpai satidaknya sebanyak empat buah di tepi kali dan di permukiman Dusun Canggal, (b) lumpang batu (stone mortar), yang boleh jadi merupakan kalumpang dalam ritus manusuk sima (penetapan tanah atau desa perdikan) – konon ada sebidang tanah di Desa Kunjarakunja yang ditetapkan sebagai ‘tanah sima’ bagi keperluan peribadatan pada Candi Gunung Wukir, (c) artefak menyerupai Yoni dengan cerat bermotif hias kedok dan lobang bulat yang disertai dengan pengunci di keempat sisinya, sebagai tempat mendirikan batu sima yang berbangun silidris, (d) dorpel bagi candi perwara, (e) batu pengunci (key stone) beragam hias ceplok bunga – serupa dengan yang dijumpai di halaman Candi Badut – semula ditempatkan pada ujung langit-langit garbagrha candi induk, (f) kemuncak candi dan menara-menara sudut, (g) antefix pojok dan sisi tengah atap candi, maupun (g) balok-balok batu pembentuk arsitektur candi induk dan candi perwara.

D. P e n u t u p

Prasasti Canggal dan Candi Gunung Wukir (Sthirangga) adalah tinggalan budaya masa lalu yang penting, utamanya pada periode awal Kerajaan Mataram di masa pemerintahan Sanjaya, Sayang sekali urgensinya itu tidak disertai dengan fokus perhatian dari Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda maupun Republik Indonesia untuk menempatkannya sebagai ‘prioritas’ riset arkeologis dan restorasi cagar budaya. Ada baiknya, riset dierluas hingga ke dusun-dusun di Desa Kadiluwih dan sekitarnya, yang boleh jadi merupakan permukiman kuno Kunjarakunja dan bukan tidak mungkin adalah lokasi kadatwan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan raja Sanjaya hingga awal pemerintahan Rakai Pangangkaran. Publikasi yang terbilang ‘kurang’, menjadikan situs pentimg ini tidak banyak dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa maupun wisatawan.

Tulisan ringkas yang dipublikasikan lewat media sosial (medsos) ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan picu bagi khalayak luas untuk bertandang ke situs Candi Gunung Wukir yang dipercayai dapat mengukuhkan perj9fohan ini. Upaya lewat wahana seni-budaya dalam ‘Festival Lima Gunung’, yang salah sebuah diantaranya dihelat di Gunung Wukir adalah bentuk upaya yang berkontribusi ke arah itu. Ada baiknya pula, pada ‘Borobudur Writes and Festival VI” mendatang (tahun 2017), diagendakan jelajah situs, dengan antara lain mengunjungi Candi Gunung Wukir, Candi Gunungsari, Candi Ngawen, Candi Asu, Candi Pendem maupun Candi Lumbung yang berada tidak jauh dari Borobudur-Mendut-Pawon, utamnya untuk mendapat gambaran sejarah-budaya Kerajaan Mataram era ‘Pra-Borobudur’, dan sekaligus untuk lebih mengenalkan candi-candi kecil ini kepada publik. Kendati ukurannya tak lebih besar daripada Candi Borobudur dan Mendut, bukan berarti bahwa candi-candi itu tak lebih penting darinya.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’..
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 12 Oktober 2016.

 

Diunggah dari: akun FB M.Dwi Cahyono

Ditulis oleh: M. Dwi Cahyono

Blog pak Dwi sendiri adalah patembayancitraleka.wordpress.com

Judul Asli: Ajar Pusaka Budaya ‘Edisi Rantau” di Jateng

Urgensi Prasasti Canggal dan Candi Sthirangga (Gunung Wukir): Petanda Momentum Historis Dinamika Awal Kemaharajaan Mataram

Gambar Sampul: …