Ada banyak versi cerita tentang Arca Thotok Kerot, mulai dari yang logis sampai mistis. Saya memilih versi milik kawan saya Aji Prasetyo yang juga sudah dibuatkan komiknya sebagai berikut:

” Kisah ini dicomot dari salah satu fragmen di Kitab Babad Nagari Kadhiri, dan saya tuturkan ulang secara bebas di sini.

Siang itu warga Kadhiri digemparkan munculnya sesosok rasaksi (raksasa perempuan) di tengah pemukiman. Warga pun kacau balau menyelamatkan diri. Raksasa dikenal sebagai makhluk besar buas yang gemar memangsa daging manusia. Mereka tinggal di pedalaman hutan yang tak terjamah.

Kemunculan raksasa, walaupun hanya sesosok, sudah pasti membuat seisi kota panik. Warga berusaha mengusir makhluk itu. Mereka melemparinya dengan batu. Ada pula yang menggunakan bambu panjang. Jumlah warga yang mengepungnya tak terhitung. Bahkan ada yang berusaha mencari bantuan dari kampung terdekat. Saat ratusan manusia bersenjatakan bambu-bambu tajam mulai merangsek maju, rasaksi itu pun mulai panik. Tangan kirinya memeluk erat sebuah keranjang. Tangan kanannya sibuk melindungi tubuh dari hujan batu dan batang-batang bambu yang ditodongkan dari segala penjuru. Beberapa lemparan batu berhasil mengenai kepalanya. Darah mulai mengalir memenuhi mata dan pipinya. Rasaksi itu menjerit kalap. Tangannya mengayun ke segala arah. Beberapa orang tubuhnya terpental. Namun pengeroyok tidak kunjung berkurang. Malah bala bantuan mulai berdatangan. Dengan tubuh yang dipenuhi luka dan beberapa batang tombak masih menancap di tubuh, rasaksi itu tetap gigih melawan. Ratusan tombak, ratusan batu, ratusan sorak sorai manusia, dan Rasaksi pun ambruk. Warga belum juga puas, batu dan bambu masih terus dihujamkan ke tubuh besar yang terbaring pasrah.

Ki Buta Locaya menghentikan warga yang kalap. Tubuh besar bersimbah darah itu perlahan didekatinya. Kepada tubuh itu dia bertanya lantang.

“Dari mana asalmu?” Rasaksi melirik lemah ke arah Locaya. “Lodoyong,” bisiknya, “tepi laut selatan.” (mungkin yang dimaksud adalah Lodaya, Blitar) “Apa maksudmu masuk ke wilayah kami?” Rasaksi menjawab lirih, “Aku ingin melamar Sang Prabu Sri Aji Jayabaya,” susah payah ia mengatur nafasnya, “akan kujadikan junjunganku, suamiku.”

Ki Buta Locaya tertegun. Ditolehnya keranjang yang tergolek di sisi tubuh rasaksi. Isinya berserakan di mana-mana. Buah buahan, juga perhiasan. Keranjang itu yang sedari tadi dilindungi mati-matian dalam dekapan rasaksi saat tubuhnya dihujani batu dan bambu.

Beberapa saat kemudian Sang Prabu tiba di tempat kejadian. Memandang dari kejauhan, mata rasaksi berbinar menatap kehadiran pria agung itu. Sang Prabu mendekati Tubuh besar yang terbaring lemah. Tersenyum sambil menatap wajah sang rasaksi. Perlahan diusapnya dengan lembut darah di wajah kotor penuh luka tersebut sambil berbisik. “Kali ini takdir Dewata tidak berpihak padamu. Tapi ketahuilah, kau akan segera bertemu dengan jodohmu.” Sang Prabu melanjutkan, “20 tahun setelah kematianku nanti, di sisi barat Negeri Kadhiri akan berdiri sebuah kerajaan yang ibukotanya bernama Prambanan. Nama Rajanya adalah Prawatasari. Dialah jodohmu kelak di kehidupanmu berikutnya.” Mata sang rasaksi tetap tidak bergerak. namun kilaunya mulai surut. Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Selepas peristiwa itu, Sang Prabu memberi nama tempat itu Gumurah, yang berarti kegaduhan (sekarang bernama Gurah). Beliau juga memerintahkan untuk dibuat patung untuk mengenang rasaksi itu. Patung itu dinamakan Patung Nyai. Desa tempat patung itu berdiri dinamakan Desa Nyaen.

Baik, sekarang mari kita membahas tentang Babad Kadhiri, kitab yang didalamnya terdapat fragmen kisah di atas.

Babad ini lahir baru di tahun 1832, dua tahun setelah Perang Diponegoro berakhir. Ditulis atas permintaan Pemerintah Hindia Belanda kepada pejabat Beskal (Jaksa Ageng) Kota Kediri yaitu Mas Ngabehi Purbawijaya.Sang Beskal diminta untuk menyusun kitab sejarah Kerajaan Kediri. Untuk memenuhi tugas tersebut, Mas Ngabehi Purbawijaya minta bantuan seorang dalang wayang klithik asal Mojoroto, Ki Dermakanda. Mereka berdua sepakat untuk menghadirkan roh Ki Buta Locaya ke tubuh seorang pengrawit. Keterangan dari ‘roh Buta Locaya’ inilah yang nantinya dijadikan dasar untuk menyusun Babad Kadhiri.

thotok-kerot-jawakuno

Kondisi patung Thotok Kerot sekarang Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Penuturan orang kesurupan tentulah tidak bisa dijadikan rujukan ilmiah bagi para penelitian sejarah. Terbukti dengan didapatinya banyak perbedaan data jika dipadukan dengan sejarah umum, yang didasari oleh pengkajian prasasti, literatur kuno dan lain-lain.

Misalnya, versi Babad kadhiri menyebutkan bahwa Buta Locaya mengaku sebagai orang pertama yang membabat hutan Kediri yang lantas menjadikannya sebagai pemukiman, dengan Prabu Jayabaya sebagai raja pertamanya.

Dalam versi sejarah umum, Jayabaya bukanlah raja pertama di wilayah Kadhiri. Sebelumya terdapat nama Raja Airlangga, Mapanji garasakan, Mapanji Alanjung, Sri Maharaja Samarothasa, Raja Baweswara, barulah kemudian turun ke Sri Aji Jayabaya.

Maka marilah kita sepakati, bahwa racauan orang kesurupan boleh ngomong apa saja. Tidak perlu kita yakini kebenarannya. Namun kemudian muncul satu pertanyaan baru. Bahwa fragmen di atas diambil dari Babad Kadhiri, hasil racauan orang kesurupan itu. Di sana disebutkan dengan gamblang tentang dibuatnya patung Nyai setinggi lebih dari tiga meter dengan wajah seperti arca gupala, dan mata sebesar lepek (alas cangkir).

Lantas di tahun 1981, di perbatasan Kecamatan Gurah Kediri, ditemukan sebuah patung raksasa yang kelak populer dengan nama Patung Thothok Kerot. Saat ditemukan, patung itu terbenam di tanah hingga sebatas dada. Tinggi patung itu ditaksir lebih dari tiga meter. Ciri-ciri fisik dan lokasi patung itu persis seperti yang dideskripsikan dalam Babad Kadhiri. (catatan; Patung itu akhirnya digali dan lantas dipindahkan, setelah sebelumnya sempat mengalami pengrusakan oleh tangan-tangan jahil).

Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa racauan orang kesurupan di tahun 1832 bisa mendeskripsikan sebuah patung, yang baru akan ditemukan orang di tahun 1981?”

Komik yang melengkapi tulisan ini bisa dibaca di sini.

 

Dimuat ulang dari tulisan kawan Aji Prasetyo dari akun FB.