Sejarah raja-raja Jawa ada dua versi, demikian menurut pendapat saya. Mengapa demikian? Ambil saja contoh pendiri Kerajaan Majapahit ada yang menyebut Jaka Sesuruh, ada pula yang menyebut Raden Wijaya. Maka, saya pun menggunakan istilah  “versi fantasi” dan “versi histori”.

Sengaja saya tidak memakai istilah “fiksi” dan “non-fiksi”, karena itu akan berakibat pada penghakiman bahwa versi ini benar-benar terjadi, sedangkan versi yang satunya adalah palsu belaka.

 

Sejarah raja-raja Jawa versi fantasi saya rangkum dari kitab seri Pustakaraja Purwa-Madya-Antara-Wasana yang disusun oleh Ngabehi Ranggawarsita, pujangga Kasunanan Surakarta. Saya katakan di sini bahwa Ngabehi Ranggawarsita bukan mengarang kisah panjang lebar ini, tetapi ia mengembangkan dari naskah yang sudah ada, yaitu Babad Tanah Jawi karya pujangga sebelumnya, yaitu Ki Carik Braja, yang juga mengembangkannya dari naskah tulisan Pangeran Adilangu.

 

Sementara itu, sejarah raja-raja Jawa versi histori saya ambil dari sumber-sumber prasasti peninggalan raja yang bersangkutan, serta naskah tulisan para rangkawi, terutama Nagarakrtagama dan Pararaton.

 

==== RAJA-RAJA JAWA VERSI FANTASI ====

 

Prabu Ajisaka raja Surati kalah perang dan mengganti namanya menjadi Empu Sengkala, lalu pergi bertapa di Pulau Jawa yang saat itu masih dihuni kaum bekasakan, belum ada penduduk manusia. Di Jawa ia menciptakan Kalender Saka yang dimulai dari hari kedatangannya. Pada tahun 6 ia didatangi Pandita Usmanaji (gurunya) yang ditugasi Sultan Rum untuk menumbali Tanah Jawa supaya lebih aman dan bisa ditinggali manusia. Mereka lalu bekerja sama memasang tumbal di segenap penjuru Pulau Jawa. Pada tahun 9 Empu Sengkala menghadap Sultan Rum dan ditugasi memimpin pengisian Pulau Jawa dengan penduduk manusia. Karena rakyat Rum tidak cocok dengan kondisi alam Nusantara, maka Empu Sengkala pun mengambil rakyat Keling (Hindustan) sebagai penghuni Tanah Jawa. Setelah tugasnya selesai, Empu Sengkala pergi bertapa di Tanah Lulmat (alam gaib di Kutub Utara), di mana ia memperoleh anugerah panjang umur dan awet muda. Berikut adalah daftar raja-raja Jawa dengan angka tahun menggunakan kalender Candrasengkala.

 

104 : Batara Guru yang menjelma sebagai Resi Mahadewa Buda datang ke Jawa untuk mengajarkan agama.

 

144 : Batara Guru mendirikan kerajaan pertama di Jawa bernama Medang Kamulan. Sebagai raja ia bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda.

 

174 : Batara Guru kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka di Pegunungan Himalaya.

 

175 : Kelima putra Batara Guru datang ke Nusantara untuk membangun kerajaan. Batara Sambu bergelar Sri Maharaja Maldewa, membangun Medang Prawa di Sumatra. Batara Brama bergelar Sri Maharaja Sunda, membangun Medang Gili di Jawa barat. Batara Indra bergelar Sri Maharaja Sakra, membangun Medang Gana di Jawa timur. Batara Bayu bergelar Sri Maharaja Bima, membangun Medang Gora di Bali. Batara Wisnu bergelar Sri Maharaja Suman, membangun Medang Pura di Jawa tengah.

 

200 : Keponakan Batara Guru yang bernama Batara Siwah (putra Batara Ismaya) mendirikan Medang Siwanda, bergelar Sri Maharaja Balya. Satu persatu putra-putra Batara Guru meninggalkan Jawa karena kalah wibawa, kecuali Batara Indra yang bergelar Batara Surapati, mengubah Kerajaan Medang Gana menjadi Kahyangan Suralaya.

 

212 : Batara Kala (putra keenam Batara Guru) bergabung dengan Sri Maharaja Balya di Medang Siwanda, memakai gelar Patih Siwandakara.

 

226 : Sri Maharaja Balya dan Patih Siwandakara hendak menyerang Suralaya, tapi mereka dikalahkan Batara Wisnu dan Batara Brama. Batara Brama lalu menjadi raja Medang Siwanda, bergelar Sri Maharaja Budawaka.

 

227 : Batara Kala datang lagi dan membangun Medang Kamulan baru, bergelar Sri Maharaja Bairawa.

 

232 : Terjadi perang antara Medang Kamulan dan Medang Siwanda. Sri Maharaja Budawaka kalah dan mengungsi ke Medang Gili (bekas kerajaannya dulu), lalu mengganti namanya menjadi Kerajaan Gilingaya.

 

252 : Sri Maharaja Bairawa hendak menyerang Suralaya, tapi dikalahkan Brahmana Kestu (penjelmaan Batara Wisnu) dan diusir dari Medang Kamulan. Brahmana Kestu lalu menjadi raja bergelar Sri Maharaja Budakresna. Medang Kamulan pun diganti nama menjadi Kerajaan Purwacarita.

 

262 : Sri Maharaja Budawaka berperang melawan Sri Maharaja Budakresna, dipisah Batara Rudra (kakak tiri Batara Guru). Sri Maharaja Budawaka malu setelah tahu dirinya berperang melawan adik sendiri. Ia pun kembali ke kahyangan menjadi Batara Brama.

 

263 : Empu Rasikadi (menantu Sri Maharaja Budawaka) menjadi raja Gilingaya, bergelar Prabu Bramakadali.

 

271 : Prabu Bramakadali tewas di tangan Sri Maharaja Budakresna karena salah paham. Batara Rudra datang menasihati, membuat Sri Maharaja Budakresna malu dan kembali menjadi Batara Wisnu, meninggalkan Purwacarita.

 

272 : Batara Rudra menjadi raja Gilingaya (bekas negara Prabu Bramakadali), bergelar Sri Maharaja Dewahesa.

 

308 : Sri Maharaja Dewahesa mengusir putranya yang bernama Raden Jaka Pakukuhan dan Raden Jaka Puring. Raden Jaka Pakukuhan lalu membangun Kerajaan Tasikmadu, sedangkan Raden Jaka Puring sebagai patih.

 

310 : Prabu Pakukuhan pindah ke Purwacarita (bekas negara Sri Maharaja Budakresna), dan mengganti gelar menjadi Prabu Sri Mahapunggung.

 

318 : Sri Maharaja Dewahesa menyerang Prabu Sri Mahapunggung (putranya sendiri) tapi kalah dan kembali menjadi Batara Rudra. Prabu Sri Mahapunggung lalu mengganti gelar menjadi Sri Maharaja Kanwa. Ia menjadi tokoh pertama yang mengajarkan ilmu pertanian pada masyarakat Jawa.

 

348 : Sri Maharaja Kanwa tewas terkena tsunami saat Pulau Jawa terpisah dengan Sumatra. Terjadi perselisihan antara adiknya (Patih Jaka Puring) dan menantunya (Raden Turunan). Patih Jaka Puring lalu pindah ke Gilingaya (bekas negara Sri Maharaja Dewahesa) dan menjadi raja bergelar Prabu Heryanarudra, sedangkan Raden Turunan menjadi raja Purwacarita, bergelar Prabu Kandihawa.

 

352 : Prabu Kandihawa tewas melawan Prabu Heryanarudra saat terjadi perang antara Purwacarita melawan Gilingaya.

 

371 : Raden Respati (putra Prabu Kandihawa) membangun Kerajaan Medang Kamulan di tanah Medanggele, bergelar Prabu Palindriya.

 

386 : Prabu Hernyanarudra meninggal, digantikan anak angkatnya sebagai raja Gilingaya, bergelar Prabu Sitawaka (aslinya seorang wanita menyamar pria, bernama Dewi Sinta Basundari, istri Prabu Palindriya yang kabur dari istana karena cemburu).

 

391 : Prabu Sitawaka dikalahkan Patih Selacala (putra Prabu Palindriya) dari Medang Kamulan. Patih Selacala lalu menjadi raja Gilingaya, bergelar Prabu Watugunung, serta mengganti nama Gilingaya menjadi Gilingwesi. Adapun Prabu Sitawaka lari ke hutan dan kembali menjadi wanita.

 

392 : Prabu Palindriya meninggal. Takhta Medang Kamulan lalu diduduki Resi Setmata (penjelmaan Batara Wisnu).

 

400 : Prabu Setmata diusir dari Medang Kamulan oleh Batara Guru karena berani menikahi Dewi Sriyuwati (putri Prabu Palindriya).

 

430 : Prabu Watugunung raja Gilingwesi menyerang Kahyangan Suralaya, tewas di tangan Resi Setmata. Batara Guru lalu mengampuni dosa Resi Setmata dan mengizinkannya kembali menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Prabu Wisnupati. Adapun Kerajaan Gilingwesi diserahkan kepada pemilik aslinya, yaitu Batara Brama, bergelar Prabu Brahmaraja.

 

445 : Prabu Wisnupati (raja Medang Kamulan) mengalahkan putra Batara Kala yang bernama Prabu Karungkala (raja Medang Penataran). Ia lalu menduduki takhta Medang Penataran dan mengganti namanya menjadi Kerajaan Purwacarita.

 

451 : Prabu Brahmaraja kembali ke kahyangan menjadi Batara Brama dan menyerahkan Gilingwesi kepada putranya yang bernama Raden Brahmanisita, bergelar Prabu Brahmanaraja. Prabu Wisnupati juga kembali menjadi Batara Wisnu dan menyerahkan Purwacarita kepada putranya, yaitu Raden Srigati yang bergelar Prabu Sri Mahapunggung. Sedangkan putra yang lain, yaitu Raden Srinada mendapat negara lama (Medang Pura) yang diganti nama menjadi Kerajaan Wirata, bergelar Prabu Basurata.

 

460 : Raden Radeya (putra Prabu Watugunung yang berhasil lolos) membangun Kerajaan Medang Galungan, bergelar Prabu Sindula.

 

475 : Prabu Sindula kalah perang melawan putranya sendiri, yaitu Raden Sadewa yang bergelar Prabu Cingkaradewa. Prabu Cingkaradewa lalu menjadi raja Medang Galungan dan mengganti namanya menjadi Medang Kamulan.

 

476 : Prabu Cingkaradewa ingin menguasai seluruh Jawa. Ia menewaskan Prabu Brahmanaraja raja Gilingwesi.

 

477 : Prabu Cingkaradewa mengalahkan Prabu Basurata raja Wirata dan menewaskan Prabu Sri Mahapunggung raja Purwacarita. Sejak saat itu Wirata, Purwacarita, dan Gilingwesi menjadi bawahan Medang Kamulan. Wirata tetap dipimpin Prabu Basurata, Purwacarita dipimpin Raden Wandu (putra Prabu Sri Mahapunggung) yang bergelar Prabu Sri Mahawan, sedangkan Gilingwesi masih kosong. Prabu Cingkaradewa sebagai raja tertinggi mengganti gelar menjadi Sri Maharaja Purwacandra.

 

478 : Raden Tritrusta (putra Prabu Brahmanaraja) yang lolos akhirnya menyerahkan diri ke Medang Kamulan dan diangkat sebagai raja Gilingwesi, bergelar Prabu Brahmasatapa.

 

488 : Prabu Basurata menyerahkan takhta Wirata kepada putranya, bernama Raden Brahmaneka bergelar Prabu Basupati.

 

512 : Sri Maharaja Purwacandra yang homoseks dikalahkan Brahmana Wisaka (penyamaran Ajisaka) dari Hindustan. Brahmana Wisaka lalu menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Sri Maharaja Wisaka dan memerdekakan Wirata, Gilingwesi, Purwacarita.

 

514 : Sri Maharaja Wisaka melanjutkan perjalanan dan menyerahkan takhta kepada muridnya, yaitu Raden Wandawa (yang juga putra sulung Prabu Sri Mahawan raja Purwacarita). Raden Wandawa menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Prabu Sriwahana.

 

515 : Prabu Brahmasatapa meninggal, digantikan putranya sebagai raja Gilingwesi, bergelar Prabu Parikenan.

 

516 : Prabu Sri Mahawan menyerahkan takhta Purwacarita kepada putra bungsunya, yaitu Raden Wahnaya, bergelar Prabu Srikala.

 

517 : Begawan Kalacakra (Prabu Sri Mahawan) meninggal, disusul pula Prabu Sriwahana (putra sulungnya) di Medang Kamulan.

 

521 : Gilingwesi dan Purwacarita berperang karena salah paham. Prabu Parikenan gugur di tangan Prabu Srikala. Prabu Basupati raja Wirata (yang juga kakak ipar Prabu Parikenan) membalas mengalahkan Prabu Srikala. Prabu Basupati lalu menjadi raja Purwacarita.

 

524 : Prabu Basupati pindah ke istana Andongwilis yang diberi nama Kerajaan Wirata baru.

 

531 : Prabu Basupati meninggal keracunan, digantikan putra sulungnya sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basumurti.

 

543 : Prabu Basumurti di Wirata mengangkat putranya yang bernama Raden Basusena sebagai raja di Gajahoya, bergelar Prabu Hastimurti.

 

544 : Prabu Basumurti meninggal, digantikan adiknya sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basukesti.

 

553 : Prabu Hastimurti meninggal, digantikan adik iparnya sebagai raja Gajahoya, bergelar Prabu Basunanda.

 

572 : Prabu Basukesti meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Basutara sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basukiswara.

 

573 : Prabu Basunanda menyerahkan takhta Gajahoya kepada Raden Wasanta (putra Prabu Hastimurti) yang bergelar Prabu Pratipa. Kerajaan Gajahoya pun diganti nama menjadi Kerajaan Hastina.

 

590 : Prabu Basukiswara meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Basuketi sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Wasupati.

 

612 : Prabu Pratipa tewas saat menyerang Kerajaan Wirata, lalu digantikan putra bungsunya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Santanu.

 

640 : Prabu Santanu menjadi pendeta dan menyerahkan takhta Hastina kepada Resi Parasara (keturunan Prabu Parikenan raja Gilingwesi terakhir), yang bergelar Prabu Dwipakeswara.

 

657 : Prabu Wasupati meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Durgandana sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Matsyapati.

 

658 : Prabu Santanu kembali menjadi raja Hastina sepeninggal Resi Parasara.

 

662 : Prabu Santanu meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Citranggada.

 

665 : Prabu Citranggada meninggal muda, digantikan adiknya yang bergelar Prabu Citrawirya. Kemudian Prabu Citrawirya meninggal pula dan digantikan kakak tirinya, yaitu Resi Abyasa (putra Resi Parasara) sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Kresna Dwipayana.

 

686 : Prabu Kresna Dwipayana kembali menjadi Resi Abyasa dan menyerahkan takhta Hastina kepada putra kedua, yang bergelar Prabu Pandu Dewanata.

 

710 : Prabu Pandu Dewanata meninggal. Ia sempat menitipkan takhta Hastina kepada kakaknya yang buta, bergelar Prabu Dretarastra (putra sulung Resi Abyasa).

 

716 : Prabu Dretarastra menyerahkan takhta Hastina kepada anak-anaknya yang disebut Seratus Kurawa, dipimpin Raden Jayapitana, yang bergelar Prabu Duryudana. Sementara itu, anak-anak Prabu Pandu Dewanata yang disebut Pandawa Lima membangun Kerajaan Amarta, di mana yang sulung menjadi raja, bernama Raden Puntadewa, bergelar Prabu Yudhistira.

 

755 : Permusuhan para Pandawa dan Kurawa meletus menjadi Perang Bratayuda. Seluruh Kurawa tewas. Kerajaan Hastina kemudian dipimpin oleh Prabu Yudhistira.

 

770 : Prabu Yudhistira menyerahkan takhta Hastina kepada cucu Raden Arjuna (adiknya) yang bernama Raden Parikesit, bergelar Prabu Dipayana.

 

796 : Prabu Dipayana meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Yudayana.

 

799 : Prabu Yudayana meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Gendrayana.

 

824 : Prabu Gendrayana dibuang dari Hastina karena salah menghukum adiknya (Raden Sudarsana). Ia lalu membangun kerajaan baru bernama Mamenang di bumi Kadiri, sedangkan takhta Hastina diserahkan kepada Raden Sudarsana, bergelar Prabu Yudayaka.

 

839 : Prabu Gendrayana meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Narayana sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Jayapurusa.

 

840 : Prabu Yudayaka digantikan putranya yang bernama Raden Kijingwahana sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Sariwahana. Kerajaan Hastina lalu diganti nama menjadi Kerajaan Yawastina.

 

848 : Prabu Sariwahana pindah ke Kerajaan Malawapati

 

860 : Prabu Sariwahana tewas berperang melawan Prabu Jayapurusa raja Mamenang Kadiri. Kedua putranya lalu menjadi raja, yaitu Prabu Ajidarma di Malawapati dan Prabu Astradarma di Yawastina.

 

865 : Prabu Ajidarma ingin membalas kematian ayahnya tetapi ia tewas berperang melawan Prabu Jayapurusa raja Mamenang Kadiri.

 

868 : Prabu Astradarma (yang sudah berganti nama menjadi Prabu Purusangkara dan diambil menantu Prabu Jayapurusa) tenggelam oleh banjir beserta seluruh Kerajaan Yawastina, meninggalkan putra bernama Raden Anglingdarma. Prabu Jayapurusa lalu mengganti gelar menjadi Prabu Batara Aji Jayabaya.

 

883 : Prabu Batara Aji Jayabaya muksa, digantikan putranya sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Jaya Amijaya.

 

890 : Prabu Jaya Amisena (putra Prabu Jaya Amijaya) naik takhta menjadi raja Mamenang Kadiri, sedangkan Prabu Anglingdarma (putra Prabu Astradarma) menjadi raja Malawapati.

 

933 : Prabu Anglingdarma mengangkat putra-putranya menjadi raja, yaitu Prabu Anglingkusuma di Bojanagara dan Prabu Danurwenda di Kartanagara, kemudian ia menjadi pendeta dan menyerahkan takhta Malawapati kepada cucunya, yaitu Raden Gandakusuma (putra Prabu Anglingkusuma) yang bergelar Prabu Danukusuma.

 

943 : Prabu Jaya Amisena digantikan putranya sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Kusumawicitra.

 

953 : Prabu Kusumawicitra mengalahkan Prabu Anglingkusuma dan Prabu Danurwenda, lalu ia mengganti gelar menjadi Prabu Aji Pamasa, serta memindahkan kerajaan ke Pengging Witaradya, kemudian menyerahkan takhta kepada putranya, bergelar Prabu Citrasoma.

 

961 : Prabu Citrasoma digantikan putranya sebagai raja Pengging, bergelar Prabu Pancadriya.

 

982 : Prabu Pancadriya digantikan putranya sebagai raja Pengging, bergelar Prabu Anglingdriya.

 

999 : Munculnya seorang raja baru di Kerajaan Galuh, bernama Prabu Sindula (penjelmaan Batara Sindula, cucu Batara Anantaboga).

 

1000 : Munculnya seorang raja baru di Prambanan, bernama Prabu Karungkala.

 

1019 : Prabu Anglingdriya menyerahkan takhta Pengging kepada menantunya, yang bergelar Prabu Darmamaya (putra Prabu Darmanata raja Sudimara), karena berhasil mengalahkan Prabu Karungkala yang memeranginya. Prabu Karungkala lalu digantikan adik iparnya (suami Rara Jonggrang) sebagai raja Prambanan, bergelar Prabu Baka (putra Prabu Dipanata raja Salembi).

 

1021 : Prabu Baka raja Prambanan dikalahkan cucu Prabu Anglingdriya yang bernama Raden Bandung Bandawasa (putra Prabu Darmamaya).

 

1022 : Prabu Darmamaya meninggal. Kerajaan Pengging kembali dipimpin oleh Prabu Anglingdriya.

 

1023 : Prabu Sindula raja Galuh dikalahkan oleh putranya sendiri yang bernama Prabu Dewatacengkar raja Medang Kamulan. Prabu Dewatacengkar ini seorang raja kanibal yang suka memangsa manusia.

 

1024 : Prabu Anglingdriya raja Pengging tewas diserang Prabu Dewatacengkar raja Medang kamulan.

 

1030 : Prabu Dewatacengkar dikalahkan Brahmana Ajisaka, yang kemudian menduduki takhta, bergelar Prabu Widayaka. Medang Kamulan lalu diganti nama menjadi Kerajaan Purwacarita.

 

1044 : Dua orang putra Prabu Anglingdriya diangkat menjadi raja, yaitu Prabu Suwelacala (menantu Prabu Widayaka) di Medang Kamulan, dan Prabu Pandayanata di Pengging.

 

1046 : Kerajaan Purwacarita direbut putra Prabu Dewatacengkar yang bergelar Prabu Daneswara.

 

1061 : Prabu Daneswara dikalahkan putra Prabu Suwelacala yang bernama Raden Jaka Kanduyu. Ia lalu menjadi raja Purwacarita, bergelar Prabu Sri Mahapunggung.

 

1084 : Prabu Sri Mahapunggung digantikan putranya yang bernama Raden Kandihawan sebagai raja Purwacarita, bergelar Prabu Jayalengkara.

 

1097 : Adik Prabu Jayalengkara menjadi raja Majapura, bergelar Prabu Tejalengkara. Sementara yang menggantikan Prabu Jayalengkara sebagai raja Purwacarita adalah putranya yang bernama Raden Lembu Subrata, bergelar Prabu Resi Gatayu. Kerajaan Purwacarita lalu diganti nama menjadi Medang Koripan.

 

1100 : Prabu Tejalengkara digantikan putranya sebagai raja Majapura, bergelar Prabu Tejangkara.

 

1119 : Prabu Resi Gatayu turun takhta dan melantik kelima anaknya, yaitu Dewi Kilisuci sebagai pandita di Pucangan (Selamangleng); Raden Dewakusuma bergelar Prabu Lembu Amiluhur sebagai raja di Jenggala; Prabu Lembu Amijaya sebagai raja di Kadiri; Prabu Lembu Amisena sebagai raja di Ngurawan; dan Prabu Lembu Amisani sebagai raja di Singasari.

 

1144 : Prabu Lembu Amiluhur digantikan putranya sebagai raja Jenggala, bernama Raden Panji Inu Kertapati (alias Raden Panji Asmarabangun), yang bergelar Prabu Panji Surya Amisesa, bersamaan dengan Prabu Lembu Amijaya digantikan putranya sebagai raja Kadiri, bernama Raden Gunungsari, bergelar Prabu Surya Amijaya.

 

1145 : Prabu Lembu Amisena di Ngurwan digantikan putranya yang bernama Raden Sinjanglaga, bergelar Prabu Suryadilaga; sedangkan Prabu Lembu Amisani di Singasari digantikan putranya yang bernama Raden Banyakpatra, bergelar Prabu Suryawinata.

 

1161 : Prabu Panji Surya Amisesa digantikan putranya yang bernama Raden Kuda Laleyan sebagai raja Jenggala, bergelar Prabu Surya Amiluhur.

 

1162 : Kerajaan Jenggala rusak karena banjir. Prabu Surya Amiluhur memindahkan istana ke Pajajaran, dan mengganti gelar menjadi Prabu Panji Mahesa Tandreman.

 

1183 : Prabu Panji Mahesa Tandreman digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Banjaransari.

 

1216 : Prabu Banjaransari digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Purbasapala.

 

1234 : Prabu Purbasapala digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Dewamantala.

 

1241 : Prabu Dewamantala dikalahkan pamannya yang kemudian menjadi raja Pajajaran, bergelar Prabu Mundingsari.

 

1250 : Prabu Mundingsari mengangkat putra-putranya sebagai raja, yaitu Raden Mundingwangi sebagai raja Pajajaran, Raden Buniwangi sebagai raja Kuningan, dan Raden Siliwangi sebagai raja Galuh.

 

1262 : Prabu Mundingwangi digantikan putranya yang bernama Raden Gandakusuma sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Sunda Anyakrawati atau Prabu Sri Pamekas.

 

1283 : Prabu Sri Pamekas dibunuh anaknya sendiri yang lahir dari selir, bernama Raden Siyungwanara, yang kemudian menjadi raja Pajajaran, bergelar Prabu Maharaja Sakti.

 

1284 : Prabu Maharaja Sakti dikalahkan kakaknya, yaitu Raden Mahesa Tanduran (putra Prabu Sri Pamekas dari permaisuri) yang memakai nama samaran Jaka Sesuruh. Kemudian Jaka Sesuruh menjadi raja Pajajaran bergelar Prabu Bratana dan memindahkan istana ke timur, serta mengganti namanya menjadi Kerajaan Majapahit.

 

1299 : Prabu Bratana digantikan putranya yang bernama Raden Prabuanom sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brakumara.

 

1301 : Prabu Brakumara tewas saat berburu dan digantikan putranya yang bernama Raden Adaningkung sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya I.

 

1316 : Prabu Brawijaya I digantikan putrinya yang bernama Dewi Retna Subasiti sebagai raja Majapahit, bergelar Ratu Ayu Prabu Kenya Kencanawungu.

 

1320 : Ratu Ayu digantikan suaminya sebagai raja Majapahit, yang bernama Raden Damarwulan, bergelar Prabu Brawijaya II.

 

1356 : Prabu Brawijaya II digantikan putranya yang lahir dari Ratu Ayu sebagai raja Majapahit, yang bernama Raden Lembuamisani, bergelar Prabu Brawijaya III.

 

1371 : Prabu Brawijaya III digantikan saudara tirinya yang bernama Raden Bratanjung (putra Prabu Brawijaya II dengan Dewi Anjasmara) sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya IV.

 

1375 : Prabu Brawijaya IV digantikan putranya yang bernama Raden Angkawijaya sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya V.

 

1440 : Prabu Brawijaya V dikalahkan putranya yang lahir dari Putri Cina, bernama Raden Patah yang bergelar Adipati Bintara di Demak. Riwayat Kerajaan Majapahit pun berakhir.

 

 

===== VERSI HISTORI =====

 

Tonggak yang menjadi penanda lahirnya zaman sejarah adalah ditemukannya tulisan, sebagai pembeda dengan zaman prasejarah yang belum mengenal tulisan. Saya tegaskan di sini bahwa leluhur kita pada zaman prasejarah memang belum mengenal budaya tulis, tetapi bukan berarti mereka adalah kaum primitif sebagaimana yang disimbolkan para pujangga keraton sebagai kaum bekasakan, sama sekali tidak demikian.

 

Dengan ditemukannya berbagai macam artefak kuno telah membuktikan bahwa leluhur kita pada zaman prasejarah sudah memiliki peradaban dan kebudayaan tinggi, meskipun mereka belum mengenal tulisan. Berikut saya merangkum daftar raja-raja Jawa dengan menggunakan angka tahun kalender Masehi sebagaimana yang saya peroleh dari buku babon Sejarah Nasional Indonesia jilid 2.

 

500 : Taruma adalah kerajaan bercorak India pertama di Pulau Jawa sebagai tonggak lahirnya zaman sejarah, dengan bukti temuan sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Srimat Purnawarman. Bukti sejarah Taruma juga didukung oleh berita Cina dari zaman Dinasti Sui yang menyebutkan pada tahun 528 dan 535 ada sebuah negeri di selatan yang bernama To-lo-mo. Memang ditemukan sumber lain bernama Naskah Wangsakerta yang menyebutkan adanya kerajaan di Pulau Jawa bernama Salakanagara yang lebih tua daripada Taruma. Namun, karena naskah ini masih kontroversi dan diperdebatkan kebenarannya, maka saya mengikuti pendapat mayoritas sesuai temuan prasasti, bahwa Taruma adalah tonggak lahirnya zaman sejarah di Pulau Jawa.

 

640 : Terdapat kerajaan di Jawa bernama Ho-ling sebagaimana tertulis dalam berita Cina dari Dinasti Tang. Kerajaan Ho-ling ini oleh para sejarawan biasanya diartikan Keling, atau Kalingga, atau mungkin Walaing.

 

674 : Kerajaan Ho-ling dipimpin oleh raja wanita bernama Hsi-ma yang terkenal keadilan dan ketegasannya. Kisah ini tercatat dalam berita Cina dari zaman Dinasti Tang.

 

732 : Masa pemerintahan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang mendirikan Kerajaan Medang. Raja Sanjaya ini mengeluarkan prasasti Canggal yang mengisahkan bahwa sebelum dirinya, yang menjadi raja Jawa adalah pamannya yang bernama Sanna.

 

746 : Rakai Panangkaran menjadi raja Medang. Menurut prasasti Mantyasih, namanya disebut sesudah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, sedangkan dalam prasasti Wanua Tengah III, namanya disebut sesudah Rahyangta i Hara, adik dari Rahyangta i Medang (julukan untuk Sanjaya). Sedangkan dalam prasasti Kalasan, tokoh Rakai Panangkaran ini disebut dengan nama Tejahpurnapana Panamkarana.

 

760 : Terdapat sebuah kerajaan bernama Kanjuruhan di Jawa timur, dengan rajanya bernama Gajayana. Yang menjadi bukti kesejarahannya ialah prasasti Dinoyo.

 

784 : Rakai Panangkaran di Kerajaan Medang digantikan oleh Rakai Panaraban menurut berita dari prasasti Wanua Tengah III. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Rakai Panaraban dan Rakai Panunggalan adalah orang yang sama.

 

803 : Menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Panunggalan adalah Rakai Warak, sedangkan menurut prasasti Wanua Tengah III, nama pengganti Rakai Panaraban disebut lengkap Rakai Warak Dyah Manara.

 

824 : Adanya raja lain yang memerintah di Jawa bernama Samaratungga dari Wangsa Sailendra yang mengeluarkan prasasti Karang Tengah.

 

827 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Warak Dyah Manara digantikan Dyah Gula sebagai raja Medang. Nama ini tidak tertulis dalam prasasti Mantyasih.

 

828 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Dyah Gula digantikan oleh Rakai Garung anak Sang Lumah i Teluk. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, nama Rakai Garung disebut sesudah Rakai Warak.

 

847 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Garung digantikan Rakai Pikatan Dyah Saladu sebagai raja Medang. Prasasti Mantyasih juga menyebutkan nama Rakai Pikatan sesudah Rakai Garung. Maharaja Rakai Pikatan ini menikahi Sri Kahulunan Pramodawardhani putri Samaratungga dari Wangsa Sailendra, sesuai berita dari prasasti Candi Plaosan Lor.

 

855 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Pikatan digantikan putranya sebagai raja Medang, bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Prasasti Mantyasih juga menyebutkan nama Rakai Kayuwangi sesudah Rakai Pikatan.

 

856 : Menurut prasasti Siwagerha, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala memindahkan ibu kota Kerajaan Medang ke Mamratipura. Ia juga mengalahkan Balaputradewa putra Samaragrawira sebagai tonggak berakhirnya kekuasaan Wangsa Sailendra di Jawa.

 

885 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala meninggal dan digantikan oleh Dyah Tagwas sebagai raja Medang. Namun, tujuh bulan kemudian Dyah Tagwas diturunkan oleh Rakai Panumwangan Dyah Dewendra. Kedua raja ini tidak dijumpai namanya dalam prasasti Mantyasih.

 

887 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Panumwangan Dyah Dewendra diturunkan oleh Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra. Nama ini juga tidak dijumpai dalam prasasti Mantyasih.

 

890 : Dyah Dewendra masih menyebut dirinya sebagai raja bergelar Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra, dengan mengeluarkan prasasti Pohdulur. Bagaimana nasibnya kemudian tidak diketahui.

 

894 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra di Kerajaan Medang diturunkan oleh Rakai Wungkalhumalang Dyah Jebang. Nama yang mirip ditemukan dalam prasasti Mantyasih yaitu Rakai Watuhumalang yang disebut sesudah Rakai Kayuwangi. Itu artinya, prasasti Mantyasih tidak menyebutkan nama Dyah Tagwas, Rakai Panumwangan, dan Rakai Gurunwangi.

 

898 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Wungkalhumalang meninggal dan digantikan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawa Uttungga Rudramurti. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Watuhumalang adalah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu.

 

913 : Prasasti Timbangan Wungkal menyebutkan nama Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya. Pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung, tokoh ini bergelar Rakryan Mapatih i Hino Pu Daksa.

 

919 : Prasasti Lintakan menyebutkan nama Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tlodhong Sri Sajjana Sanmatanuraga Tunggadewa. Kemungkinan besar ia adalah menantu Sri Daksottama yang merebut takhta Medang dari ahli waris yang sah, yaitu Rakai Hino Pu Aku.

 

928 : Prasasti Wulakan menyebutkan nama Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa yang merupakan anak dari Rakryan Landhayan (adik ipar Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala). Diduga ia merebut takhta Medang dari tangan Rakai Hino Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti Triwikrama, yaitu ahli waris sah Rakai Layang Dyah Tlodhong.

 

929 : Kerajaan Medang dipindahkan ke timur oleh Rakai Hino Pu Sindok yang bergelar Sri Isana Wikramadharmottungga. Menurut prasasti Turyyan, ibu kota Medang yang baru bernama Tamwlang.

 

937 : Prasasti Anjukladang menyebutkan bahwa ibu kota Medang telah berpindah ke Watugaluh. Kerajaan yang dipimpin Pu Sindok itu disebut Kadatwan ri Medang ri Bhumi Mataram i Watugaluh. Menurut prasasti Pucangan, Pu Sindok digantikan putrinya, bernama Sri Isana Tunggawijaya yang menikah dengan Sri Lokapala. Dari perkawinan itu lahir Sri Makuthawangsawardhana.

 

996 : Menurut kitab Wirataparwa, raja yang memerintah Medang saat itu adalah Sri Isana Dharmawangsa Tguh Anantawikramottunggadewa. Menurut prasasti Sirah Keting, raja ini memiliki nama asli Sang Apanji Wijayamertawardhana. Diperkirakan ia adalah putra Sri Makuthawangsawardhana.

 

1016 : Kerajaan Medang mengalami kehancuran saat Dharmawangsa Tguh menikahkan putrinya dengan keponakannya yang bernama Airlangga. Berita ini dijumpai dalam prasasti Pucangan.

 

1019 : Prasasti Pucangan mengisahkan Airlangga membangun kembali kerajaan Wangsa Isana, di mana ia bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

 

1042 : Menurut naskah Nagarakrtagama, pada akhir pemerintahannya, Airlangga membelah negara menjadi dua, yaitu Janggala dan Pangjalu. Prasasti Gandhakuti mencatat nama Airlangga setelah menjadi pendeta bergelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhawana.

 

1052 : Kerajaan Janggala dipimpin oleh Mapanji Garasakan, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Malenga. Selisih beberapa hari kemudian, keluar prasasti Banjaran dengan raja bernama Mapanji Alanjung Ahyes Makoputadhanu Sri Ajnajabharitamawakana Pasukala Nawanamanindhita Sasatrahetajnadewati.

 

1059 : Kerajaan Janggala dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Samarotsaha Karnakesana Ratnasangkha Kirttisingha Jayantaka Tunggadewa, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Sumengka.

 

1117 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjayottunggadewa. Bukti kesejarahannya antara lain prasasti Padlegan.

 

1135 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya Sri Warmmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrsingha Parakrama Digjayottunggadewanama. Bukti kesejarahannya antara lain prasasti Hantang, prasasti Talan, dan kakawin Bharatayuddha.

 

1159 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarwweswara Janardhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryawirya Parakrama Digjayottunggadewa, dengan bukti kesejarahan antara lain prasasti Padlegan II dan prasasti Kahyunan.

 

1169 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijaya, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Meleri.

 

1181 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Handabhuwanamalaka Parakramanindita Digjayottunggadewanama Sri Gandra, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Jaring.

 

1182 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryawirya Parakrama Digjayottunggadewanama, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Semanding.

 

1194 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Srenggalancana Digjayottunggadewanama, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Kemulan. Tokoh ini pada prasasti Angin disebut Kertajaya, sama seperti nama raja terakhir Pangjalu menurut Nagarakrtagama.

 

1222 : Sri Kertajaya dikalahkan oleh Ranggah Rajasa menurut berita dari Nagarakrtagama. Ini merupakan akhir riwayat Kerajaan Pangjalu dan awal berdirinya Kerajaan Tumapel.

 

1227 : Ranggah Rajasa meninggal dan digantikan oleh Anusanatha sebagai raja Tumapel menurut Nagarakrtagama, atau disebut Anusapati menurut Pararaton. Menurut prasasti Mula Malurung, pendiri Kerajaan Tumapel itu meninggal di atas takhta emas.

 

1248 : Menurut Nagarakrtagama, Anusanatha meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Wisnuwardhana. Tokoh ini memiliki nama asli Nararya Sminingrat. Tetapi menurut prasasti Mula Malurung, pengganti Anusapati adalah adiknya, yaitu Bhatara Parameswara (yang juga mertua Sminingrat). Kemudian Bhatara Parameswara digantikan oleh adiknya, yaitu Nararya Guningbhaya. Sedangkan Nararya Guningbhaya digantikan kakaknya yang bernama Nararya Tohjaya. Baru setelah Nararya Tohjaya meninggal, takhta Tumapel dipegang oleh Nararya Sminingrat.

 

1268 : Nararya Smingrat atau Sri Wisnuwardhana meninggal dan digantikan putranya yang bernama Sri Kertanagara Wikramadharmottungga. Berita ini terdapat dalam Nagarakrtagama.

 

1292 : Sri Kertanagara tewas akibat pemberontakan Sri Jayakatyeng, seorang raja bawahan di Glang-Glang. Berita ini terdapat dalam prasasti Kudadu. Menurut Nagarakrtagama, tokoh ini disebut Jayakatwang, yang merupakan keturunan Sri Kertajaya, raja terakhir Pangjalu Kadhiri.

 

1293 : Sri Jayakatwang dikalahkan oleh menantu Sri Kertanagara yang bernama Dyah Wijaya, yang bekerja sama dengan tentara Dinasti Yuan. Setelah Dyah Wijaya memukul mundur tentara asing itu, ia pun mendirikan Kerajaan Majapahit, dengan bergelar Sri Kertarajasa Jayawarddhana. Berita ini terdapat dalam prasasti Kudadu dan kitab Yuanshi.

 

1309 : Sri Kertarajasa Jayawarddhana meninggal dan digantikan putranya, yang bernama Sri Jayanagara, bergelar Sri Sundarapandya Dewadhiswara. Berita ini terdapat dalam Nagarakrtagama.

 

1328 : Sri Jayanagara tewas dibunuh tabib istana menurut Pararaton. Yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah Dyah Gitarja, yang bergelar Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani, menurut Nagarakrtagama.

 

1350 : Tribhuwanottunggadewi digantikan putranya yang bergelar Dyah Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit, bergelar Bhatara Prabhu Sri Rajasanagara. Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan, sebagai wujud sumpah palapa Rakryan Mapatih Pu Gajah Mada.

 

1375 : Mertua Sri Rajasanagara yang bernama Wijayarajasa memisahkan diri dari Majapahit dan mendirikan Kedaton Wetan, bergelar Bhattara Parameswara ring Pamotan. Peristiwa ini menjadi cikal-bakal perpecahan di Majapahit, dan tercatat dalam kitab Mingshi.

 

1389 : Sri Rajasanagara meninggal dan digantikan menantunya sebagai raja Majapahit, yaitu Wikramawardhana, yang bergelar Bhattara Hyang Wisesa. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1400 : Bhattara Hyang Wisesa menjadi pendeta. Kerajaan Majapahit pun dipimpin istrinya, yaitu Bhattarestri Kusumawardhani (putri Sri Rajasanagara). Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1401 : Perang Paregreg meletus antara Kedaton Barat yang dipimpin Bhattara Hyang Wisesa melawan Kedaton Timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi (anak Sri Rajasanagara dari selir yang sejak kecil diasuh Sri Wijayarajasa). Perang ini berakhir tahun 1406 dengan kematian Bhre Wirabhumi. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1427 : Bhattara Hyang Wisesa meninggal dunia. Kerajaan Majapahit sepenuhnya dipimpin oleh istrinya, yaitu Bhatara Prabhustri Kusumawardhani. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1429 : Bhatara Prabhustri Kusumawardhani meninggal dunia. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1437 : Bhre Daha Dyah Suhita menjadi raja Majapahit, bergelar Bhattara Prabustri. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1447 : Bhattara Prabhustri Dyah Suhita meninggal dan digantikan adiknya yang bernama Dyah Kertawijaya sebagai raja Majapahit, bergelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana, menurut prasasti Waringin Pitu.

 

1451 : Sri Kertawijaya meninggal dan digantikan oleh Rajasawardhana Sang Sinagara menurut Pararaton, yang memiliki nama asli Dyah Wijayakumara, menurut prasasti Waringin Pitu.

 

1453 : Rajasawardhana meninggal dunia, tidak ada yang menggantikannya sehingga takhta Majapahit kosong selama tiga tahun. Berita ini terdapat dalam Pararaton.

 

1456 : Bhre Wengker naik takhta menjadi raja Majapahit, bergelar Bhattara Hyang Purwawisesa. Berita ini terdapat dalam Pararaton. Menurut prasasti Waringinpitu, tokoh Bhattare Wengker memiliki nama asli Girishawardhana Dyah Suryawikrama.

 

1466 : Bhre Pandansalas menjadi raja Majapahit. Berita ini terdapat dalam Pararaton. Menurut prasasti Pamintihan, tokoh ini bernama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana Sri Giripati Prasutabhupati Ketubhuta.

 

1478 : Pararaton memberitakan adanya raja yang meninggal di dalam kadaton. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang meninggal adalah Bhre Kertabhumi putra bungsu Sang Sinagara. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa yang meninggal adalah Dyah Suprabhawa.

 

1486 : Prasasti Petak dan prasasti Jiyu memberitakan adanya raja Majapahit bernama Sri Maharaja Prabhu Natha Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.

 

1513 : Armada Portugis datang ke Jawa, di mana juru tulisnya yang bernama Tome Pires mencatat bahwa raja Jawa saat itu bernama Batara Vojyaya yang beristana di Daha. Nama ini adalah ejaan Portugis untuk Bhattara Wijaya, yang secara berangsur-angsur tersimpan dalam ingatan masyarakat Jawa dengan pengucapan Brawijaya, yaitu raja terakhir Majapahit menurut versi fantasi.

 

1527 : Kedaton Daha runtuh oleh serangan Sultan Trenggana dari Demak. Kisah ini terdapat dalam naskah Babad Sengkala. Berakhirlah riwayat Kerajaan Majapahit.

 

Diunggah dari: akun FB Rakryan Purwa-anta Mpu Heri

Ditulis oleh: Heri Purwanto, 31 Oktober 2015.

Gambar Sampul: Ilustrasi karya Tjahja Tribinuka