Masyarakat Jawa kuno adalah masyarakat yan religius, segala peristiwa penting selalu disertai dengan suatu upacara. Di dalam upacara inilah bermacam-macam kegiatan dapat ditemukan, apakah itu berupa rangkaian upacaranya, benda-benda sajian, mantra-mantra, kutukan, atau tindakan pemimpin upacara dalam melaksanakan upacara yang berlangsung.

Di samping hal-hal tersebut, kesenian yang hidup pada masa Jawa kuno, khususnya seni pertunjukan, tidaklah semudah membicarakan kesenian yang ada pada masa kini, sebab pertunjukan kesenian pada masa sekarang masih dapat disaksikan. Sedangkan pertunjukan kesenian pada masa lalu, bukti-bukti yang masih tertinggal hanyalah berupa tulisan-tulisan yang terdapat dalam suatu prasasti, kitab kesastraan dan yang terpahat dalam relief-relief.

Prasasti adalah sumber-sumber sejarah dari masa lalu yang tertulis di atas batu atau lempengan logam, biasanya tidak meriwayatkan sesuatu peristiwa secara lengkap, melainkan hanya memperingati suatu kejadian secara singkat saja (Haryono;1980;35). Salah satu di antaranya adalah prasasti yang menyebutkan pemberian anugerah kepada pejabat desa atau perorangan berupa tanah dengan status sima atau perdikan.

Dalam prasasti semacam inilah, pertunjukan kesenian biasanya disebutkan pula. Sedangkan yang dimaksud dengan sima adalah sebidang tanah baik berupa sawah, kebun, desa atau beberapa desa, taman, bahkan ada kalanya hutan, karena sesuatu hal dijadikan daerah perdikan.

Prasasti tentang penetapan sima atau daerah perdikansecara terperinci menerangkan hal-hal yang diperoleh pemegang status tersebut dengan atau tanpa kewajiban tertentu kepada raja atau pemberi status. Yang paling penting adalah status perdikan itu berlaku untuk selamanya dan tidak boleh diubah oleh siapa saja termasuk oleh raja-raja yang akan memerintah daerah tersebut di kemudian hari (Suhadi, 1983: 151). Kriteria dalam menetapkan suatu desa atau tanah/wilayah menjadi sima atau desa perdikan, bukan hanya disebabkan karena jasa seorang raja, tetapi juga ada pilihan lain yang diperhitungkan dan dianggap memenuhi syarat.

Pada umumnya prasasti merupakan dokumen resmi yang dikeluarkan oleh raja atau pejabat tinggi kerajaan. Sebagian besar prasasti berisi keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi sima.

Peristiwa pemberian sima pada umumnya berkaitan dengan pemberian anugerah dari seorang raja atau bangsawan kepada seseorang atau sekelompok orang berupa pembebasan pajak kepada negara dengan tujuan hasil pajak tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan bangunan suci, memelihara sarana umum atau sebagai balas jasa (Maulana, 1993: 65). Setiap penetapan sima disertai dengan upacara yang bersifat magis religius dan menghabiskan biaya besar, antara lain dipergunakan untuk pemberian pasak-pasak (pisungsung) kepada para pejabat dan para hadirin, biaya sajian, biaya pesta dan kesenian (Darmosoetopo,1991:17).

Rupanya disamping dengan penuh hikmat mengikuti pelaksanaan upacara penetapan sima, dan memperingati peristiwa yang bersejarah tersebut, tidak ada salahnya apabila mereka berpesta dengan menampilkan kesenian dan sebagainya. Acara kesenian biasanya dilakukan setelah upacara inti selesai. Dengan ditetapkannya suatu desa/tanah menjadi sima merupakan hal yang menggembirakan bagi penduduk atau kelompok masyarakat yang menerimanya. Hadirin yang mengikuti upacara biasanya terdiri dari pejabat tinggi kerajaan, pejabat desa, masyarakat desa yang bersangkutan , dan para undangan dari desa-desa sekitarnya. Upacara dipimpin oleh seorang pejabat keagamaan yang disebut Saŋ Pemgat Makudur atau Saŋ Wahuta Hyaŋ Kudur.

Seusai upacara, para hadirin menikmati hidangan yang disuguhkan bersama-sama dan dilanjutkan dengan acara kesenian. Tidak semua prasasti penetapan sima menyebutkan adanya kegiatan kesenian.

Kemungkinan mengenai hal ini adalah, setelah upacara inti berakhir maka selesailah sudah upacara itu, hanya ada pesta sederhana tanpa dilanjutkan dengan acara kesenian. Kemungkinan lain, setelah upacara inti berakhir, acara dilanjutkan dengan acara kesenian, meskipun kegiatan tersebut tidak dituliskan dalam prasasti. Penyelenggaraan kesenian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: penting tidaknya status tanah yang akan dijadikan sima, pejabat yang menetapkan sima, dan kemampuan masyarakat dalam membiayai penyelenggaraan upacara penetapan sima tersebut.

Prasasti-prasasti yang menyebutkan adanya kegiatan kesenian khususnya keberadaan seni tari ditunjukkan dalam prasasti dengan kata mańigal, angigěl, inigĕllakan (dari kata dasar igěl = tari). Tidak banyak informasi yang diperoleh dari sumber tertulis tentang jenis-jenis tarian pada masa itu, di antaranya seperti yang disebutkan dalam Prasasti Rukam, Prasasti Taragal, Prasasti Paňgumulan, Prasasti Wukajana, Prasasti Taji, dan Prasasti Paradah.

Kutipan Prasasti-prasasti tentang Adanya Kegiatan Seni Tari

Prasasti Rukam 829 Saka / 907 Masehi (Nastiti, 1982: 26):

II. (19) … i sampun yan mańka (20) na manamwah ikanaŋ patih wahuta muaŋ rāma tpi siring muaŋ rāma sinusuk laki-laki wadwan kabaih i sanghyaŋ watu sima muaŋ kulumpa umņwah sira kabaih i ron nira sampun muwah sira

(21) mańigal mabata bata kapua mahyun nāhan cihna nyan sampun mapagě suddha pari suddha ikanaŋ wanua i rukam sinusuk de rakryān saňjiwana nini haji manasĕa i dharmma nira i ……

Terjemahan:

(19) … setelah selesai Sang Makudur mengutuk (20) maka menyembahlah (seluruh hadirin seperti) patih, wahuta, pejabat desa dari desa perbatasan, pejabat desa yang telah dibatasi, laki-laki, perempuan semuanya kepada Sanghyang Watu Sima dan Kulumpang. Kemudian mereka menambah (makanan) pada daunnya. Setelah itu mereka menari

(21) berjoged, bersuka ria bersama. Demikianlah tandanya (bahwa) Desa Rukah telah selesai dikukuhkan menjadi daerah perdikan oleh Rakryan Sanjiwana, neneknda raja, yang akan mempersembahkan dharmanya di….

Prasasti Taragal 802 Saka/879 Masehi (Koleksi Museum Sanabudaya, Yogyakarta; dibaca oleh Boechari pada tahun 1971: 23):

I.b. (9) … i ka (10 ) na taņ rāma i ruhutan kabaih, matuha manuam muang anakbi matuha winaih mamaňana maninumma tumūt i tpi siriŋ

II.a.  (1) i kanaņ winaih wdihan kapua maňigal maparimwani kabaih //….

Terjemahan:

I.b. (9) … sedangkan (10) para tamu di ruhutan semua, tua-muda, dan para istri tua muda diberi makanan dan minuman ikut (pula) desa di sekeliling perbatasan

II.a. (1) di sana diberi kain semua menari yang membantu semua ….

Prasasti Pańgumulan 824 Saka/902 Masehi (Nastiti, 2003: 136):

III. a. (20) … samańkanaŋ inigěllakan hana mapadahi marěggaŋ si catu rama ni kriyā mabrĕkuk si

III. b. (1) wāra rama ni bhoga winaih wdihan sahlai mas mā 1 iŋ sowaŋ sowaŋ // mulāpaňjut 4 si mā rama ni kutil si mańol si sāgara si mandon winaih mas ma 1 iŋ sowaŋ sowaŋ. Mūlawuai

(2) si mari winaih mas ku 1 si paracan mabańol winaih pirak mā 4 …. (3) … // mamańan mańinuŋ saŋ patih wahuta muaŋ

(4) ramanta rainaņta muaŋ ńanak wanua kabaih laki-laki waduan matuha rarai milu mahantyan tar hana kāntun kapwa mamańan maninum mańigal kapua umtuakan inak ni amwĕk nira ….

Terjemahan:

III. a. (20) … ada pun yang akan ditarikan ada penabuh kendang, pemimpin dari penabuh gamelan bernama si Catu ayahnya Kriya, juru kenong bernama si

III. b. (1) wara ayahnya Bhoga mereka diberi sehelai bebed dan emas 1 masa masing-masing // Petugas lampu pada waktu upacara penetapan sima (mulapanjut) 4 orang, yaitu si Ma ayahnya Kutil, si Manol, si Sagara, si Mandon diberi emas 1 masa masing-masing. Petugas menyiapkan air pada waktu upacara penetapan sima (Mulawuai)

(2) bernama si Mari diberi emas 1 kupang, pelawak bernama si Paracan diberi perak 4 masa … (3) … // Makan dan minumlah sang patih, wahuta, dan

(4) para rama serta ibu-ibu dengan penduduk desa semua, pria wanita, tua dan muda, ikut berganti-ganti tidak ada yang ketinggalan, semuanya makan, minum, menari dan meminum tuak sampai senang hati ….

Prasasti Wukajana (tidak berangka tahun, tetapi menurut perhitungan Damais berasal dari tahun 830 Saka/ 908 Masehi) (Kartakusuma, 1983: 181):

(9) … Kahlamannya hinyunnakan tontonan mamidu sang tamkil hyang si nalu macaritta bhimma kumara mangigal kica

(10)  ka si jaluk macarita rāmāyana mamirus mabańol si mukmuk si galigi mawaya buat thyaŋ macarita Bhimma ya kumara matĕher maŋhyuňakan sa(11)  ŋ kapua rāmanta tpi siriŋ kabaih ….

Terjemahan:

(9) … kemudian diminta diadakan pertunjukan menyanyi oleh sang tangkil hyang si Nalu dengan cerita Bhima Kumara sambil menari memerankan tokoh Kica-

(10)  -ka. Si Jaluk membaca cerita Ramayana, yang melawak ialah si Mukmuk dan si Galigi mendalang dengan cerita Bhima Kumara, melanjutkan kehendak

(11)  para rama semua dari desa perbatasan semua … (Darmasoetopo, 1986: 524).

Prasasti Taji 823 Saka/901 Masehi (Haryono, 1980: 7):

a. (9)  … i sampun tanda rakryān masawungan mańigel ikanaŋ rāma kabeh molih (10) patang kuliling gumanti renanta mańigal ….

 Terjemahan:

a. (9) … Ketika Rakryan Masawungan selesai menari, para pejabat lainnya (10) berurutan bergantian ikut menari ….

Prasasti Paradah II 865 Saka/943 Masehi (OJO XLVIII B.46 dalam Marwati, 1984: 249):

(46) … i tlas niŋ manambah mańigal yathakrama tuwuŋ buńkuk gandiŋ rāwanahasta sampun sańkap ikaŋ iniga (47) lakan ….

 Terjemahan:

(46) … setelah selesai makan, menari sesuai dengan keahliannya dengan alat-alat gamelan berupa tuwung, bungkuk, ganding, rawanahasta, sesudah siap (47) ditarikan ….

Pada Prasasti Rukam, Taji, dan Taragal kegiatan kesenian tersebut hanya dapat kita ketahui dari kata mańigal yang berarti menari. Sudah barang tentu mereka menari menari dengan diiringi bunyi-bunyian dari gamelan.

Tari-tarian tersebut merupakan tarian bersama yang biasanya dilakukan sambil atau selesai makan-makan dan minum-minum. Seluruh hadirin, dari yang berpangkat tinggi sampai rendah, tua muda, laki-laki dan perempuan, dapat menarikannya bersama-sama.

Prasasti Panggumulan selain mengungkapkan adanya tarian bersama juga menyebutkan beberapa istilah bagi pemain gamelan beserta namanya, seperti mapadain (penabuh kendang) yang sekaligus merangkap sebagai mardwary (pemimpin dari para penabuh gamelan) dan mabrékuk (jurukenong) dan disebutkan pula mabanol yang berarti pelawak.

Hal ini menunjukkan bahwa di samping kesenian dan gamelan, juga terdapat pertunjukan lawak, meski belum dapat diketahui apakah pertunjukan lawak tersebut merupakan bagian dari pementasan suatu cerita atau lakon, wayang misalnya, atau hanya merupakan semacam seni dagelan saja.

Nama-nama tersebut temasuk dalam bagian pejabat dan orang-orang yang menerima pasak-pasak. Kurang jelas mengapa yang menerima pasak-pasak hanya kedua pemain gamelan dan seorang pelawak saja.

Apakah karena mereka pemimpin atau sebagai motor penggerak dan grup kesenian tersebut, atau mungkin pula mereka menerima pasak­-pasak tersebut karena kelihaiannya dalam memainkan alat musik yang dipegangnya? Sedangkan bagi si pelawak, ia dapat memainkan perannya dengan bagus sehingga memuaskan para penonton.

Dalam kegiatan kesenian, sering terdapat cerita yang dipertunjukkan dalam bentuk pementasan drama panggung. Pertunjukan ini ceritanya bisa diambilkan dari suatu naskah kuno, misalnya wayang orang atau wayang kulit mau pun pertunjukan yang tidak mengambil cerita dari naskah kuno seperti dagelan. (Darmosoetopo, 1986: 524). Seperti yang terdapat dalam Prasasti Wukajana yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung, diketahui bahwa cerita yang diambil dalam pertunjukan tersebut adalah Ramayana dan Mahabharata. Pertunjukan wayang biasanya menampilkan pelawak yang memerankan tokoh punakawan. la selalu digambarkan dalam wujud pendek, gemuk, perut buncit, bibir tebal, sehingga memberi kesan lucu dan diasumsikan sebagai pengiring kesatria.

Di samping itu terdapat pula bentuk kesenian yang lain, yaitu mamidu atau menyanyi, hanya saja nyanyian tersebut mengandung makna cerita Bhima Kumara yang dipetik dari bagian “Wirataparüa” dalam epos Mahabharata, dan dinyanyikannya sambil menari (Marwati, 1984: 248).

Prasasti Paradah II rnenyebutkan ada tari-tarian yang dapat ditarikan bersama oleh laki­-laki dan perempuan, orang tua dan muda, dan rnenyebutkan beberapa jenis alat musik khusus, seperti emu, buiikuk, gander, dan ravvanahasta.

Jenis-jenis alat gamelan tersebut tentunya mengiringi suatu bentuk kesenian tarian atau sebagainya, seperti misalnya tari topeng (mitapukan, manápal, ménmèn), melawak (abanwal, amirus), yang sernuanya diiringi gamelan.

Pertunjukan kesenian pada jaman dahulu sebenarnya pemah ditulis secara lengkap oleh Th. Pigeaud dalam bukunya yang berjudul Javaanse Voikvertoningen, Biflage tot de Bescrijving van land en volk, yang juga menyinggung tentang pertunjukan kesenian pada zaman Majapahit (Kartoatmodjo, 1979: 73).

Melalui relief-relief pada candi dapat diketahui sedikit gambaran tentang bagaimana gaya atau peragaan tarian pada zaman dahulu. Sebagai contoh relief yang banyak ditemukan di Candi Prambanan dan Candi Borobudur, antara lain ada yang menggambarkan suatu tarian perang, atau seorang wanita yang menari sendirian, diikuti oleh beberapa orang laki-laki sambil bertepuk tangan sebagai iringan musiknya. Sebagaimana diketahui, dari zaman dahulu sampai sekarang pun, pertunjukan tari dapat dibedakan menjadi dua macam: pertunjukan kesenian kalangan keraton/istana dan kesenian rakyat. Tentu saja istilah kesenian keraton tidak berarti tertutup sama sekali untuk rakyat, tetapi dipertunjukkan pada peristiwa penting seperti halnya pemberian sima oleh raja atau pejabat kerajaan. Sedangkan kesenian rakyat, seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Poh tahun 827 S (904 M) yang menyebutkan: gadis yang berkeliling untuk ditonton dengan pengiringnya (orang laki-laki), mungkin semacam tefedek yang mengamen berkeliling dari desa satu ke desa lainnya (Marwati, 1984: 249).

Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa penyelenggaraan kegiatan kesenian pada tiap-tiap daerah penetapan sima, tidak sama. Ada daerah yang sama sekali tidak rnenyelenggarakan kegiatan kesenian, menyelenggarakan kesenian sederhana, hanya dengan kesenian garnelan dan tarian, mau pun rnenyelenggarakan kesenian lengkap dengan pertunjukan seperti wayang orang, wayang kulit, dan dagelan. Semuanya itu tergantung dari kemampuan masyarakat desa yang menyelenggarakannya. Narnun, pada dasarnya penyelenggaraan kesenian terutarna yang lengkap selalu terdiri atas unsur gamelan, nyanyian, dan cerita yang dipentaskan atau dipertunjukkan.

Kepustakaan

Darmosoetopo, Riboet. 1986. Arti dan Fungsi Simbol dalam Masyarakat Jawa Kuna. Pertemuan
Ilmiah Arkeologi IV. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala, Depdikbud.

Darmosoetopo, Riboet: 1991. Dampak Kutukan dan Denda Terhadap Penetapan Sima pada Masyarakat Jawa Kuna: Analisis Hasil Penelitian Arkeologi. Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik: Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala, Depdikbud.

Timbul. 1980. Gambaran Tentang Upacara Penetapan Sima. Majalah Arkeologi Th. III No. 1-2. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kartakusuma, Richadiana. 1983. Alat-alat Upacara dan Presasti-presasti pada Masa Rakai Watukura
Dyah Belitung. 
Jakarta: REHPA I, Puslit Arkenas.

Kartakusuma, Richadiana: 1994-1995 Tinfauan Kembali Isi Prasasti Poh (827 öaka/907 Masehi) Sedikit Catatan Tentang Alasan Pemilihan Suatu Daerah Perdikan: Analisis Hasil Penelitian Arkeologi. Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala.

Kartoatmodjo. Sukarto, M.M. 1979. Struktur Masyarakat Jawa Kuna Pada Jaman Mataram Hindu dan Majapahit: Yogyakarta:Pusat Penelitian dan Studi Pedesaan & Kawasan, Universitas Gadjah Mada.

Marwati, Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka, Depdikbud.

Maulana, Ratnaesih. 1993. Siva dalam Berbagai Wujud: Suatu Analisis Ikonografi di Jawa Masa
Hindu-Buddha. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nastiti, Titi Surti, dkk. 1982. Tiga Prasasti Masa Banning. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala, Depdikbud.

Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Suhadi, Machi. 1983. Status Tanah/Desa Perdikan di Jawa. Jakarta: REHPA I, Puslit Arkenas.

 

Diunggah dari: Wacana.co

Judul asli: Seni Tari pada Upacara Penetapan Sima Berdasarkan Prasasti Abad ke-9 dan ke-10

Penulis: TM Rita Istari

Gambar sampul: …ilustrasi iklan tempoe doeloe