Prasasti Bunul (Kanuruhan) menceritakan sebuah peristiwa pada 856 Saka (935 Masehi), bulan Posya (Desember-Januari), wuku Wukir atau tepatnya 4 Januari 935 Masehi) (Suwardono, 2011: 23). Dikatakan, seorang pejabat tinggi pemimpin wilayah Watek Kanuruhan bergelar Rakryān Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan anugerah kepada Sang Bulul berupa status sima (perdikan) pada daerahnya karena ia berjasa menanam daun bunga dan akarnya yang terapung. Yang dimaksud adalah bunga teratai yang berada di sebuah bangunan telaga (petirtaan).
Bunga teratai sangat disucikan oleh masyarakat Jawa Kuno. Dalam Hindu dan Buddha teratai lambang kesucian dan kemurnian (Istari, 2012: 803). Dengan demikian Sang Bulul telah melakukan perbuatan jasa yang sangat terpuji karena mendukung aktivitas keagamaan di daerahnya. Hal ini tentunya dapat dijadikan teladan oleh masyarakat pada masa kini.

Dengan adanya status sima tersebut, maka daerah milik Sang Bulul mendapatkan kebijakan dari kerajaan berupa potongan sebagian pajak untuk keperluan perawatan bangunan petirtaan tersebut. Sang Bulul kemudian juga meminta kepada Rakryān Kanuruhan Dyah Mungpang agar anugerah tersebut diabadikan pada sebuah monumen prasasti batu. Itulah yang tertulis di belakang arca Ganesha dari Desa Bunulrejo seperti yang ditemukan saat ini.

ganesha bulul

Ganesha Bulul

Dalam upacara penetapan status sima tersebut, juga diberikan hadiah-hadiah (pasêk-pasêk) kepada para saksi yang hadir, di antaranya kepada para pimpinan dari pejabat tinggi di [watak] Kanuruhan (Juru i Kanuruhan) yang berjumlah sembilan orang, masing-masing berupa emas 1 keping dengan berat 4 māsa. Selanjutnya saksi yang berasal dari para patih yang berjumlah enam belas orang, masing-masing berupa emas 1 keping dengan berat 8 māsa.

Bangunan petirtaan yang lengkap dengan bunga teratainya merupakan peneguh daerah milik Sang Bulul menjadi sima hingga masa mendatang. Sang Bulul dan masyarakatnya wajib untuk menjaga bangunan tersebut. Pada penetapan sima tersebut juga dibacakan sumpah kutukan (sapatha) bagi para pengganggu dan perusak bangunan anugerah dari Rakryān Kanuruhan Dyah Mungpang, yaitu akan pañcamahāpātaka (lima dosa besar) termasuk tenggelam di dalam air.

Peresmian sima tersebut ditutup oleh pimpinan atau ketua para abdi (pengiring atau pembantu) bernama Sang Padma. Tinggalan arkeologis bangunan petirtaan yang dimaksud dalam Prasasti Bunul menurut penelusuran yang dilakukan oleh Suwardono (2011: 23) masih pernah dijumpai di daerah Beji, Kelurahan Bunulrejo. Namun pada 1960-an telah hilang karena diuruk tanah oleh pemilik tanah.

Nama tokoh Sang Bulul seperti yang disebutkan dalam prasasti kemudian menjadi cikal-bakal nama Desa Bunulrejo. Konsonan “l” kadang memang bersinggungan dengan konsonan “n” pada sebuah kata dalam Bahasa Jawa. Misalnya dalam Kitab Pararaton terdapat kata Panawijen yang saat ini menjadi Daerah Palawijen yang berada di Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Dengan demikian “Bulul” menjadi “Bunul”, yang diikuti kata “rejo” sehingga menjadi “Bunulrejo” masih dianggap wajar.***
Daftar Pustaka

Istari, R. 2012. “Ragam Hias Candi-candi di Jawa Tengah,” dalam Arkeologi untuk Publik, hlm. 793-805. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Suwardono, 2011. Kepurbakalaan di Kota Malang: Koleksi Arca dan Prasasti. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang.

**************

Laporan dan foto: Ardliansyah Tsani Ghozali

 

Diunggah dari: hurahura.wordpress.com

Ditulis oleh: Ardliansyah Tsani Ghozali

Judul Asli: Nama Desa Bunulrejo Berasal dari Tokoh Sang Bulul

Gambar Sampul: Bagian belakang Ganesha Bulul