Saat ini jika kita melihat bantaran Sungai Brantas di Kota Malang, nyaris semuanya dipenuhi dengan kekumuhan. Sampah, kotoran manusia, limbah pabrik, dan pemukiman kumuh sepertinya merupakan satu-kesatuan yang tak bisa dipisahkan dengan Brantas.

Jika menilik sejarah kali terpanjang di Jawa Timur, tentu kondisi yang sekarang ini sangat jauh dengan era kolonial Belanda, apalagi jika kita bandingkan dengan masa kerajaan. Saat itu, Brantas benar-benar merupakan sungai yang bersih. Brantas merupakan sumber kehidupan bagi habitat air dan manusianya.

Dwi Cahyono, sejarahwan dari Universitas Negeri Malang menjelaskan, pada era kerajaan, sungai mempunyai arti cukup penting bagi manusia. Bahkan, bisa dibilang sungai sangat dihormati dan mempunyai nilai keramat khusus.

Karenanya, pada era Kerajaan Singhasari masa Wisnuwardhana hingga Kertanegara, pusat kerajaan diletakkan di dekat Brantas, tepatnya di daerah Kutobedah.

“Istana diletakkan di dekat Brantas karena sungai dianggap mempunyai peran penting. Selain sebagai pemasok air bersih, sungai juga dijadikan sarana untuk meningkatkan pertanian,” kata Dwi.

Menurutnya, sungai di Malang mempunyai demografi yang berbeda dengan sungai-sungai di daerah lainnya. Karakter sungai di Malang dipenuhi dengan jurang dan bebatuan. Karenanya, pada masa kerajaan, sungai tidak dijadikan pemukiman.

Kalaupun ada bangunan, terang dia, lebih ditujukan untuk pemandian umum atau patirtan. Dan sampai saat ini, masih ada rekam jejak patirtan-patirtan era kerajaan di Malang. Jejak-jejak tersebut bisa ditemukan di Tlogomas, Betek, Oro-Oro Dowo, Samaan, kawasan Jalan Soekarno-Hatta.

Sama halnya dengan sekarang, sungai di Malang pada era kerajaan dulu juga tidak bisa dijadikan sebagai sarana transportasi. Karena selain kondisinya yang berbatu, arusnya juga deras.

Sungai Brantas, terang Dwi juga mempunyai banyak prasasti. Salah satunya adalah Prasasti Harinjing (921 M). Prasasti dimasa Mpu Sindok ini menerangkan bahwa ada perbaikan dawuhan atau bendungan yang telah dibuat dari masa sebelumnya (804 M). Prasasti Harinjing ditemukan di hulu Sungai Konto (anak Sungai Brantas).

“Di Sengkaling, di Dusun Dawuhan (Desa Tegalgando, Kecamatan Karangploso), itu juga ada irigasi peninggalan era kerajaan. Dan diperbaiki oleh Belanda,” ucap Dwi.

Disamping memperbaiki “dawuhan” di Sungai Brantas, Mpu Sindok juga diperkirakan membangun pusat kerajaannya tidak jauh dari Sungai Brantas. Ibu kota Kerajaan Medang, kerajaan yang didirikan Mpu Sindok, yang dinamakan Kahuripan diperkirakan di sekitar Sungai Brantas, tepatnya di daerah Nganjuk, menurut tafsiran Prasasti Anjuk Ladang

Pada masa raja Airlangga, perhatian terhadap Sungai Brantas juga terus diperhatikan. Prasasti Kamalagyan (1037) yang dikeluarkan Airlangga menerangkan tentang pendirian bangunan air di Waringin Sapta. Bendungan tersebut memiliki arti penting untuk mencegah banjir.

Sedangkan pada masa kolonial, Sungai Brantas juga mempunyai peranan penting. Belanda berusaha meneruskan usaha pada era kerajaan, berupa pembuatan kanal-kanal. Kanal tersebut diantaranya meluruskan sungai dan bendungan. Belanda melakukan hal tersebut dengan tujuan mengurangi potensi banjir.

Selain mengurangi banjir, Belanda juga banyak membangun pabrik gula di daerah aliran Sungai Brantas. “Belanda itu mempunyai budaya air yang sangat kuat. Jadi mereka bisa menata sungai dengan baik. Bantaran-bantaran sungan seperti di sekitar Splendid dibuat jadi indah,” terang Dwi.

Perubahan pada sungai berubah drastis setelah Indonesia merdeka. Pemukiman mulai bermunculan di sekitar bantaran sungai pada era 1950 an. “Namun, puncak banyaknya pemukiman terjadi pada tahun 1980 an. Tak hanya rumah, di pinggiran sungai juga mulai bermunculan industri-industri,” sambungnya.

Karena pemukiman tidak ditata dan tanpa sepengetahuan pemerintah daerah, maka kawasan tersebut menjadi area yang kumuh. Banyaknya rumah dan perusahaan yang ada di bantaran kali membuat Brantas tak lagi indah.

Itu karena masyarakat yang tinggal di pemukiman sekitar sungai membuang sampah dan limbah organiknya ke sungai. Demikian pula dengan perusahaan, mereka membuang limbah kimianya ke sungai.

Kumuhnya pemukiman di sekitar sungai Kota Malang ini tak bisa tertangani dari tahun ke tahun. Tentu akan banyak efek sosial jika pemukiman yang sudah terlanjur menjamur tersebut dibongkar.

Namun, dengan kekreatifan Pemkot Malang di bawah kepemimpinan Moch. Anton, kini kawasan kumuh tersebut, perlahan tapi pasti diubah menjadi destinasi wisata. Sudah ada tiga kawasan kumuh pinggir kali yang diubah. Jodipan jadi kampung warna-warni, Ksatrian jadi kampung Tiga Dimensi (3D), Klojen jadi Kampung Putih.

Diharapkan, dengan menjadi destinasi wisata, Sungai Brantas yang saat ini kotor, ke depan akan menjadi bersih lagi. Seiring dengan revolusi mental yang dialami warganya.

 

Diunggah dari: jatimtimes.com

Tautan asli: http://www.jatimtimes.com/baca/152068/20170324/182938/zaman-raja-sungai-keramat-era-kolonial-sungai-indah-kini-jadi-kumuh–/

Ditulis oleh:

Pewarta : Imam, Anggoro, Hendra
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : debyawan erlansyah

Judul asli: Zaman raja sungai keramat era kolonial sungai indah kini jadi kumuh

Gambar sampul: ilustrasi dari malangtimes.com